Surya Makmur Nasution: Melantunkan Kalam, Mengabdi pada Umat

Avatar photo
Surya Makmur Nasution: Melantunkan Kalam, Mengabdi pada Umat
Surya Makmur Nasution

Batam, Jadikabar.com – Jika kita melayangkan pandang ke peta Sumatera Utara, terselip sebuah kota kecil bernama Serbelawan. Sebuah kota yang meski mungil dalam ukuran, namun rahimnya telah melahirkan putra-putra bangsa yang berjiwa besar. Di sanalah, di antara embusan angin perkebunan dan deru kehidupan masyarakat yang agamis, lahir dan dibesarkan seorang anak muda bernama Surya Makmur Nasution. Sejarah hidupnya bukanlah sekadar deretan angka tahun, melainkan sebuah perjalanan ruhani dan intelektual yang ditenun dengan benang kesabaran dan keteguhan hati.

Serbelawan bagi Surya Makmur bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan sekolah alam yang membentuk karakternya. Kota kecil ini unik adanya; ia adalah persemaian bagi jiwa-jiwa besar, tempat banyak tokoh ternama negeri ini tumbuh mengecap udara yang sama. Di kota ini, semangat persaudaraan melampaui sekat-sekat suku dan golongan.

Manakala matahari mulai condong ke barat, saat anak-anak lain mungkin masih asyik dengan permainan dunia, Surya kecil melangkahkan kaki menuju Perguruan Al-Washliyah Serbelawan. Di Madrasah sore itu, di bawah bimbingan guru-guru yang ikhlas, ia mulai mengenal alif, ba, dan ta. Namun lebih dari itu, di Al-Washliyah-lah ia pertama kali mengenal seni berhimpun dan berorganisasi. Ia mulai memahami bahwa hidup ini barulah akan bermakna apabila kita memberi manfaat bagi orang banyak. Di sanalah fondasi kepemimpinannya dipahat; sebuah perpaduan antara kecintaan pada ilmu dan ketaatan pada agama yang kelak menjadi suluh dalam kegelapan politik.

Masa remaja adalah masa mencari jati diri. Namun bagi Surya Makmur, jati diri itu telah ia temukan dalam alunan ayat-ayat suci. Ketika ia menginjak usia remaja di kota Medan, tepatnya pada tahun 1990, sebuah noktah sejarah emas terukir. Di tengah riuhnya kota pahlawan tersebut, dalam perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Remaja Kota Medan, suara Surya melambung tinggi, menggetarkan sanubari para pendengar. Ia berhasil meraih predikat Juara 1 Qori Al-Qur’an. Kemenangan ini bukanlah sekadar piala di atas lemari, melainkan sebuah pernyataan diri bahwa dalam jiwanya telah tertanam kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an sebagai kompas kehidupan.

Namun, kesalehan pribadi tidak membuatnya abai pada kehidupan sosial. Semangatnya untuk berkhidmat sudah nampak sejak ia duduk di bangku sekolah. Di SMA Negeri Serbelawan, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua 1 OSIS. Di sinilah kepiawaiannya mengelola manusia dan organisasi mulai terasah. Ia belajar bahwa seorang pemimpin tidak hanya harus pandai berbicara di atas mimbar, tetapi juga harus mampu merangkul rekan sejawat dan menyusun rencana demi kemajuan bersama.

Langkah kakinya kemudian membawanya ke ibu kota provinsi, Medan. Ia menjejakkan kaki di IAIN Sumatera Utara, sebuah taman sari ilmu tempat para cendekiawan Muslim ditempa. Di kampus hijau ini, gairah aktivismenya menemukan ruang yang lebih luas. Ia bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang dikenal sebagai pabrik pemimpin bangsa.

Di HMI, Surya Makmur tidak hanya belajar tentang politik praktis, tetapi tentang “Keislaman dan Keindonesiaan.” Ia berdiskusi tentang nasib umat, berdebat tentang keadilan, dan mengasah ketajaman berpikirnya. Ia menyadari bahwa iman yang di dadanya harus diwujudkan dalam amal saleh yang nyata di tengah masyarakat.

Setelah menyandang gelar sarjana, Tuhan menuntun langkahnya ke dunia jurnalistik. Ia memilih pena sebagai senjatanya. Menjadi wartawan Harian Kompas di Medan bukanlah perkara mudah; ia dituntut memiliki integritas tinggi, kejujuran dalam menyampaikan fakta, dan keberpihakan pada kebenaran. Pena bagi Surya Makmur adalah perpanjangan lidah rakyat yang kelu.

Garis takdir kemudian membawanya merantau ke tanah Kepulauan Riau, tepatnya di Batam. Mutasi tugas dari Kompas tidak dianggapnya sebagai beban, melainkan sebagai ladang dakwah yang baru. Di Batam, ia melihat dinamika masyarakat industri yang kompleks. Melalui tulisan-tulisan dan analisisnya, ia merekam denyut jantung Kepri, yang kelak menjadi modal berharga baginya saat menyeberang ke jembatan politik.

Banyak orang yang memandang politik sebagai dunia yang kotor, tempat intrik dan tipu daya bertahta. Namun, bagi Surya Makmur Nasution, politik adalah “Siyasah”—sebuah seni mengelola urusan umat demi mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

Sejarah mencatat pengabdiannya yang panjang di bumi Segantang Lada. Kecintaan masyarakat membawanya menduduki kursi DPRD Provinsi Kepulauan Riau selama dua periode berturut-turut, yakni 2009-2014 dan 2014-2019. Sepuluh tahun di gedung wakil rakyat tingkat provinsi bukanlah waktu yang singkat. Di sana, ia kerap berdiri di garis depan untuk membela hak-hak masyarakat maritim dan memperjuangkan anggaran pendidikan yang berkeadilan.

Setelah menyelesaikan tugas di tingkat provinsi, panggilan pengabdian tak pernah surut. Pada tahun 2024-2029, beliau kembali dipercaya oleh rakyat untuk mengabdi di DPRD Kota Batam. Baginya, jabatan bukanlah anak tangga untuk naik ke singgasana kemewahan, melainkan kursi untuk duduk bersama rakyat, mendengar keluh kesah mereka, dan mencarikan solusi atas persoalan kota.

Di sela kesibukan politiknya, Surya Makmur tidak pernah melupakan “ibu” yang membesarkannya secara ruhani, yaitu Al-Washliyah. Kecintaannya pada organisasi ini membawanya dipercaya memegang tongkat komando sebagai Ketua Umum Pengurus Wilayah Al-Washliyah Kepulauan Riau. Kepemimpinannya yang teduh dan visioner membuat ia dipercaya memimpin untuk periode 2018-2024, dan kini berlanjut untuk periode 2025-2030. Di bawah naungannya, Al-Washliyah di Kepri terus bergerak menghidupkan pendidikan, dakwah, dan amal sosial.

Dalam kancah politik praktis, ia pun didaulat menjadi nakhoda. Sejak tahun 2022 hingga 2026, ia mengemban amanah sebagai Ketua DPC PKB Kota Batam. Di bawah kepemimpinannya, partai ini terus bertumbuh menjadi wadah aspirasi yang inklusif, merangkul nilai-nilai kebangsaan yang berakar pada tradisi keislaman yang kuat.

Kini, dengan kematangan usia dan pengalaman, Surya Makmur Nasution terus melangkah. Tujuannya bukanlah untuk mengejar kemegahan duniawi, melainkan untuk memastikan bahwa keadilan sosial bukan sekadar slogan di atas kertas. Ia adalah bukti nyata bahwa seorang anak dari kota kecil seperti Serbelawan, yang berangkat dari mimbar MTQ dan meja organisasi sekolah, dapat memberikan sumbangsih besar bagi bangsa dan agama.

Ia mengajarkan kepada kita bahwa jabatan legislatif akan usai pada waktunya, namun pengabdian pada umat melalui organisasi adalah perjuangan seumur hidup. Ia tetaplah Surya yang dikenal dulu: seorang yang santun namun teguh pada prinsip, yang bicaranya berlandaskan data dan hatinya terpaut pada moralitas Al-Qur’an.

Semoga langkah-langkahnya senantiasa diridhai Allah SWT, menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya, berorganisasi, dan berbakti bagi ibu pertiwi dengan hati yang ikhlas dan jiwa yang besar.

Penulis: ANEditor: TF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *