Daerah  

PULUHAN PELAJAR DAN GURU DI MAGELANG KERACUNAN USAI SANTAP MBG, DISTRIBUSI DIHENTIKAN SEMENTARA

Avatar photo
PULUHAN PELAJAR DAN GURU DI MAGELANG KERACUNAN USAI SANTAP MBG, DISTRIBUSI DIHENTIKAN SEMENTARA
PULUHAN PELAJAR DAN GURU DI MAGELANG KERACUNAN USAI SANTAP MBG, DISTRIBUSI DIHENTIKAN SEMENTARA

MAGELANG, JADIKABAR – Puluhan siswa dari SMP Negeri 10 dan SMAN 3 Magelang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan berupa diare, mual, hingga sakit perut setelah mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (21/1).

Menyikapi kejadian tersebut, pihak sekolah memutuskan menghentikan sementara pendistribusian MBG sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari dinas kesehatan.

Kepala SMPN 10 Magelang, Sri Mulyani, mengungkapkan bahwa keluhan awal muncul pada Rabu siang, saat seorang siswa mengeluhkan sakit perut dan mendapat penanganan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Namun, dalam beberapa jam berikutnya, jumlah siswa dengan keluhan serupa terus bertambah.

“Awalnya hanya satu anak, tapi menjelang siang semakin banyak yang mengeluh. Bahkan ada yang sampai muntah dan diare,” kata Sri Mulyani saat dikonfirmasi, Jumat (23/1).

Ia menyebutkan, sedikitnya 70 siswa dari kelas VII hingga IX mengalami gangguan pencernaan.

Tak hanya siswa, lima guru dan karyawan sekolah juga merasakan gejala serupa setelah mengonsumsi menu MBG, sehingga total korban mencapai 75 orang.

“Keluhannya bervariasi, mulai dari mual, muntah, hingga diare. Reaksi tidak langsung, rata-rata muncul sekitar 12 jam setelah makan,” jelasnya.

Menu MBG yang dikonsumsi saat itu antara lain nasi, telur puyuh saus mentega, cah pokcoy, tempe kremes, tempe krispi, tahu, sosis, serta buah semangka potong.

Akibat kejadian tersebut, pihak sekolah menghentikan sementara penyaluran MBG pada Jumat (23/1) dan mengimbau para siswa untuk membawa bekal dari rumah.

“Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya sebelum hasil laboratorium keluar. Untuk sementara, anak-anak diminta membawa bekal sendiri,” tegas Sri Mulyani.

Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kota Magelang, Larsita, menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan Kota Magelang bersama Puskesmas Magelang Tengah telah melakukan investigasi awal terkait dugaan keracunan makanan tersebut.

Menurut Larsita, laporan resmi baru diterima pada Kamis (22/1) sekitar pukul 11.30 WIB, meskipun keluhan kesehatan sudah dirasakan sejak Rabu malam.

Usai menerima laporan, tim langsung melakukan penyelidikan epidemiologi di SMPN 10 Magelang serta investigasi lingkungan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rejowinangun Utara.

“SPPG Rejowinangun Utara mendistribusikan sebanyak 1.853 porsi makanan ke tiga sekolah, yakni SD Rejowinangun Utara 5, SMPN 10, dan SMAN 3 Magelang,” ujar Larsita.

Dari hasil investigasi sementara, menu yang paling dicurigai sebagai penyebab gangguan kesehatan adalah telur puyuh saus mentega.

Berdasarkan hasil wawancara, sekitar 24,08 persen responden mengaku rasa telur puyuh tersebut tidak enak.

Selain SMPN 10, Puskesmas Magelang Tengah juga menerima laporan adanya siswa SMAN 3 Magelang yang mengalami keluhan serupa usai mengonsumsi MBG pada hari yang sama.

Hingga Jumat (23/1) pukul 08.00 WIB, sebanyak 946 responden telah mengisi kuesioner, dengan 263 orang dilaporkan mengalami sakit.

Gejala yang paling banyak dikeluhkan meliputi sakit perut (88 persen), diare (74 persen), dan perut melilit (58 persen). Dinas Kesehatan Kota Magelang telah mengambil sampel makanan dan air untuk diuji di Laboratorium Kesehatan Daerah, serta dilanjutkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah di Semarang.

“Investigasi masih terus berjalan. Kami juga akan melakukan pemeriksaan terhadap penjamah makanan, analisis lanjutan, serta menetapkan status dan langkah penanganan setelah seluruh hasil laboratorium diterima,” pungkas Larsita.

Penulis: Abrian tamtamaEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *