KEDIRI, JADIKABAR.COM – Laga penuh tensi tersaji ketika Persik Kediri harus puas berbagi angka setelah ditahan imbang 2-2 oleh PSIM Yogyakarta pada pekan ke-21 BRI Super League 2025/26, Jumat (13/2). Pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Joko Samudro itu menyuguhkan duel terbuka dengan banyak peluang emas dari kedua tim.
Persik yang dikenal dengan julukan Macan Putih tampil agresif sejak awal. Dominasi permainan terlihat dari penguasaan bola dan intensitas serangan yang terus menekan lini pertahanan lawan. Jon Toral membuka keunggulan pada menit ke-31, sebelum PSIM membalas lewat Ezequiel Vidal enam menit berselang.
Babak kedua berjalan semakin panas. Ezra Walian kembali membawa Persik unggul lewat titik penalti pada menit ke-57. Namun keunggulan itu hanya bertahan lima menit setelah Vidal mencetak gol keduanya dan mengunci skor menjadi 2-2.
Persik sebenarnya memiliki peluang untuk menutup laga dengan kemenangan. Sepakan Ernesto Gomez dan Rodrigo Dias sempat mengguncang stadion, tetapi keduanya hanya membentur mistar gawang yang dikawal Cahya Supriadi. Di menit tambahan waktu, peluang emas dari Imanol Garcia dan Jon Toral juga gagal menemui sasaran.
Pelatih Marcos Reina Torres mengaku kecewa dengan hasil akhir, meskipun ia melihat perkembangan positif dari performa tim.
“Kami tidak senang dengan hasil ini. Kami bermain lebih baik dan memiliki beberapa peluang terbaik. Seharusnya bisa menang. Namun, karena kesalahan kecil, kami kehilangan dua poin,” ujarnya.
Meski gagal meraih kemenangan, ia menilai fondasi permainan tim terus menunjukkan kemajuan.
“Ada banyak hal positif. Tim menampilkan permainan yang sangat bagus. Kami adalah tim yang masih dalam proses pembangunan dengan banyak pemain baru. Setiap pekan kami akan terus berkembang,” katanya.
Menurut Marcos, keputusan untuk tidak melakukan banyak pergantian pemain diambil karena ia percaya komposisi di lapangan masih cukup kuat untuk mencetak gol penentu.
“Saya tak mengganti pemain baru, karena saya yakin pemain yang ada bisa mencetak gol ketiga. Sayangnya, peluang yang tercipta belum bisa dimaksimalkan,” jelasnya.
Persik Kediri merupakan salah satu klub dengan sejarah kuat di sepak bola nasional, pernah menjuarai kompetisi kasta tertinggi Indonesia pada era awal 2000-an. Basis suporter fanatik dan tradisi kompetitif membuat Persik selalu menjadi tim yang disegani, terutama saat bermain agresif seperti yang terlihat dalam laga ini.
Sementara PSIM Yogyakarta dikenal sebagai klub bersejarah yang lahir dari semangat perjuangan sepak bola era pra-kemerdekaan. Pertemuan kedua tim selalu menghadirkan aroma klasik sepak bola Indonesia: keras, cepat, dan penuh determinasi.
Hasil imbang ini menjaga persaingan papan tengah tetap ketat. Persik masih memiliki peluang memperbaiki posisi klasemen jika mampu lebih efektif memaksimalkan peluang pada laga-laga berikutnya.












