11 JANUARI ala GIGI BAND

Avatar photo

11 JANUARI ala GIGI BAND

Kalau hidup itu sebuah timeline panjang di Instagram, “11 Januari” itu layaknya postingan yang tiba-tiba viral pada saat semua orang lagi galau, lagi jomblo, tapi juga lagi nunggu SMS dari doi. Lagu ini bukan sekadar track biasa di album — ia semacam alarm cinta universal yang entah kenapa setiap tahun bunyi sendiri meski kamu udah unfollow GIGI bertahun-tahun lalu.

Kalau kamu pikir angka “11 Januari” sekadar tanggal yang bisa muncul di kalender kegiatan pemerintahan tahunan , selamat — kamu kurang nonton konser nostalgia. Dalam konteks lagu ini, 11 Januari adalah tanggal pernikahan Armand Maulana dengan Dewi Gita — yaitu hari dimana si rocker jago ngebut di atas panggung itu resmi jadi Suami Idaman.

Tapi jangan keburu romantis dulu seperti lihat caption IG influencer — latar belakangnya lucu juga: kabarnya si Armand ini sering lupa tanggal anniversary — dan ketika istrinya ngasih ultimatum cinta sambil nyebut kata “cerai” beberapa kali, boom! Lagu cinta yang sekarang kita nyanyikan sambil drama-drama kecil muncul itu lahir.

Bayangin:
“Bro, gue lupa ulang tahun pernikahan kita,”
“Baiklah, kalau inget ulang tahun aja kamu mampet, gue kasih ultimatum — dan lo bakal bikin lagu biar ingat.”
Tapi daripada berkutat pada Google Calendar atau fitur reminder, si Armand malah bikin lagu. Itu baru romantis versi orang yang gitarisnya tinggi.

Single 11 Januari itu muncul sebagai bagian dari album Peace, Love & Respect yang dirilis sekitar 2007. Sederhana aja: band GIGI sudah mapan, lagu-lagunya dikenal luas di blantika musik Indonesia, dan 11 Januari datang pas tahunannya udah pas untuk diputar ulang setiap bulan Januari tiba.

Liriknya bukan tentang kisah tragis kayak Romeo & Juliet yang kehabisan pulsa buat SMS, tapi tentang dua manusia yang ngerasain semuanya: cinta, lupa, ketawa, sedih, dan rekonsiliasi — dalam durasi sekitar 4 menit. Aransemen musiknya sederhana tapi ngena: vokal Armand yang khas, gitar Dewa Budjana yang sering banget bikin pendengarnya mikir “Iya nih gitar apa senter petromax?”, lalu drum ngebut yang ngesupport setiap baris cerita.

Nah ini bagian yang rada rumit tapi tetap lucu: kalo kita dengar 11 Januari dengan telinga jomblo, kita bisa nangkepnya sebagai lagu cinta paling bucin di dunia. Kalau kita dengar sebagai anak 90an, kita bakal bayangin playlist CD lama yang diputer pas mobil lagi macet dan AC lagi casek banget

Tapi kalau kita masuk ke makna yang lebih “inti filosofi cinta” ala Gunawan Mohamad derajat 12/10:
lagu ini sebenarnya bukan sekadar tanggal, tapi manuver memori konstruktif yang bikin kita setia terhadap ingatan—bahwa pernah ada momen tertentunya cinta. Jadi ketika liriknya bilang “Aku penjagamu, aku pelindungmu”, itu bukan cuma janji romantis: itu adalah keinginan manusia untuk punya ritual yang bikin ingatan tentang cinta itu tahan lama. Dan lagu ini secara tak sengaja menjadi semacam monumen pop untuk itu.

Bayangin kalau manusia punya sistem operasi memori kayak smartphone: nah, 11 Januari itu kayak widget yang otomatis menyala setiap tanggal itu muncul di layar kehidupanmu. Ini yang bikin dia bukan cuma lagu cinta biasa, tapi seperti suara notifikasi batin yang bikin kita berhenti scroll sejenak dan mikir: “Oh iya, pernah ada kisah ini.”

