Lailatul Badri, Perempuan Hebat, Perempuan Juara.

Avatar photo

JadiKabar.com – Lailatul Badri lahir di Dumai, 9 September 1982, sebuah kota pesisir yang mengajarkan sejak dini arti kerja, ketahanan, dan kesederhanaan. Dari ruang hidup itulah ia mula-mula mengenal dunia—bukan sebagai hamparan peluang yang mudah, melainkan sebagai perjalanan yang menuntut ketekunan. Sejak awal, hidup tidak ia pahami sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, tetapi dijalani dengan kesabaran dan tanggung jawab.

Pendidikan menjadi jalan pembentuk wataknya. Ia menempuh Diploma Tiga Bahasa Jepang di Universitas Sumatera Utara (USU)—sebuah pilihan yang mempertemukannya dengan disiplin, ketelitian, dan etos kerja yang kuat. Bahasa, baginya, bukan hanya alat komunikasi, melainkan jendela peradaban. Dari sana ia belajar menghargai proses, menghormati waktu, dan memahami bahwa kemajuan selalu dibangun di atas keteraturan
.
Dalam sejarah, sering kali yang paling bekerja adalah yang paling jarang bersuara. Ia tidak datang dengan gemuruh, tidak pula dengan janji yang berkilau. Ia hadir pelan, menunduk, lalu bekerja. Begitulah kiranya jejak hidup Laulatul Badri—seorang perempuan yang memilih jalan pengabdian sebagai laku, bukan sebagai slogan.

Sebelum dikenal sebagai Anggota DPRD Kota Medan periode 2024–2029 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Lailatul Badri lebih dahulu dikenal sebagai bagian dari denyut masyarakat. Ia tumbuh dalam lingkungan yang memuliakan kerja, menghormati nilai agama, dan menempatkan kepedulian sebagai kewajiban moral. Dari sana ia belajar satu hal penting: bahwa hidup tidak hanya tentang berhasil, tetapi tentang bermanfaat.

Ia tidak dilahirkan oleh panggung politik. Dunia yang mula-mula dikenalnya adalah dunia sosial—ruang-ruang sunyi tempat persoalan rakyat kecil sering diletakkan. Ia berjumpa dengan perempuan yang suaranya tertahan, anak-anak yang masa depannya rapuh, dan keluarga-keluarga yang bertahan dalam kesederhanaan. Dari pengalaman itu, tumbuh keyakinan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari mimbar tinggi, melainkan dari kesediaan mendengar
.
Pilihan politiknya kepada PKB ( Partai Kebangkitan Bangsa ) bukan kebetulan. Ia melihat partai ini bukan sekadar kendaraan elektoral, tetapi ruang nilai: keberpihakan pada kaum kecil, semangat keumatan, dan politik yang berakar pada etika. Dalam tradisi itu, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan ikhtiar panjang untuk menata kehidupan bersama agar lebih adil dan bermartabat.

Ketika kepercayaan rakyat mengantarkannya ke kursi DPRD Kota Medan pada 2024 pada Komisi IV, Lailatul Badri tidak memaknainya sebagai kemenangan pribadi. Ia menerimanya sebagai amanah—beban moral yang harus dipikul dengan kerja dan kesabaran. Ia paham, jabatan hanya bernilai sejauh ia dipakai untuk melayani
.
Dalam satu tahun pertamanya sebagai anggota dewan, ia memilih bekerja tanpa banyak gembar-gembor. Fokusnya jelas: perempuan, anak, dan rakyat kecil. Ia hadir dalam pengaduan-pengaduan yang tidak selalu menarik kamera, tetapi penting bagi yang mengalami. Ia mendampingi, menjembatani, dan mengupayakan solusi—kadang berhasil, kadang tertunda, tetapi tak pernah diabaikan.

Di ruang legislasi, ia belajar bahwa suara perempuan sering kali harus diperjuangkan dua kali lebih keras. Namun ia tidak menjadikannya alasan untuk mengeluh. Ia memilih bersikap tenang, argumentatif, dan konsisten. Baginya, keberanian tidak selalu harus keras; ia bisa hadir dalam keteguhan yang sabar
.
Lailatul Badri dikenal memiliki pendekatan empatik. Ia mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menilai. Ia percaya bahwa kebijakan yang baik lahir dari kedekatan dengan kenyataan, bukan dari menara konsep yang jauh dari tanah. Karena itu, ia tidak asing turun ke lapangan—menyusuri gang-gang sempit, duduk bersama warga, mencatat keluhan yang sering dianggap sepele, tetapi menentukan kualitas hidup
.
Dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat, ia memberi perhatian pada persoalan dasar: infrastruktur lingkungan, pendidikan, kesehatan, serta penguatan ekonomi keluarga. Ia memahami bahwa pembangunan kota tidak boleh hanya dibaca dari bangunan tinggi, tetapi dari apakah warganya merasa dilibatkan dan dilindungi
.
Sebagai perempuan, ia membawa perspektif yang sering terpinggirkan: tentang beban ganda, tentang ketahanan keluarga, tentang pentingnya ruang aman bagi perempuan dan anak. Ia meyakini bahwa kota yang baik bukan hanya ramah investasi, tetapi ramah kehidupan.

Dalam keseharian, Lailatul Badri tampil sederhana. Tidak berjarak, tidak berlebih. Kesederhanaan itu bukan pencitraan, melainkan cermin dari cara pandangnya tentang kekuasaan: bahwa jabatan tidak untuk ditinggikan, melainkan untuk direndahkan demi mendekatkan diri pada rakyat.
Nilai religius menjadi napas dalam setiap langkahnya. Ia percaya, politik yang kehilangan etika akan kehilangan arah. Karena itu, ia berusaha menjaga marwah, menghindari hal-hal yang melukai kepercayaan, dan menjadikan iman sebagai pengingat bahwa kekuasaan selalu sementara, sedangkan pertanggungjawaban bersifat abadi
.
Julukan “Perempuan Hebat, Perempuan Juara” tidak lahir dari sorak, tetapi dari proses. Hebat karena ia konsisten pada nilai. Juara karena ia berani berpihak, meski jalan itu tidak selalu lapang. Dalam dirinya, kita melihat potret perempuan yang tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk berbuat lebih luas
.
Ke depan, Lailatul Badri menatap periode pengabdiannya dengan harapan yang bersahaja: memperkuat peran perempuan dalam kebijakan publik, memastikan anak-anak tumbuh dalam sistem yang adil, serta mendorong pembangunan kota yang manusiawi. Ia tahu, perubahan tidak selalu cepat. Tetapi ia yakin, kerja yang jujur akan menemukan jalannya sendiri
.
Di tengah hiruk-pikuk politik yang sering gaduh oleh kepentingan, kehadiran Laulatul Badri mengingatkan kita bahwa masih ada jalan sunyi yang layak ditempuh—jalan pengabdian yang tidak gemerlap, tetapi terang. Dan barangkali, dari jalan seperti itulah masa depan yang lebih beradab dapat dibangun
.
Horas Hubanta Haganupan.
Horas …Horas … Horas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi