MALANG, JadiKabar. Com- Kejadian keracunan makanan menimpa 9 siswa MI Al Maarif 9 Desa Randuagung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, setelah mengonsumsi Makanan Bergizi (MBG) belum lama ini. Para siswa mengalami gejala mual, muntah, sakit perut, dan pusing setelah makan MBG yang disediakan oleh SPPG Randuagung 3 Yayasan Sumber Pangan Nuswantoro Lancar.
“Kami sudah melakukan konfirmasi dan pengecekan kondisi siswa yang terkena, serta memberikan kompensasi biaya pengobatan kepada para korban,” kata Kepala SPPG Yayasan Sumber Pangan Nuswantoro Lancar.
Pihak sekolah dan SPPG telah mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi kejadian serupa dan mencegah penyebaran berita negatif. Mereka juga berkoordinasi dengan Korwil SPPG Kecamatan Singosari untuk memastikan kejadian ini tidak terulang.
Daftar nama korban keracunan:
1. Zulfa Ulin Nuha (rawat jalan)
2. Alea Savana Biha (rawat jalan)
3. Earlyta Arsyfa Salsabila (rawat jalan)
4. M Hafidz Maulana Zafran (rawat inap di RS Muslimat)
5. Ahmad Ajjaj Badruszaman (rawat jalan)
6. Tyto Alkalifi (rawat jalan)
7. Rahmad Tegar Rifa’i (rawat jalan)
8. Zulfa Ulin Nuha (rawat jalan)
9. Alea Savana Biha (rawat jalan)
Anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi PDI Perjuangan, Zulham Ahmad Mubarok, memberikan tanggapan atas kejadian tersebut. “Total ada sembilan siswa. Enam siswa dipulangkan pada 11 Februari, kemudian dua siswa menyusul dipulangkan pada 12 Februari karena kondisinya berangsur membaik. Tinggal satu siswa atas nama Hafidz yang sempat dirawat di puskesmas dan kemudian dirujuk ke RS Muslimat karena suhu badannya naik dan keluhan tidak membaik,” jelasnya, pada Senin (16/2/2026).
Dengan demikian, satu siswa masih menjalani perawatan lanjutan di RS Muslimat, sementara delapan siswa lainnya telah diperbolehkan pulang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, menu MBG hari itu terdiri dari nasi putih, tempe sambal ijo, ayam kungpao, tumis baby buncis tauco, serta buah naga. Dari keterangan siswa, diduga terjadi perubahan rasa dan bau pada tempe sambal ijo serta tumis baby buncis tauco.
“Informasi dari siswa menyebut ada perubahan rasa dan bau pada tempe sambal ijo dan tumis baby buncis tauco. Dua menu itu yang diduga menjadi penyebab,” ungkap Zulham.
Dari analisa di lapangan, pihak sekolah sebelumnya meminta agar MBG dikirim pukul 06.45 WIB untuk kebutuhan sarapan pagi siswa. Namun dalam pelaksanaannya, makanan baru dibagikan pukul 08.45 WIB. Selisih waktu tersebut diduga menjadi celah terpaparnya makanan oleh bakteri sebelum dikonsumsi.
Terkait insiden ini, pihak SPPG Yayasan Sumber Pangan Nuswantoro Lancar selaku penyedia MBG disebut telah mengambil sejumlah langkah. Kepala SPPG melakukan konfirmasi dan pengecekan langsung kondisi siswa di puskesmas dan RS Muslimat. Selain itu, pihak SPPG juga melakukan kunjungan intensif kepada siswa terdampak, memberikan kompensasi biaya pengobatan, serta berkoordinasi dengan Korwil SPPG Kecamatan Singosari guna mengantisipasi kejadian serupa.
Zulham menegaskan agar kejadian ini tidak ditutup-tutupi dan harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh. “Ini menyangkut kesehatan anak-anak. Harus transparan dan dievaluasi total, mulai dari proses produksi, distribusi hingga pengawasan mutu. Program baik jangan sampai tercoreng karena kelalaian teknis,” pungkasnya.












