JadiKabar.com – Tuan Rondahaim Saragih Garingging
Penulis : Aswan Nasution.
Kalau bicara soal pahlawan, kebanyakan orang langsung teringat nama besar seperti Diponegoro, Pattimura, atau Cut Nyak Dien. Tapi coba dengar nama ini: Tuan Rondahaim Saragih Garingging. Kedengarannya lembut, ya? Jangan salah. Di zamannya, orang Belanda mendengar nama itu bisa langsung tersedak kopi dan salah baca peta. Ia adalah raja dari Partuanan Raya, Simalungun,Sumatera Utara. (1828-1891)
Partuanon Amborokan tidak terlepas dari sejarah kerajaan Raya, yang diperintah oleh dinasti marga Saragih Garingging. Partuanon Amborokan, telah meninggalkan jejak sejarahnya di wilayah Simalungun dan tepatnya di kecamatan Raya Kahean kabupaten Simalungun pada saat ini. Raja yang punya prinsip: “Tanah air bukan untuk dijual, walau dibayar dengan emas sepikul.” Dalam buku sejarah lokal, Rondahaim dijuluki “Napoleon der Bataks” — bukan karena pakai topi segitiga, tapi karena kepiawaiannya berstrategi dan memimpin perlawanan. Belanda sampai geleng-geleng kepala, “Siapa lagi orang ini?” katanya. Sejarawan lokal seperti Jansen Sinamo menyebut Rondahaim sebagai sosok yang menggabungkan kecerdikan raja, ketegasan panglima, dan kelenturan diplomasi kampung— kombinasi langka di zaman penuh intrik itu.
Berbeda dari raja-raja yang hanya sibuk urusan adat dan pesta panen, Rondahaim adalah tipe pemimpin yang kalau perlu, turun langsung ke parit pertempuran. Ia bukan cuma tahu teori perang, tapi juga paham logika rakyat: “Kalau mau dihormati, jangan cuma bicara, tapi bertindak.” Di tahun 1887, pasukan Partuanan Raya terlibat bentrokan sengit dengan Belanda di Dolok Merawan. Bayangkan, tanpa senjata canggih, Rondahaim mampu mengatur strategi yang bikin tentara kolonial kehilangan arah. Sejarawan Taufik Abdullah pernah menulis bahwa semangat perlawanan lokal seperti Rondahaim adalah “napas kecil yang kemudian jadi badai besar bernama kemerdekaan.” Artinya, meski perangnya di daerah, dampaknya nasional. Kalau hari ini Rondahaim hidup, mungkin dia bakal ngedumel lihat berita korupsi sambil bilang, “Kami dulu lawan Belanda demi rakyat, masa kalian lawan rakyat demi jabatan?”
Kisah Rondahaim bukan dongeng sebelum tidur, tapi fakta sejarah yang bikin Belanda susah tidur. Ia melawan dengan semangat dan kecerdasan taktis. Belanda sempat mengira semua raja di Sumatera bisa ditaklukkan dengan janji-janji manis dan permata. Tapi Rondahaim lain cerita. Ia menolak tunduk, malah membentuk koalisi antar-kerajaan di Simalungun untuk memperkuat pertahanan. Kata ahli sejarah Prof. Sartono Kartodirdjo, gerakan lokal seperti ini merupakan “bibit nasionalisme yang tumbuh sebelum istilah Indonesia lahir.” Jadi kalau ada yang bilang cinta tanah air itu baru tren zaman modern, Rondahaim sudah praktik sejak abad ke-19—tanpa hashtag dan TikTok, tapi dengan darah dan harga diri. Belanda pun mencatatnya dalam laporan kolonial dengan nada getir: “Rondahaim is not easy to control.” Terjemah bebasnya: “Kepalanya keras sekali, tapi kita salut.”
Sebutan “Napoleon der Bataks” yang diberikan Belanda bukan sembarang julukan. Itu bentuk pengakuan musuh terhadap kecerdikan Rondahaim dalam berperang dan berpolitik. Ia bisa berunding halus seperti diplomat, tapi juga bisa tegas seperti harimau di hutan Raya. Konon, ada kisah lucu: ketika utusan Belanda datang membawa hadiah dan meminta “kerjasama damai”, Rondahaim hanya tersenyum dan berkata, “Kalau perdamaianmu seperti kopi pahit tanpa gula, aku pilih minum air sungai saja.” Cerdas, halus, tapi menohok. Menurut Dr. Anthony Reid, dalam sejarah Nusantara, para raja lokal seperti Rondahaim memainkan peran besar dalam membentuk jiwa resistensi terhadap kolonialisme. Mereka mungkin tak punya media nasional, tapi punya wibawa dan loyalitas rakyat yang jauh lebih kuat dari pasal-pasal kontrak politik.
Dalam pandangan Rondahaim, Simalungun bukan cuma wilayah, tapi identitas yang harus dipertahankan. Ia sadar, jika tanah dan adat hilang, maka hilanglah jati diri bangsa. Maka perjuangannya bukan sekadar menolak penjajahan, tapi mempertahankan nilai dan martabat leluhur. Kini, masyarakat Simalungun masih menjaga kisah itu. Setiap kali nama Rondahaim disebut, suasana jadi khidmat—kadang diselipi canda khas Batak: “Kalau Rondahaim masih hidup, mungkin dia udah jadi trending di Twitter tiap hari.” Tapi gurauan itu punya makna dalam: perjuangan sejati tak pernah kadaluwarsa, hanya berganti panggung. Dari medan tempur ke medan demokrasi, dari senjata ke pena. Dan semangatnya, tetap sama: jangan biarkan siapa pun menjajah kepala dan harga diri kita.
Bayangkan seorang raja dari pedalaman Simalungun yang tak cuma gagah di takhta, tapi juga nekat di medan tempur — Tuan Rondahaim Saragih, atau yang dikenal dengan gelarnya Tuan Namabajan. Di masa ketika Belanda sedang gencar-gencarnya menancapkan kuku kolonial, Rondahaim justru memilih jadi duri dalam daging penjajah. Katanya, “Lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut.” Kalau zaman sekarang, mungkin sudah trending di media sosial dengan tagar BeraniMacamRondahaim. Ia berani membakar perkebunan kolonial yang hendak merampas tanah rakyat, dan bahkan menghadang pasukan Belanda dengan cara yang sangat lokal genius: menebang pohon besar dan melintanginya di Gunung Simarsopah—strategi klasik tapi ampuh! Kini tempat itu dikenal sebagai Pangolatan, yang berarti “tempat menghadang Belanda. Menurut sejarawan Anhar Gonggong, Rondahaim adalah penjaga marwah bangsa di masa gelap penjajahan, dan sejarah tampaknya setuju. Setelah lebih dari seabad, pemerintah akhirnya menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Ini bukan sekadar penghargaan, tapi pengakuan bahwa semangat perlawanan juga lahir dari tanah Habonaron do Bona, jantung Simalungun. Jadi kalau hari ini ada yang bilang pahlawan cuma datang dari Jawa atau Sumatera Utara bagian utara, mungkin Rondahaim sudah tersenyum dari alam baka sambil berkata, “Ndang na sope, masih banyak api dari selatan.”
Coba bayangkan kalau Rondahaim hidup di era sekarang. Mungkin dia bakal jadi “influencer patriotik” yang followers-nya jutaan. Kontennya? Edukasi sejarah, ajakan cinta tanah air, dan sindiran elegan buat pejabat malas. Ia mungkin berkata di TikTok: “Belanda aja susah ngatur aku, masa aku mau diatur korupsi?” Gaya bicaranya mungkin santai, tapi maknanya dalam. Humor, cerdas, dan berani—ciri khas pejuang sejati. Dalam setiap tawa, ada pelajaran. Dalam setiap kisah Rondahaim, ada semangat agar kita tak kehilangan akal sehat dan keberanian moral. Karena seperti kata sejarawan Bung Hatta, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu di mana ia pernah jatuh, dan siapa yang membuatnya bangkit kembali.” Nah, salah satu nama yang membuat bangsa ini bangkit, tanpa diragukan lagi, adalah Tuan Rondahaim Saragih Garingging—si raja cerdas dari tanah Simalungun yang tak pernah menyerah pada siapa pun, kecuali pada Tuhan.
Dalam pandangan sejarah, Rondahaim adalah jembatan antara kerajaan dan kebangsaan. Ia raja yang berpikir seperti negarawan: sadar bahwa merdeka bukan urusan darah semata, tapi soal harga diri. – Dr. Marulitua Damanik.
Horas Hubanta Haganupan.
Horas …Horas … Horas












