BANGKALAN, JADIKABAR.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Makan Bergizi (SPPG) di Pondok Pesantren Al Anwar, Kecamatan Modung, Bangkalan, mencatatkan keberhasilan signifikan. Setelah berjalan selama satu tahun tiga bulan sejak Januari 2025, program ini terbukti efektif meningkatkan kualitas akademik dan ketahanan fisik para santri secara drastis.
Ketua Yayasan Ponpes Al Anwar, Kiai Haji Muchlis Muksin, menjelaskan bahwa dampak positif program ini terpantau secara objektif melalui ajang FORMASI (Festival Olahraga, Mata Pelajaran, dan Seni). Festival ini menjadi instrumen evaluasi berkala untuk mengukur sejauh mana asupan nutrisi memengaruhi performa siswa.
“Instrumen olahraga dan cerdas cermat ini kami gunakan untuk melihat efektivitas pemberian gizi. Hasilnya, IQ dan fisik anak-anak didik kami meningkat jauh di atas normal dibanding sebelum ada program MBG,” ujar Kiai Muchlis pada Rabu(08/04/2026).
Lonjakan Pertumbuhan dan Kecerdasan
Dalam evaluasi terbaru yang melibatkan 800 siswa penerima manfaat, ditemukan perubahan mencolok yang dilaporkan langsung kepada Gubernur Jawa Timur. Peningkatan tersebut mencakup tiga aspek utama:
Pertumbuhan Fisik: Terjadi peningkatan berat badan dan tinggi badan yang melampaui rata-rata pertumbuhan normal siswa sebelum program dimulai.
Kemampuan Akademik (IQ): Dalam kompetisi mata pelajaran dan cerdas cermat, siswa menunjukkan ketangkasan berpikir dan tingkat kecerdasan yang meningkat pesat.
Pengembangan Bakat: Potensi seni para siswa mulai muncul secara lebih terstruktur dan kreatif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Keberhasilan di Ponpes Al Anwar ini diharapkan tidak berhenti di Bangkalan saja. Dengan bukti nyata berupa peningkatan kualitas intelektual dan fisik, model pelayanan gizi ini diproyeksikan menjadi standar rujukan bagi daerah lain di Jawa Timur.
“Program MBG bukan sekadar solusi jangka pendek untuk urusan perut, melainkan investasi strategis dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan kompetitif untuk masa depan Indonesia,” Tutup Kiai Muchlis. (Ed)












