Harga Perak Naik Tertinggi 2025, Permintaan Industri Melonjak

Harga perak dunia tembus USD 52,18 per ounce. Permintaan industri dan defisit pasokan dorong harga perak global dan Indonesia naik tajam tahun 2025.

Avatar photo
Harga Perak Naik Tertinggi 2025, Permintaan Industri Melonjak
Foto: Harga Perak Naik Tertinggi 2025, Permintaan Industri Melonjak

JadiKabar.com – Harga perak dunia kembali mencatat lonjakan signifikan. Berdasarkan data dari Trading Economics, harga perak global mencapai USD 52,18 per troy ounce atau sekitar 31,1 gram pada 13 Oktober 2025. Angka tersebut naik sebesar 3,77 persen dari hari sebelumnya. Dalam satu bulan terakhir, kenaikannya mencapai 22,22 persen dan tercatat naik 67,07 persen dibandingkan tahun lalu. Di Indonesia, menurut data dari Exchange-Rates.org, harga perak per gram telah menyentuh puncak Rp 27.867 pada 13 Oktober 2025. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, harga perak dalam negeri mengalami kenaikan sebesar 78,14 persen.

Kenaikan harga perak ini dipengaruhi oleh beberapa faktor fundamental yang saling berkaitan. Perak tidak hanya digunakan sebagai logam mulia untuk perhiasan, tetapi juga memiliki peran besar dalam sektor industri, terutama pada bidang elektronik, panel surya, sirkuit cetak, dan perangkat sensor. Sekitar separuh permintaan global perak berasal dari industri tersebut. Permintaan yang meningkat, terutama dari sektor energi terbarukan dan teknologi hijau, mendorong harga perak ke level yang lebih tinggi.

Sementara itu, pasokan perak global terbatas karena sebagian besar produksi logam ini merupakan hasil sampingan dari penambangan tembaga, timbal, dan seng. Defisit pasokan menjadi pendorong utama kenaikan harga. Laporan pasar menyebutkan bahwa stok perak di pusat perdagangan dunia seperti London mencapai level terendah dalam sejarah. Kondisi ini memicu premi tambahan serta persaingan antarnegara dalam memperoleh pasokan. HSBC dalam laporan terbarunya bahkan menaikkan proyeksi harga perak untuk tahun 2025 dan 2026, seiring meningkatnya permintaan investasi di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.

Produsen panel surya saat ini juga mulai menekan penggunaan perak akibat kenaikan harga yang tinggi. Menurut laporan PV Magazine, produsen di Amerika Serikat dan Tiongkok berupaya mengurangi kandungan perak dalam panel agar biaya produksi tetap efisien. Namun, hal ini belum cukup menahan lonjakan harga, mengingat permintaan perak tetap meningkat sejalan dengan ekspansi industri energi bersih di berbagai negara.

Selain faktor industri, pergerakan harga perak juga sangat dipengaruhi kondisi makroekonomi dan kebijakan moneter global. Pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat membuat logam mulia yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga meningkatkan minat investasi. Harapan terhadap penurunan suku bunga oleh Federal Reserve turut memperkuat posisi perak sebagai aset investasi alternatif di tengah situasi ekonomi yang belum stabil. Ketidakpastian geopolitik di beberapa kawasan, inflasi tinggi, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas dan perak.

Secara teknikal dan fundamental, sejumlah analis memperkirakan tren kenaikan harga perak masih berpotensi berlanjut. Level harga kritis diperkirakan akan berada pada kisaran USD 55 hingga USD 60 per ounce, selama momentum permintaan industri dan minat investor tetap tinggi. Meski demikian, investor perlu mewaspadai risiko koreksi harga, terutama apabila terjadi perubahan kebijakan moneter secara tiba-tiba atau tekanan pasar global yang kuat.

Kepatuhan terhadap pergerakan harga perak sangat penting, mengingat komoditas ini memiliki peran ganda sebagai logam industri dan aset investasi. Investor dianjurkan untuk terus memantau harga secara real time melalui platform seperti Kitco, Investing.com, dan Trading Economics. Selain itu, harga perak di pasar ritel atau toko perhiasan sering kali berbeda karena adanya biaya cetak, margin penjualan, dan ongkos distribusi. Diversifikasi portofolio juga perlu diperhatikan agar risiko investasi tetap terjaga di tengah fluktuasi harga yang tinggi.

Pajak dan kebijakan fiskal juga menjadi faktor penting dalam menentukan stabilitas harga logam mulia, termasuk perak. Pemerintah di berbagai negara kini memperketat pengawasan terhadap ekspor dan impor logam mulia untuk menjaga ketersediaan dalam negeri serta mencegah praktik spekulatif. Dengan tren yang masih positif dan fundamental yang kuat, perak diperkirakan tetap menjadi instrumen investasi menarik bagi masyarakat yang ingin melindungi nilai kekayaan dari inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.

Perak kini kembali membuktikan dirinya bukan sekadar logam penghias, melainkan pilar penting dalam transformasi energi dan industri masa depan. Lonjakan harga ini menjadi pengingat bahwa logam mulia masih memegang peranan strategis dalam keseimbangan ekonomi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *