MAGELANG, JadiKabar. Com– Alarm Early Warning System (EWS) di Dusun Tanjung, Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, berbunyi pada dini hari Kamis (15/1/2026).
Menyusul peringatan tersebut, sebanyak 154 warga dievakuasi ke Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Ngadiharjo sebagai langkah mitigasi potensi longsor.
Sekretaris Desa Ngadiharjo, Haidar Imama, menjelaskan bahwa awalnya evakuasi hanya direncanakan untuk tujuh rumah warga yang terdampak longsor pada Rabu (14/1).
Namun, saat proses evakuasi akan dilakukan, alarm EWS berbunyi menandakan meningkatnya potensi bahaya.
“Awalnya kami hendak mengevakuasi tujuh rumah. Tapi saat persiapan, EWS berbunyi dan terdengar oleh seluruh warga dusun karena wilayah ini rawan longsor,” ujar Haidar saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan, setelah dilakukan asesmen oleh BPBD Kabupaten Magelang bersama relawan, jumlah warga yang perlu dievakuasi bertambah.
Berdasarkan hasil pengecekan lapangan, terdapat potensi longsor yang tinggi di beberapa titik pemukiman.
“Ini bukan pengungsian, tetapi evakuasi atau pergeseran sementara. Dari asesmen BPBD, sekitar 80 jiwa harus segera dipindahkan karena potensi longsor sangat tinggi. Evakuasi dimulai sekitar pukul 02.30 WIB hingga pagi hari,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, jumlah warga yang dievakuasi terus bertambah hingga mencapai 154 jiwa.
Haidar menyebut, angka tersebut masih berpotensi meningkat tergantung hasil pemantauan lanjutan.
“Data terakhir sebanyak 154 jiwa sudah dievakuasi dan masih mungkin bertambah,” tegasnya.
Sementara itu, warga untuk sementara ditempatkan di Balkondes Ngadiharjo hingga hasil asesmen lanjutan dari BPBD keluar pada sore hari.
“Kita menunggu hasil observasi BPBD sekitar pukul 16.00 WIB. Jika kondisi dinyatakan aman, warga bisa kembali ke rumah. Ini murni langkah mitigasi awal,” katanya.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono, mengatakan EWS di Ngadiharjo merupakan sistem peringatan dini berbasis intensitas curah hujan.
“Ketika hujan dengan intensitas tinggi, alat akan berbunyi sebagai indikasi potensi terjadinya longsor di beberapa titik,” jelas Edi.
Menurutnya, langkah yang diambil merupakan bentuk kesiapsiagaan dan upaya penyelamatan jiwa warga.
“Kami melakukan pergeseran sementara ke Balkondes, bukan pengungsian permanen. Jika kondisi sudah aman dan tidak ada ancaman, warga akan dipersilakan kembali,” ujarnya.
Edi menambahkan, proses evakuasi dilakukan secara mandiri oleh warga sejak pukul 02.00 WIB dengan dukungan BPBD, relawan, OPRB, dan SAR.












