BANYUWANGI, JADIKABAR.COM – Peningkatan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Banyuwangi menjadi perhatian serius berbagai pihak. Data Dinas Kesehatan setempat hingga Oktober 2025 mencatat 289 kasus baru Orang Dengan HIV (ODHIV) serta 95 kasus AIDS, dengan angka kematian mencapai 95 orang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan HIV/AIDS bukan lagi isu tersembunyi, melainkan tantangan nyata kesehatan masyarakat yang membutuhkan pendekatan terpadu.
Kepala bidang kesehatan masyarakat Banyuwangi menegaskan bahwa tren penularan kini mengalami pergeseran pola.
“Penularan saat ini lebih banyak terjadi melalui perilaku seksual berisiko dan interaksi personal yang semakin tertutup. Teknologi digital, termasuk aplikasi pertemanan, mempermudah perkenalan tanpa kontrol sosial,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Menurutnya, fenomena ini tidak bisa disederhanakan sebagai persoalan moral semata, tetapi harus dilihat sebagai tantangan edukasi kesehatan publik di era digital.
Sejumlah tokoh masyarakat di Banyuwangi juga menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya perilaku berisiko yang berpotensi memperluas penyebaran HIV/AIDS. Mereka mendorong penguatan edukasi keluarga, literasi digital, serta penyuluhan kesehatan reproduksi bagi generasi muda.
Aktivis kesehatan masyarakat Banyuwangi, dalam forum diskusi pencegahan HIV, menekankan pentingnya pendekatan tanpa stigma.
“Semakin masyarakat memberi label negatif, semakin banyak orang takut memeriksakan diri. Padahal deteksi dini adalah kunci penyelamatan,” katanya.
Pemerintah daerah menegaskan akan memperkuat langkah pencegahan menjelang Ramadan 2026 melalui kampanye kesadaran publik, layanan tes sukarela, serta kolaborasi lintas sektor dengan tokoh agama dan komunitas sosial.
Program pencegahan tidak hanya menyasar kelompok berisiko, tetapi juga masyarakat umum, dengan tujuan membangun pemahaman bahwa HIV/AIDS adalah isu kesehatan yang bisa dicegah melalui edukasi, tanggung jawab pribadi, dan dukungan sosial.
Para tenaga medis mengingatkan bahwa penyebaran virus dapat ditekan jika masyarakat berani melakukan pemeriksaan rutin, menghindari perilaku seksual berisiko, serta meningkatkan kesadaran kesehatan reproduksi.
Redaksi menilai, meningkatnya kasus HIV/AIDS harus menjadi momentum bersama untuk memperkuat budaya hidup sehat, bukan untuk menyudutkan kelompok tertentu. Penanganan berbasis empati dan ilmu pengetahuan menjadi fondasi utama dalam melindungi generasi mendatang.
Pewarta: Iriek












