JadiKabar.com – Seiring berkembangnya zaman, informasi saat ini sangat mudah didapatkan oleh siapapun. Berbagai informasi pun terus bermunculan di media sosial, sehingga kita dapat dengan cepat mengetahui berbagai kejadian dan kabar terbaru. Namun, di balik kemudahan untuk mengakses informasi diperlukan kemampuan logika berpikir, agar kita bisa selamat dari informasi yang palsu atau menyesatkan.
Hal ini sejalan dengan pandangan Wilbur Schramm. Beliau sering disebut sebagai pakar Ilmu Komunikasi dan bahkan dijuluki Bapak Ilmu Komunikasi yang teorinya bersifat interaktif (dua arah). Menurut Wilbur Schramm, komunikasi merupakan proses dua arah di mana penerima pesan secara aktif menafsirkan makna pesan berdasarkan pengalaman yang dimilikinya. Sehingga penerima tidak hanya menerima pesan, tetapi juga memikirkan dan menilai pesan tersebut.
Masalahnya ketertarikan masyarakat pada informasi sering kali bekerja lebih cepat daripada logika, Sehingga yang terjadi dilapangan banyak masyarakat langsung membagikan berita hanya karena sedang ramai di bicarakan (trending) di media sosial. Selain itu, juga ada yang disengaja untuk membagikan informasi yang sudah tau bahwa itu Hoax (bohong) hanya untuk kepentingan pribadi karena ingin mencari uang atau ingin mempengaruhi publik. Contohnya seperti buzzer, buzzer bekerja dengan cara menyampaikan informasi tertentu melalui media sosial untuk mempengaruhi publik. Sehingga dampaknya membuat seseorang langsung percaya bahwa informasi itu benar-benar terjadi kalau tidak disandingkan dengan Logika berpikir. Karena informasi yang tidak benar itu dibuat tidak semerta-merta berdasarkan kebenaran melainkan dipengaruhi oleh bagaimana informasi bisa tersampaikan dan disebarluaskan oleh masyarakat. Disamping itu, ketertarikan pada informasi ini diperkuat oleh algoritma yang cenderung berperan sebagai penentu arus informasi dari pada konten fakta yang sebenarnya terjadi.
Upaya membangun logika berpikir agar tidak mudah menerima informasi hoax atau berita palsu. Pertama mengecek sumber dari informasi tersebut, dan lihat siapa menyampaikan, untuk apa mereka menyampaikan, dan apakah itu benar. Kedua membandingkan infromasi dari berbagai sumber lalu dipilih mana yang sekiranya dapat kita percayai. Ketiga bertanya pada orang lain yang sekiranya dapat dipercaya agar kita bisa memahami informasi dengan lebih jelas.
Dapat kita simpulkan, bahwa informasi sanget mudah didapatkan tapi tidak selalu benar. jadi logika berpikir sangat penting agar kita bisa menilai dan menyaring informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Dengan memeriksa sumber, membandingkan informasi dari berbagai sumber, dan bertanya pada orang lain, kita bisa terhindar dari informasi hoax. Oleh karena itu, logika membantu kita memakai informasi secara cerdas dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Oleh : Moh. Unais Addaroni Mahasiswa
Ilmu Komunikasi Universitas Annuqayah












