Daerah  

KBP #9 Polowijen Dorong Penguatan Busana Tradisi sebagai Identitas Kota Malang

Avatar photo
Polowijen Dorong Penguatan Busana Tradisi sebagai Identitas Kota Malang

MALANG,Jadikabar.com— Festival Kampung Budaya Polowijen (KBP) ke-9 yang digelar pada 15 Februari 2025 kembali menegaskan perannya sebagai ruang pelestarian budaya lokal. Tahun ini, penguatan busana tradisi Malang menjadi fokus utama melalui rangkaian Workshop Busana Khas Malang yang berlangsung semarak dan melibatkan berbagai komunitas budaya.

Workshop tersebut menghadirkan pelatihan membatik, pengenalan ragam kebaya, praktik mengenakan jarik, teknik bersanggul, hingga tata cara memakai Udeng Malang. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga menjadi wahana edukasi budaya bagi generasi muda untuk memahami nilai filosofis, etika, serta makna simbolik busana tradisional sebagai cerminan jati diri daerah.

Sebagai kota multietnis, Malang berkembang dengan warna budaya yang beragam. Namun di tengah dinamika tersebut, kebutuhan akan identitas lokal yang kuat semakin terasa. Hingga kini, Kota Malang belum memiliki penetapan resmi mengenai busana khas daerah, meskipun secara historis memiliki kekayaan tradisi yang mengakar.

Endah Purwatiningsih, Ketua Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kabupaten Malang, menyampaikan pentingnya penyamaan persepsi mengenai ragam busana tradisi yang representatif.

Menurutnya, kebaya memiliki banyak model seperti kebaya janggan, kutubaru, Kartinian, encim, hingga kebaya modern, yang masing-masing memiliki fungsi dan konteks pemakaian berbeda. Pemahaman ini dinilai penting agar masyarakat tidak sekadar mengenakan busana tradisi, tetapi juga memahami maknanya.

Ia menegaskan bahwa penguatan identitas busana bukanlah pembatasan kreativitas, melainkan upaya memperjelas karakter budaya Malang di tengah arus globalisasi.

Praktik mengenakan jarik dipandu Sany Repriandini dari komunitas Perempuan Bersanggul Nusantara. Ia menyoroti minimnya minat generasi milenial dan Gen-Z terhadap busana tradisional.

Menurutnya, diperlukan lebih banyak kegiatan edukatif, event budaya, serta dukungan kebijakan dari pemerintah agar penggunaan kebaya, jarik, dan sanggul kembali menjadi kebanggaan generasi muda, setidaknya pada momen-momen tertentu.

Sesi bersanggul dipandu Wiyanti, Neny, dan Faizah dari Komunitas Perempuan Konde Kebaya. Mereka memperkenalkan teknik dasar sekaligus filosofi konde sebagai simbol kedewasaan, keanggunan, dan keteguhan perempuan Jawa.

Pelatihan membatik bersama Titik Nurfajriah dari Kerajinan Batik Polowijen turut memperkaya pemahaman peserta mengenai motif khas lokal sebagai identitas visual Malang. Batik diperkenalkan bukan sekadar produk tekstil, melainkan narasi budaya yang terus berkembang.

Budayawan Kota Malang, Syamsul Bahri atau Mbah Karjo, dalam sesi praktik berudeng menjelaskan bahwa tradisi ikat kepala di Malang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Ia menyebut gerakan berudeng telah dimulai sejak 2017 di Alun-Alun Merdeka Malang, berlanjut pada 2022 di Museum Mpu Purwa, serta 2024 di Taman Krida Budaya Jawa Timur. Udeng Malang sendiri memiliki dua bentuk utama, yakni kemplengan untuk generasi muda dan jingkengan untuk kalangan yang lebih tua.

Menurutnya, sudah saatnya Udeng Malang mendapatkan pengakuan resmi sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

Selain workshop, KBP #9 yang digarap mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 juga menghadirkan pentas seni budaya berupa tari tradisional, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, serta tembang dolanan sebagai bagian dari upaya regenerasi seni tradisi.

Pada sore hari digelar prosesi Megengan yang diisi mocopatan, peluncuran KBP Digital, penandatanganan nota kesepahaman antara KBP dan Universitas Muhammadiyah Malang, serta wilujengan sebagai ungkapan syukur menyambut bulan suci.

Rangkaian acara ditutup dengan Nyadran dan arak-arakan topeng sebagai simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus penguatan nilai spiritual dan kebersamaan warga.

Menuju Penetapan Busana Khas Malang

KBP ke-9 tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan, melainkan ruang dialog dan konsolidasi gagasan untuk merumuskan busana khas Malang yang kontekstual dan disepakati bersama.

Melalui kolaborasi komunitas, budayawan, akademisi, dan masyarakat, festival ini diharapkan menjadi langkah awal menuju regulasi dan pengakuan resmi identitas budaya di tingkat kota. Inovasi digital melalui KBP Digital pun menjadi strategi adaptif agar tradisi tetap hidup dan relevan di era modern.

Dengan sinergi budaya dan edukasi yang berkelanjutan, Malang diharapkan mampu meneguhkan posisinya sebagai kota besar yang tetap berakar kuat pada nilai dan warisan budayanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi