MALANG, Jadikabar.com– Menjelang Hari Raya Idulfitri, harga cabai rawit masih menjadi salah satu penyumbang utama inflasi daerah. Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi yang membahas sejumlah komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga di pasaran.
Dalam rapat tersebut disebutkan bahwa cabai rawit masuk dalam tiga besar komoditas yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap inflasi. Kondisi ini dipengaruhi oleh produksi cabai yang saat ini masih terbatas karena sebagian besar tanaman cabai di tingkat petani masih berusia sekitar 1 hingga 2 bulan.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang menjelaskan, bahwa perkirakan, panen raya cabai rawit baru akan terjadi pada bulan Mei mendatang. Masa panen tersebut diperkirakan berlangsung cukup panjang, yakni mulai Mei hingga sekitar Oktober,jelas Ir. Avicenna Medisica Saniputera, M.T., M.H.. B pada Jumat (6/3/2026).
“Untuk saat ini kondisi tanaman cabai masih berumur 1 sampai 2 bulan. Panen raya kemungkinan mulai bulan Mei, dan biasanya berlangsung sampai sekitar Oktober,” ujarnya ketika di temui di pendopo.
Meski begitu, kenaikan harga cabai rawit menjelang Lebaran diperkirakan tidak akan terlalu tinggi. Hal ini karena mulai adanya pasokan cabai dari daerah lain seperti Banyuwangi dan Blitar yang sudah lebih dulu memasuki masa panen.
Beliau menambahkan, Informasi dari sejumlah pasar juga menunjukkan bahwa harga cabai rawit mulai berangsur turun seiring bertambahnya pasokan dari luar daerah.
“Pemerintah bersama sejumlah pihak terkait juga tengah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas harga cabai di masa mendatang. Salah satunya melalui program pengaturan waktu tanam cabai agar produksi dapat lebih merata sepanjang tahun”, imbuhnya.
Ia menerangkan, bahwa program tersebut dikoordinasikan bersama Bank Indonesia dengan tujuan mengurangi risiko lonjakan harga akibat ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan.
“Selain itu, modernisasi sektor pertanian juga mulai didorong dengan penerapan sistem Smart Farming. Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah penggunaan greenhouse atau rumah kaca dalam budidaya cabai”, ungkapnya.
Avi (sapaan akrba) menerangkan, bahwa dengan sistem greenhouse, petani diharapkan dapat menanam cabai sepanjang tahun tanpa terlalu terpengaruh kondisi cuaca, terutama saat musim hujan yang sering menyebabkan serangan penyakit tanaman dan berpotensi menyebabkan gagal panen.
“Melalui berbagai langkah tersebut, diharapkan produksi cabai dapat lebih stabil sehingga fluktuasi harga di pasaran dapat ditekan, khususnya menjelang momen-momen besar seperti Hari Raya Idulfitri”, tutupnya.












