SIDOARJO, JADIKABAR.COM – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo (Harjasda) ke-167 tahun 2026 tak sekadar dirayakan dengan seremoni. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memilih jalan sunyi namun bermakna: ziarah ke makam para mantan bupati dan wakil bupati, sebagai bentuk penghormatan atas fondasi sejarah yang mereka bangun.
Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana bersama jajaran Forkopimda Kabupaten Sidoarjo mengawali rangkaian ziarah dengan Apel Kehormatan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sidoarjo, Senin pagi (26/1/2026). Apel dipimpin Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Fenny Apridawati, diikuti unsur TNI/Polri, pejabat daerah, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan.
Apel kehormatan ini menjadi simbol refleksi: bahwa pembangunan daerah tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan melalui perjalanan panjang para pemimpin terdahulu yang bekerja di masa penuh keterbatasan.
Usai apel, rombongan melakukan tabur bunga di makam Bupati Sidoarjo ke-10, R. Suriadi Kertosuprojo, yang dimakamkan di TMP Sidoarjo. Almarhum memimpin Sidoarjo pada periode 1950–1958, masa krusial pasca-kemerdekaan ketika struktur pemerintahan daerah masih dibangun dari nol.
Di era tersebut, Sidoarjo mulai menata administrasi pemerintahan, pelayanan publik, serta stabilitas wilayah, fondasi awal yang menjadi pijakan kemajuan daerah hingga kini. Doa bersama dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdian beliau.
Rangkaian ziarah kemudian dibagi menjadi beberapa tim untuk mengunjungi makam mantan bupati dan wakil bupati Sidoarjo lainnya, baik yang berada di wilayah Sidoarjo maupun di luar daerah. Setiap tim membawa karangan bunga dan doa, sebagai simbol penghargaan atas kontribusi para tokoh dalam lintasan sejarah pemerintahan daerah.
Salah satu lokasi yang diziarahi adalah Makam Islam Jetis Sidoarjo, tempat peristirahatan terakhir H. A. Chudlori Amir, Bupati Sidoarjo periode 1958–1959.
“Beliau adalah bagian dari pejuang pembangunan Sidoarjo. Dari tangan para pemimpin terdahulu inilah Sidoarjo bisa tumbuh dan berkembang seperti sekarang,” ujar Wabup Hj. Mimik Idayana usai berziarah.
Menurut Hj. Mimik Idayana, ziarah makam mantan kepala daerah bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan pengingat moral bagi generasi penerus pemerintahan agar tetap menjaga amanah rakyat.
“Penghormatan seperti ini harus terus dilakukan bersama. Ini bagian dari rangkaian Harjasda yang rutin, agar kita tidak lupa pada sejarah dan jasa para pendahulu,” tuturnya.
Dalam momentum Harjasda ke-167 ini, ia berharap pembangunan Kabupaten Sidoarjo ke depan semakin inklusif, berkelanjutan, dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
“Kita berdoa bersama agar pembangunan Kabupaten Sidoarjo semakin baik dan masyarakatnya sejahtera,” imbuhnya.
Kegiatan ziarah ini menjadi pesan kuat bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur dan angka pertumbuhan, tetapi juga soal ingatan kolektif, keteladanan, dan keberlanjutan nilai. Dari pusara para pemimpin terdahulu, Sidoarjo menata langkah menuju masa depan dengan tetap berpijak pada sejarahnya.












