Legenda Kedai Kopi hingga Ruang Publik Modern.

Avatar photo

JadiKabar.com – Konon, kisah kopi bermula dari seekor kambing. Di dataran tinggi Kaffa, Ethiopia, pada abad ke-9, seorang penggembala bernama Kaldi melihat kambing-kambingnya menari gelisah setelah memakan buah merah dari semak liar. Cerita ini—lebih mitos ketimbang arsip—menjadi pintu masuk yang romantik bagi sejarah kopi. Namun sejarawan percaya bahwa konsumsi kopi benar-benar tumbuh di wilayah selatan Laut Merah, di Yaman, sekitar abad ke-15. Di kota pelabuhan Mocha, para sufi meminum seduhan kopi untuk bertahan dalam ibadah malam. Dari sini, kopi bergerak bersama pelayaran, perdagangan, dan kolonialisme—menuju Istanbul, Venice, London, hingga Batavia.

Sejak awal, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah medium yang mengubah ritme sosial, cara berpikir, bahkan politik. Dan kedai kopi—bukan dapur rumah—adalah panggung utamanya.
Di Istanbul abad ke-16, muncul tempat yang kelak dikenal sebagai qahveh khaneh. Di sinilah kopi diseduh, asap rokok menyapu langit-langit, dan cerita bergulir. Orang datang bukan karena lapar, melainkan karena ingin bercakap. Diskusi agama, puisi, ekonomi, bahkan gosip politik berbaur dalam kepulan uap. Tidak mengherankan, pemerintah Ottoman beberapa kali mencoba melarangnya. Kafe dianggap terlalu berisik—bukan oleh suara, tetapi oleh ide.
Setelah itu kopi menyeberang ke Eropa. London abad ke-17 mengenal coffeehouse sebagai universitas seharga satu penny (karena harga secangkirnya satu koin). Di sinilah kaum pedagang, penulis, dan ilmuwan bertukar gagasan. Lloyd’s of London, misalnya, lahir dari coffeehouse di pelabuhan—tempat para pemilik kapal dan penjamin duduk pada meja yang sama.

Di Nusantara, kopi hadir sebagai komoditas kolonial. Tanam Paksa abad ke-19 menjadikan kopi salah satu tulang punggung ekonomi Hindia Belanda. Namun kedai kopi dalam arti modern baru menyebar lebih belakangan, ketika kota mulai membentuk kelas pekerja dan pelajar yang haus akan ruang publik terjangkau.

Kedai kopi mencapai masa jayanya ketika ia menjadi ruang yang nyaris egaliter: orang kaya dan miskin, cendekia dan pegawai, duduk pada kursi yang sama. Di Barat, ini terjadi pada abad ke-18 hingga 19; di Asia Tenggara, sebagian besar pada abad ke-20. Kedai kopi bukan hanya tempat singgah. Ia adalah ruang penundaan: orang menunda pulang, menunda keputusan, menunda kebisuan.

Sosiolog menyebutnya “third place”—ruang ketiga setelah rumah dan kantor. Di sini kita bertukar pengalaman di luar hierarki keluarga atau pekerjaan. Secangkir kopi adalah tiket murah untuk memasuki percakapan.
Di banyak kota, kedai kopi bahkan menjadi ruang redaksi informal. Berita lahir dari obrolan. Wacana politik menghangat. Aktivis merencanakan aksi. Budayawan merumuskan manifesto. Tak jarang, pemerintah mencurigainya. Sejarah berulang: setiap negara punya versi sendiri tentang kecurigaan terhadap meja kopi.

Di balik romantika uap dan aroma, kopi adalah bisnis raksasa. Secara global, ia termasuk komoditas pertanian paling diperdagangkan setelah minyak bumi. Produksi dunia mencapai jutaan ton per tahun, dengan Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Ethiopia sebagai produsen utama. Indonesia—dengan arabika dari Sumatra dan robusta dari Lampung—masih menempati posisi penting.
Rantai nilai kopi panjang dan tidak selalu adil. Harga biji di tingkat petani sering kali kecil dibanding harga di cangkir kota. Di sinilah kebijakan publik diuji: apakah negara memastikan akses pembiayaan, teknologi pascapanen, dan stabilitas harga? Apakah petani dilindungi dari fluktuasi pasar global? Jawabannya menentukan apakah aroma kopi yang kita hirup juga mengandung keadilan.

Kedai kopi hari ini: estetika, koneksi internet, dan identitas

Memasuki abad ke-21, kedai kopi berubah wujud. Interior minimalis, latte art, dan koneksi Wi-Fi menggantikan meja kayu dan cangkir enamel. Kedai menjadi tempat kerja digital; pelanggan datang dengan laptop, bukan koran. Di media sosial, kopi menjadi simbol gaya hidup: single origin, pour over, cold brew. Bahasa teknis menggantikan obrolan santai.Namun fungsi dasarnya tetap: ia ruang pertemuan.

Di kota-kota Indonesia, kedai kopi tumbuh pesat—sejalan dengan urbanisasi dan kelas menengah baru. Di satu sisi, ini pertanda sehat: kota butuh ruang aman untuk bertukar pikiran. Di sisi lain, muncul pertanyaan: apakah kedai kopi kini eksklusif? Harga secangkir bisa sama dengan setengah hari upah harian di beberapa daerah. Maka demokratisasi ruang perlu dijaga. Ruang publik tak boleh hanya milik mereka yang mampu membeli estetika.

Pengaruh sosial dan politik kedai kopi tidak selalu kasat mata. Di sinilah opini publik terbentuk, jauh sebelum survei dan trending topic. Orang memeriksa kembali keyakinannya setelah mendengar argumen lawan bicara. Di kedai kopi, politik kembali menjadi percakapan, bukan hanya propaganda.
Pada masa tertentu, negara memanfaatkan ini. Beberapa pemerintah daerah mendorong literasi UMKM kopi sebagai strategi ekonomi kreatif. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa disinformasi juga menyebar di meja kopi. Maka literasi menjadi kunci: ruang publik tidak cukup ramai; ia harus cerdas.
Dalam setiap cangkir kopi, terdapat kontradiksi kecil. Ia minuman sederhana, tetapi melibatkan jaringan global. Ia akrab bagi petani desa, tetapi juga simbol urban modernitas. Ia demokratis, tetapi sekaligus berisiko elitis. Barangkali di sinilah daya tariknya: kopi menyatukan yang tak seragam.
Bagi penulis, kedai kopi adalah ruang kontemplasi. Bunyi sendok mengenai gelas seperti tanda baca. Orang yang datang bukan sekadar pelanggan; mereka adalah pejalan yang singgah sebentar, menata pikirannya, lalu melanjutkan hidup. Kopi, pada akhirnya, adalah ritual kecil untuk menunda kesunyian.

Dan jika kita kembali ke legenda Kaldi, mungkin kambing-kambing itu menari bukan karena kafein. Mereka menari karena menemukan cara baru melihat dunia—lebih terjaga, lebih gelisah, lebih ingin tahu. Kedai kopi, dari Istanbul hingga Jakarta, dari Mocha hingga Mandailing, masih merawat kegelisahan itu.

Ada kopi ada cerita, lain kopi lain cerita. Tak ada kopi, Tak usah banyak cerita. Mari ngopi, Kita Bercerita.

Horas Hubanta Haganupan.
Horas …Horas … Horas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi