Jadikabar.com – Kisah ini sebenarnya berakhir sebelum benar-benar dimulai, tepat di Bandara Soekarno-Hatta, ketika penyamaran Nisya terbongkar dalam sebuah penerbangan dari Palembang menuju Jakarta, setelah awak kabin asli menaruh kecurigaan terhadap dirinya—bukan karena sikapnya yang mencolok, melainkan justru karena detail-detail kecil yang tidak bisa disembunyikan oleh siapa pun yang belum benar-benar hidup di dunia penerbangan, mulai dari perbedaan corak rok seragam yang ia kenakan hingga ketidakmampuannya menjawab pertanyaan dasar seputar prosedur keselamatan penerbangan yang seharusnya dikuasai oleh setiap pramugari.
Di situlah kisah ini berbelok, dari ilusi yang selama beberapa waktu berhasil dipertahankan menjadi kenyataan yang tidak lagi bisa ditunda, sebab pemeriksaan singkat membuka fakta bahwa perempuan muda bernama Nisya itu bukan bagian dari awak kabin mana pun, dan bahwa seragam yang ia kenakan—yang sebelumnya memberinya rasa percaya diri dan pengakuan sesaat—adalah kostum harapan yang rapuh.
Setelah diamankan dan diperiksa oleh pihak kepolisian Polresta Bandara Soekarno-Hatta, motif di balik tindakannya perlahan terkuak, dan di titik inilah cerita Nisya berhenti menjadi kisah kebohongan individual semata, lalu berubah menjadi potret korban dari praktik penipuan yang sudah lama mengendap di dunia pencari kerja, sebab terungkap bahwa ia telah menyetorkan uang sebesar Rp30 juta kepada seseorang yang menjanjikan posisi pramugari, sebuah janji yang terdengar meyakinkan bagi anak muda dari daerah yang memandang profesi tersebut sebagai pintu keluar dari keterbatasan hidup.
Nisya bukan datang dengan niat menipu publik atau mencederai institusi penerbangan, melainkan sebagai seseorang yang telah lebih dulu tertipu oleh sistem bayangan yang tumbuh subur di tengah lemahnya pengawasan negara terhadap agen-agen tenaga kerja fiktif, yang tidak hanya beroperasi di sektor penerbangan, tetapi juga di berbagai bidang lain yang menjual mimpi cepat kepada mereka yang paling rentan.
Namun yang sering luput dipahami, dan kerap tenggelam dalam hiruk-pikuk viralitas, adalah alasan paling manusiawi di balik keputusan Nisya untuk menyamar, sebab ia nekat mengenakan seragam palsu—yang dibelinya secara daring—bukan demi keuntungan finansial, melainkan karena rasa malu yang begitu besar kepada orang tuanya di Palembang, rasa malu yang tumbuh setelah ia gagal seleksi dan kehilangan seluruh uang yang telah disetorkan, sehingga ia memilih mempertahankan cerita sukses palsu agar orang tuanya tetap percaya bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia.
Dalam kacamata psikologi, tindakan semacam ini kerap muncul sebagai mekanisme pertahanan diri, ketika seseorang merasa identitas dan harga dirinya runtuh bersamaan dengan kegagalan, dan kebohongan menjadi jalan singkat untuk menunda rasa sakit, menjaga nama baik diri dan keluarga, serta menghindari tatapan kecewa yang dibayangkan akan jauh lebih menyakitkan daripada risiko terbongkarnya kebohongan itu sendiri.
Dari titik inilah cerita Nisya menyebar luas ke media sosial, menjadi bahan perbincangan publik yang biasanya tidak ramah terhadap kesalahan personal, tetapi kali ini justru memunculkan respons yang lebih berlapis, sebab di balik pelanggaran prosedur yang ia lakukan, banyak orang melihat refleksi dari tekanan sosial yang sama: tuntutan untuk berhasil, ketakutan akan gagal, dan budaya yang terlalu sering mengukur nilai seseorang dari seragam yang ia kenakan.
Kasus ini pada akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan, tanpa jalur hukum, setelah pihak maskapai Batik Air memilih untuk memaafkan dengan sejumlah syarat, di antaranya Nisya membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya, serta seluruh atribut seragam yang ia gunakan disita oleh petugas, sebuah penyelesaian yang sekaligus menandai berakhirnya fase penyamaran sekaligus membuka babak baru dalam hidupnya.
Ironisnya, justru setelah kisah ini viral, perhatian yang sebelumnya absen mulai berdatangan, mulai dari pendampingan psikologis, dukungan moral, hingga peluang mengikuti pelatihan pramugari secara resmi, seolah-olah empati publik berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan sistem sejak awal, yakni menyediakan jalan yang lebih manusiawi bagi anak muda yang tersandung di tengah usahanya mengejar mimpi.
Kini Nisya berada pada fase yang berbeda, menjalani proses dengan kesadaran penuh bahwa jalan menuju cita-cita tidak pernah sesederhana janji agen atau seleksi instan, dan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya selama ada ruang untuk belajar dan memperbaiki diri, tanpa harus bersembunyi di balik simbol keberhasilan palsu.
Di luar diri Nisya, kisah ini seharusnya menyisakan pertanyaan yang lebih besar, tentang bagaimana negara hadir—or justru tidak hadir—dalam melindungi generasi muda dari praktik penipuan berkedok peluang kerja, tentang mengapa literasi kerja dan pengawasan masih begitu lemah, dan tentang mengapa rasa malu sering kali menjadi beban yang harus ditanggung sendirian oleh mereka yang gagal.
Nisya hanyalah satu nama yang kebetulan muncul ke permukaan, sementara di belakangnya ada banyak anak muda lain yang tertipu, gagal, dan memilih diam, memendam luka tanpa viralitas, tanpa empati publik, dan tanpa kesempatan kedua.
Kini, ketika penyamaran itu telah berakhir, Nisya sedang belajar berdiri kembali tanpa kostum, menyusun ulang mimpinya dengan cara yang lebih jujur dan lebih aman, dan barangkali di situlah makna paling penting dari kisah ini dapat ditemukan: bahwa manusia tidak selalu jatuh karena mimpinya terlalu tinggi, melainkan karena sistem tidak menyediakan ruang yang cukup aman untuk gagal dan bangkit, sehingga keberanian sejati bukanlah berpura-pura berhasil, melainkan berani mengakui kegagalan dan memulai kembali dari titik yang nyata. (AN)
Horas Hubanta Haganupan.
Horas… Horas… Horas.
Penulis : Aswan Nasution