Secara resmi, 11 Januari pertama kali dinyanyikan oleh GIGI sekitar setelah dirilisnya album Peace, Love & Respect di pertengahan 2007. Tapi versi live-nya pernah diputar berkali-kali di konser mereka, bahkan dalam konser besar 11 Januari di Stadion Mandala Krida Yogyakarta pada 2008, yang disaksikan puluhan ribu penonton.

Dalam konser itu, kamu nggak cuma nonton band manggung — kamu sekaligus masuk ke dalam ritual kolektif di mana semua orang kompak nyanyi liriknya bareng-bareng, seperti sedang melakukan pembacaan harian terhadap suatu ayat cinta. Itu bukan sekadar musik, itu semacam sindiran romantis yang bikin pria dan wanita seantero stadion saling ngeliatin speaker sambil bilang: “Eh, gue inget tanggal ini.”

Sekarang masuk ke bagian yang paling seru: kalau lagu ini cuma pengaruhnya ke radio dan konser, itu sih standar. Tapi efeknya lebih nyentrik dari itu:

Lagu ini jadi semacam ritus tahunan tiap Januari tiba. Orang-orang nggak cuma denger di radio, tapi nge-rekam ulang kenangan mereka.
Fans GIGI menamai diri mereka GIGIkita, dan 11 Januari menjadi semacam anthem yang selalu dinyanyikan ketika ngumpul.
Pernah sampai dijadiin lagu wajib pas acara pernikahan atau anniversary — padahal awalnya lagu ini tercipta karena si pencipta lupa anniversary sendiri! Itu irony yang bikin kita ketawa dalam diam.
Lagu ini bahkan semacam bookmark pop bagi anak 90an: pas masuk Januari, terlepas kamu sadar atau tidak, otakmu tiba-tiba ingat “Aduh iya ya, lagu itu…” tanpa payung, tanpa petromax, cuma dengan getaran hati dan sedikit PR nostalgia.

Efeknya bukan sekadar likes di Spotify, tetapi lebih ke cara sebuah karya pop kolonialisme memori masuk ke radar batin kita—bahwa cinta itu tumbuh, gugur, tapi selalu berdetak ulang tiap 11 Januari. Di titik ini kita paham bahwa 11 Januari bukan cuma tanggal, bukan sekadar lagu, tapi semacam jawaban kolektif kita terhadap kebutuhan untuk pernah merasa “terikat” pada sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.

Karena ia mengkomodifikasi sesuatu yang semua orang punya:

perjuangan supaya tidak lupa,
rasa malu karena lupa,
dan kebutuhan untuk *mengabadikan memori penting*.

Bahwa cinta, janji, nostalgia — ini bukan lagi sekadar tema pop biasa. Lagu ini menyentuh ritus kolektif kita sebagai manusia yang tidak bisa lepas dari tanggal-tanggal yang harus diinget, entah itu anniversary, ulang tahun, atau saat kita bilang ke diri sendiri “Aku pernah merasa begitu.”

Seperti notifikasi yang berkali-kali muncul meskipun sudah kamu swipe away, 11 Januari terus kembali. Bukan karena kita tidak bisa lupakan, tetapi karena kita sebenarnya ingin diingatkan pada sesuatu yang pernah membuat kita terasa hidup.

Dalam kata-kata satiris yang absurd sekaligus tajam: 11 Januari itu semacam reminder pop— bukan cuma bahwa cinta eksis, tapi bahwa kita punya ingatan yang harus dilindungi, atau setidaknya dijadikan playlist setiap Januari datang.

Maka, mari kita nyanyikan 11 Januari bersama—pelan atau lantang, sumbang atau pas nada, tak jadi soal.
Biarkan setiap baitnya bekerja sebagai pengingat bahwa cinta pernah, sedang, atau akan tetap ada.
Nyanyikan ia bukan sekadar dengan suara, tapi dengan ingatan, senyum kecil, dan sedikit getar di dada.
Sebab di lagu itu, kita tak hanya bernyanyi—kita sedang mengingat diri kita sendiri dengan indah.

Horas Hubanta Haganupan.
Horas …Horas … Horas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *