Blitar, Jadikabar.com — Dari tengah suasana hangat Halal Bihalal di Kampung Coklat, gagasan besar tentang masa depan pangan Indonesia mengemuka. Bukan sekadar wacana, tetapi seruan untuk bergerak.
Dalam forum yang digelar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Blitar, Sabtu (11/4/2026), Anas Urbaningrum tampil sebagai narasumber utama dalam Stadium General bertema “Reaktivasi Peran Strategis KAHMI: Ketahanan Pangan sebagai Solusi Masa Depan Blitar dan Indonesia”.
Alih-alih memulai dari konsep yang rumit, Anas justru mengajak peserta melihat realitas sederhana: bangsa yang kuat selalu dimulai dari ketahanan pangannya. Dari titik itu, ia mengurai bagaimana peran organisasi seperti KAHMI dapat menjadi bagian dari solusi.
“Kalau pangan kita kuat, maka fondasi bangsa ini juga kuat. Tapi itu tidak cukup hanya dengan kebijakan—harus ada gerakan bersama,” ujarnya.
Gagasan tersebut kemudian mengalir pada pentingnya reaktivasi peran strategis KAHMI. Menurut Anas, kekuatan utama KAHMI bukan hanya pada jumlah anggotanya, tetapi pada kualitas relasi yang dimiliki. Ia menyebut dua pilar utama: bonding social capital sebagai kekuatan internal yang solid, dan bridging social capital sebagai kemampuan menjangkau serta berkolaborasi lintas sektor.
Dalam narasinya, pluralitas justru diposisikan sebagai aset. Perbedaan latar belakang alumni, termasuk di Blitar yang kental dengan dinamika sosial-keagamaan, menjadi modal untuk membangun jejaring yang luas dan produktif.
Lebih jauh, Anas menggeser diskusi dari tataran ide menuju makna praksis. Ia menegaskan bahwa kebenaran tidak boleh berhenti sebagai konsep abstrak. “Kebenaran itu di bumi namanya kebaikan dan kemaslahatan. Ukurannya sederhana: sejauh mana memberi manfaat bagi banyak orang,” tegasnya.
Perspektif tersebut kemudian dikaitkan dengan strategi pembangunan. Ketahanan pangan, menurutnya, dapat diwujudkan melalui penguatan potensi lokal, pemberdayaan desa, serta sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
Dalam refleksi historisnya, Anas mengajak peserta belajar dari masa Soeharto yang dinilai berhasil membangun fondasi ketahanan pangan dalam situasi stabil, sekaligus memahami konteks berbeda pada era Soekarno yang masih berada dalam fase revolusi.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung pengalaman Iran sebagai contoh bagaimana konsistensi ideologi dan disiplin implementasi mampu menjaga ketahanan sebuah bangsa di tengah tekanan global.
Namun, Anas mengingatkan bahwa keberhasilan tidak bisa ditiru secara mentah. Ia mengajak peserta untuk mengambil “saripati” dari setiap kisah sukses—yakni semangat, proses, dan ketekunan—untuk kemudian diterjemahkan secara kreatif sesuai konteks masing-masing daerah.
“Tidak semua harus jadi Kampung Coklat. Tapi spirit membangun dari kecil, konsisten, dan berdampak—itu yang harus kita ambil,” ujarnya.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Bambang Dwi Purwanto yang mewakili Bupati Blitar, Agus Machfud Fauzi, Pimpinan DPRD Kabupaten Blitar Susi Nalurita, jajaran Kepala OPD, serta para alumni HMI dari berbagai sektor.
Lebih dari sekadar forum silaturahmi, Halal Bihalal ini menjelma menjadi ruang konsolidasi gagasan. Dari Blitar, pesan itu ditegaskan: ketahanan pangan bukan hanya isu sektor pertanian, tetapi agenda strategis yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Dan KAHMI, dengan jejaring dan kapasitasnya, didorong untuk tidak hanya menjadi penonton—melainkan pelaku utama dalam menghadirkan solusi nyata bagi masa depan bangsa. (GF)












