Sumenep, JADIKABAR.COM – Polemik penetapan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional terus menjadi perbincangan di ruang publik. Menyikapi hal tersebut, Pengurus Rayon Hizbullah Huda Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, menggelar Bahtsul Masail se-Madura sebagai forum kajian keilmuan berbasis tradisi pesantren.
Kegiatan Bahtsul Masail ini berlangsung di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, pada Sabtu, 10 Januari 2026, mulai pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB. Forum tersebut diikuti oleh kader PMII serta perwakilan pesantren dari berbagai daerah di Madura.
Tema yang diangkat dalam Bahtsul Masail kali ini adalah penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional, sebuah isu yang hingga kini masih menimbulkan perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Perbedaan tersebut tidak hanya muncul dalam kajian sejarah dan politik, tetapi juga dalam perspektif moral dan etik.
Ketua Rayon Hizbullah Huda PMII Guluk-Guluk, M. Zainur Ridho, menjelaskan bahwa kajian ini sengaja dilakukan dengan pendekatan hukum Islam (fiqih), agar pembahasan tidak terjebak pada perdebatan politik praktis semata.
“Kami mengangkat isu penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional karena masih terdapat gap dan perbedaan pandangan di masyarakat. Melalui Bahtsul Masail ini, kami mencoba mengkajinya dalam bingkai hukum agama dan tradisi keilmuan pesantren,” ujar Zainur Ridho kepada wartawan Jadikabar.com.
Ia menambahkan, Bahtsul Masail merupakan metode diskusi khas pesantren yang menekankan pada argumentasi ilmiah, rujukan kitab-kitab klasik, serta musyawarah kolektif dalam menyikapi persoalan kontemporer. Oleh karena itu, forum ini dinilai relevan untuk membahas isu kebangsaan yang kompleks dan sensitif.
Lebih lanjut, Ridho menyebut bahwa penyelenggaraan Bahtsul Masail ini juga dilatarbelakangi oleh masih minimnya kegiatan serupa di lingkungan PMII, khususnya di wilayah Madura.
“Dalam catatan kami, Rayon Hizbullah Huda menjadi PMII se-Madura yang kedua kali menggelar Bahtsul Masail, setelah sebelumnya pernah dilaksanakan di Kabupaten Bangkalan,” ungkapnya.
Melalui forum ini, PMII Guluk-Guluk berharap dapat menghadirkan ruang diskusi yang sehat, objektif, dan berbasis keilmuan pesantren, sekaligus memperkuat peran mahasiswa dalam merespons isu-isu kebangsaan secara kritis namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Bahtsul Masail tersebut juga menjadi bagian dari upaya PMII dalam menjaga tradisi intelektual Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), serta mendorong mahasiswa agar mampu berkontribusi dalam diskursus publik secara bertanggung jawab dan beradab.
Pewarta: Moh. Unais Addaroni












