JadiKabar.com – Kita memasuki 2026 seperti seseorang yang duduk di sudut warung, menatap segelas kopi yang larut pelan. Ada pahit yang sudah kita kenal sejak lama, ada manis yang belakangan kita tambahkan, dan ada cara baru meneguknya—kadang buru-buru, kadang terlalu lama. Mungkin hidup memang menyerupai minuman itu: sederhana pada awalnya, tapi kemudian dilapisi makna, ditambahkan rasa, dititipi cerita yang tak pernah sama.
Dulu, kopi hanya pahit dan manis. Diseruput perlahan di warung pinggir jalan, ditemani rokok kretek yang asapnya mengalun seperti doa yang tak pernah selesai. Di sana duduk para lelaki paruh baya, para pekerja kasar, para pensiunan yang masih setia menimbang hidup. Obrolannya tentang harga beras, pendidikan anak, musim hujan, dan politik yang jauh tapi tetap terasa. Tidak ada yang mendominasi. Tidak ada yang merasa paling pintar. Yang ada hanya kebersamaan—sekarang mungkin kata itu terdengar agak sentimental.
Kini, kopi menjadi dunia itu sendiri. Ia tak hanya pahit atau manis. Ia bisa bercita rasa karamel, hazelnut, cokelat, keju, bahkan santan. Segelas kopi bisa seharga lima liter Pertalite—dan anehnya, dibeli tanpa banyak protes. Di kota-kota besar, kedai kopi tumbuh seperti jamur setelah hujan. “Kopi Kenangan” melaju menjadi unicorn. Brand lain menyusul: Kopi KokTong, Excelso, Kopi Apek , Kopi Agam, Kopi Ulee kareng, Coffee Toffee. Industri kopi menyerap ratusan ribu pekerja dan mendorong nilai ekonomi yang tak kecil. Data Kementerian Pertanian beberapa tahun terakhir mencatat, produksi kopi Indonesia tetap bertahan di atas 700 ribu ton per tahun, sementara konsumsi domestik meningkat tajam: kelas menengah tumbuh, pasar urban stabil, gaya hidup ikut bergerak.
Ini bukan hanya soal rasa. Ini soal identitas.
Kopi yang dulu dimiliki bersama, kini dipersonalisasi. Dulu kopi membiarkan kita masuk ke dalam percakapan; kini ia menjadi alasan untuk masuk ke layar gawai masing-masing. Foto gelas kopi lebih penting daripada cerita hidup peminumnya. Kita berkumpul, tapi tidak betul-betul hadir. Ruang jeda yang dulu diisi obrolan, kini dipenuhi notifikasi.
Ada paradoks yang halus: semakin banyak rasa yang tersedia, semakin sedikit ruang untuk berbagi rasa.
Sosiolog mungkin akan menyebut ini tanda perubahan kelas menengah urban: konsumerisme yang dilebur ke dalam estetika. Kita tidak hanya meminum kopi; kita mengonsumsi citra tentang diri sendiri. Branding menggantikan perbincangan. Validasi menggantikan refleksi.
Dan ketika suatu hari sebagian dari generasi ini turun ke jalan menolak kenaikan harga BBM, kita bertanya dalam hati: bukankah harga segelas kopi signature itu lebih mahal daripada seliter bensin? Barangkali kita tidak keberatan membayar mahal—asal ada makna simbolik yang menyertainya. Masalahnya, makna itu sering kali berhenti pada permukaan.
Namun tentu tidak adil bila kita menuduh generasi kopi dingin ini sebagai generasi dangkal. Mereka hidup dalam tekanan zaman yang tak dialami generasi sebelumnya: biaya hidup tinggi, lapangan kerja tak stabil, pendidikan mahal, internet membentuk kesadaran. Ekonomi digital memang membuka peluang, tetapi juga memunculkan ketimpangan baru. Konsumsi bukan hanya praktik ekonomi, melainkan cara bertahan secara psikologis.
Yang berubah sebenarnya bukan hanya kopi. Yang berubah adalah cara kita menjalani hidup bersama.
Seorang ekonom mungkin akan berkata: ini soal daya beli. Statistik resmi menunjukkan, harga kebutuhan pokok memang naik lebih cepat daripada pendapatan sebagian warga. Rasa tercekik itu nyata. Sementara itu, wacana pembangunan selalu berbicara tentang pertumbuhan—seolah pertumbuhan otomatis menghadirkan kesejahteraan. Padahal, kita tahu, ketimpangan juga bertumbuh diam-diam.
Kedai kopi modern membuka lapangan kerja, benar. Tetapi mereka juga menata ulang lanskap sosial kota: ruang publik yang dulunya terbuka kini bergeser ke ruang komersial. Silaturahmi pun ikut bertarif.
Di warung kopi lama, kita bisa duduk berjam-jam tanpa membeli lagi. Di kafe modern, kursi adalah properti waktu.
Tapi saya tidak ingin jatuh pada romantisme masa lalu. Setiap zaman punya bahasanya sendiri. Dan kita kini hidup di dunia yang memang menuntut efisiensi, kecepatan, dan konektivitas. Kopi menjadi simbol pergeseran itu.
Pertanyaannya: di mana ruang berhenti sejenak?
Di awal 2026 ini, mungkin kita perlu menengok ulang makna segelas kopi. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mengambil jarak. Karena jarak adalah ruang bagi refleksi.
Kita belajar bahwa kehangatan bukan berasal dari jenis gelasnya, melainkan dari keberanian saling mendengar. Bahwa pahit tidak selalu buruk, dan manis tidak selalu menenangkan. Bahwa hidup tidak perlu selalu difoto.
Mungkin negara pun bisa belajar dari kopi. Kebijakan publik yang baik, seperti meracik kopi, membutuhkan keseimbangan: antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan sosial, antara kebebasan pasar dan keberpihakan pada yang lemah, antara efisiensi dan keadilan. Kita membutuhkan ruang dialog yang tulus—bukan hanya debat digital yang riuh namun sunyi.
Jika harga kebutuhan pokok naik, warga ingin kejelasan. Jika subsidi dialihkan, rakyat kecil ingin memastikan hidupnya tak semakin berat. Transparansi dan keadilan lebih dibutuhkan daripada sekadar jargon. Kopi mengajarkan kita bahwa rasa tidak pernah tunggal.
Maka, menjelang pagi pertama 2026, mari kita bertanya dengan nada pelan: apa yang kita harapkan?
Barangkali sederhana saja—bahwa negara hadir tanpa pamer, bahwa masyarakat saling peduli tanpa menghitung, bahwa kesenjangan tidak terus melebar, bahwa ruang publik tetap menjadi milik bersama. Dan bahwa kita bisa kembali bercakap, tanpa perlu menunduk pada layar.
Karena bangsa yang sehat bukan hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan, melainkan oleh kemampuan warganya berbagi cerita—tentang pahit, tentang manis, tentang hidup yang terus berjalan.
Segelas kopi mungkin tidak mengubah dunia. Tapi ia bisa mengingatkan kita bahwa perubahan besar selalu berawal dari percakapan kecil. Dari tatapan yang tak terputus. Dari keberanian mengakui bahwa kita sama-sama rapuh—dan karenanya saling membutuhkan.
Di awal tahun ini, mari kita seruput pelan-pelan. Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan. Tetapi untuk kembali menemukan diri kita di antara aroma yang sederhana itu.
Dan semoga 2026 bukan hanya menjadi tahun yang baru—melainkan juga cara baru memaknai kebersamaan.
Kita duduk. Kita menyeruput. Kita berbicara. Dan dunia, pelan-pelan, berubah.
Ada kopi ada cerita, lain kopi lain cerita. Tak ada kopi, Tak usah banyak cerita. Mari ngopi, Kita Bercerita
Horas Hubanta Haganupan.
Horas …Horas … Horas












