Berita  

Senja Terakhir di Buncitan, Kisah Duka Seorang Kepala Desa yang Pergi dalam Sunyi

Avatar photo
Senja Terakhir di Buncitan, Kisah Duka Seorang Kepala Desa yang Pergi dalam Sunyi
Foto artikel Senja Terakhir di Buncitan, Kisah Duka Seorang Kepala Desa yang Pergi dalam Sunyi

Sidoarjo JADIKABAR.COM – Senja itu datang seperti biasa di Desa Buncitan, Kecamatan Sedati. Langit perlahan meredup, aktivitas warga mulai melambat, dan kantor desa yang biasanya menjadi pusat urusan masyarakat bersiap menutup hari.

Namun, Minggu (4/5/2026) petang itu berubah menjadi momen yang tak akan mudah dilupakan.

Di dalam ruang kerjanya sendiri, Kepala Desa Buncitan, Mujiono, ditemukan telah meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WIB. Kabar itu menyebar cepat, menyisakan keheningan yang berbeda, bukan sekadar sunyi senja, tetapi duka yang menggantung di benak banyak orang.

Ruang yang selama ini menjadi tempat mengambil keputusan, menerima keluhan warga, dan merancang pembangunan desa, tiba-tiba menjadi saksi peristiwa yang mengejutkan.

Petugas dari Polsek Sedati bersama tim Reskrim segera tiba di lokasi setelah menerima laporan warga. Proses olah tempat kejadian perkara (TKP) dilakukan dengan melibatkan tim identifikasi dari kepolisian untuk memastikan setiap detail tercatat secara cermat.

Garis polisi terpasang. Aktivitas terhenti. Warga hanya bisa menyaksikan dari kejauhan dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab.

Kabar kepergian Mujiono dengan cepat menjadi perbincangan luas. Namun di tengah arus informasi yang beredar, aparat kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung.

Belum ada kesimpulan resmi yang dapat disampaikan kepada publik mengenai penyebab pasti peristiwa tersebut.

Masyarakat pun diimbau untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

Dalam situasi seperti ini, fakta harus didahulukan, bukan asumsi.

Beban yang Tak Selalu Terlihat

Seorang kepala desa bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah penghubung antara kebijakan dan kebutuhan masyarakat, antara harapan warga dan realitas di lapangan.

Tugas itu sering kali datang tanpa jeda.

Mengelola anggaran, menyelesaikan persoalan warga, hingga menjaga stabilitas sosial di lingkungan desa semuanya berpadu menjadi tanggung jawab yang tidak ringan.

Namun, tidak semua beban terlihat dari luar.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik jabatan dan tanggung jawab, ada sisi manusia yang juga memiliki batas.

Di Desa Buncitan, suasana berubah. Warga yang biasanya datang ke kantor desa untuk mengurus administrasi kini datang dengan rasa kehilangan.

Sebagian mengenang sosoknya, sebagian lainnya masih mencoba memahami apa yang terjadi.

Tidak ada suara yang lebih dominan selain doa dan harapan agar keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.

Hingga saat ini, proses penyelidikan masih terus berjalan. Pihak kepolisian mengumpulkan keterangan dan bukti untuk memastikan kronologi yang sebenarnya.

Publik diharapkan menunggu hasil resmi yang nantinya akan disampaikan oleh aparat berwenang.

Di tengah berbagai pertanyaan yang belum terjawab, satu hal yang tetap penting dijaga adalah empati.

Karena di balik sebuah peristiwa, selalu ada keluarga yang berduka dan masyarakat yang perlu belajar untuk lebih peduli.

Pewarta: Sult

Penulis: SultonEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi