Berita  

Perang Topat, Simbol Kerukunan Islam–Hindu yang Mengakar di Lombok

Avatar photo
Perang Topat, Simbol Kerukunan Islam–Hindu yang Mengakar di Lombok
Foto Istimewa: Perang Topat, Simbol Kerukunan Islam–Hindu yang Mengakar di Lombok

Lombok Tengah, Jadikabar.com – Di Lombok, harmoni bukan sekadar jargon. Ia hidup, bergerak, dan dirayakan dalam tradisi sakral bernama Perang Topat, sebuah ritual unik yang secara turun-temurun menjadi simbol kerukunan antara umat Islam dan Hindu Sasak. Tahun ini, puncak Perang Topat digelar pada 4 Desember 2025 di Taman Lingsar, Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, NTB.

Tradisi ini diyakini sudah ada sejak era Kerajaan Karangasem di Lombok pada abad ke-18. Raja-raja Bali yang memerintah kala itu membangun Pura Lingsar sebagai tempat pemujaan, namun menariknya, ruang suci itu juga menghormati kepercayaan lokal Sasak Islam Wetu Telu. Dari titik persentuhan itu lahirlah ritual bersama yang kemudian berkembang menjadi Perang Topat bukan sebagai pertikaian, tetapi sebagai “perang damai”.

Penentuan hari puncak Perang Topat tak sembarangan. Waktu pelaksanaannya ditandai dengan bergugurnya daun waru, atau masyarakat menyebutnya rarak kembang waru. Upacara selalu dilaksanakan seusai salat Asar, saat cahaya sore membelah bukit-bukit Lingsar.

Sebelum topat-topat itu beterbangan, dua kelompok agama menjalankan ritual sesuai keyakinannya.
• Umat Hindu melakukan rangkaian Pujawali di Pura Lingsar.
• Umat Muslim melaksanakan ritual di area suci Kemaliq.

Dalam prosesi yang sarat makna itu, umat Hindu juga melanjutkan ritualnya di Kemaliq titik sakral yang menjadi simbol bertemunya dua keyakinan dalam keadaan suci.

“Kita di situ menyatu tapi tidak satu,” tutur Arman Hadi, pengelola Kemaliq Lingsar, menggambarkan nilai kebersamaan yang tetap menghormati identitas masing-masing.

Salah satu rangkaian penting adalah penyembelihan kerbau. Kerbau dipilih karena diizinkan oleh kedua agama.
• Sapi tabu bagi umat Hindu, sebab dianggap sebagai sumber kehidupan.
• Babi haram bagi umat Muslim.

Karenanya, kerbau menjadi hewan persembahan yang menghormati batas keyakinan kedua belah pihak. Sebelum disembelih, hewan kerbau diarak mengelilingi Pura Lingsar sebuah penghormatan simbolik kepada dua komunitas yang merawat tradisi ini.

“Hewan kerbau kita beli dari sumbangan para penziarah, ditambah sedekah warga,” kata Arman.

Salah satu momen yang selalu memancing penasaran adalah ritual botol momot botol kosong yang diletakkan di area Kemaliq. Menurut kepercayaan masyarakat, botol-botol itu akan terisi air secara misterius, terlepas dari musim.

Air di dalam botol kemudian diperebutkan warga karena diyakini memiliki banyak khasiat:
• menyembuhkan penyakit,
• mendatangkan kemakmuran lahan pertanian,
• bahkan mempercepat jodoh.

“Musim kemarau atau hujan, botol-botol ini tetap terisi. Bagi kami, itu petanda panen tahun ini akan baik,” ujar Arman dengan keyakinan penuh.

Setelah rangkaian Hindu selesai dengan Pujawali, umat Muslim menggelar zikir dan doa malam sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Kedua ritual berbeda itu tetap berjalan dalam satu ruang harmoni, memperlihatkan bahwa perbedaan bukanlah dinding, melainkan jembatan.

Perang Topat bukan hanya tradisi melempar ketupat. Ia adalah cermin tua Lombok: masyarakat yang berbeda agama, berbeda ritual, tetapi tetap bisa duduk dalam satu meja budaya yang sama.

rsl.
Biro Lombok Tengah

Penulis: RuslanEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *