MAGELANG, JadiKabar.com– Ancaman bencana hidrometeorologi masih membayangi Kabupaten Magelang pada awal tahun 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak potensi bencana terjadi pada Januari hingga Februari seiring meningkatnya intensitas curah hujan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edi Wasono, menyampaikan bahwa kondisi tersebut masih dalam tahap kewaspadaan dan belum memerlukan penetapan status tanggap darurat.
“Informasi dari BMKG menyebutkan ancaman bencana hidrometeorologi masih berpotensi terjadi hingga akhir Januari, bahkan bisa berlanjut sampai Februari,” ujar Edi Wasono.
Edi menjelaskan, hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Magelang belum menerbitkan Surat Keputusan Bupati terkait status tanggap darurat karena situasi dinilai masih terkendali.
Meski demikian, sejumlah potensi bencana seperti tanah longsor, pohon tumbang, dan banjir di beberapa titik tetap menjadi perhatian.
“Ancaman tersebut memang ada, namun sejauh ini belum sampai mengganggu perekonomian daerah maupun merusak fasilitas umum,” jelasnya.
Selain faktor cuaca ekstrem, BPBD juga terus memantau aktivitas Gunung Merapi yang kini berstatus Siaga (Level III).
Potensi bahaya yang diwaspadai berupa awan panas guguran (APG) yang dapat disertai hujan abu vulkanik.
Ia menambahkan, risiko bencana hidrometeorologi pada Januari ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan akhir tahun lalu.
Oleh karena itu, selain meningkatkan kewaspadaan masyarakat, BPBD juga memperkuat langkah mitigasi untuk menekan potensi korban jiwa.
Berdasarkan hasil pemetaan, terdapat delapan kecamatan di Kabupaten Magelang yang masuk wilayah rawan tanah longsor, yakni Borobudur, Salaman, Kajoran, Windusari, Kaliangkrik, Tegalrejo, Pakis, dan Ngablak.
“Dalam periode 11 hingga 18 Januari tercatat 29 kejadian tanah longsor di Kabupaten Magelang. Kami mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kabupaten Magelang juga melakukan evakuasi warga di Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, pada 13 Januari lalu. Evakuasi dilakukan menyusul hujan lebat dan adanya potensi longsor lanjutan di wilayah tersebut.












