Berita  

Perang Sarung di Getasan Berujung Petaka, Pelajar 13 Tahun Meninggal Dunia Usai Kecelakaan

Avatar photo

Getasan, Kabupaten Semarang – Tradisi yang kerap dianggap “mainan anak Ramadan” berubah menjadi tragedi. Seorang pelajar berusia 13 tahun berinisial KWES, warga Desa Tajuk, dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan saat berusaha meninggalkan lokasi bentrokan yang diduga dipicu aksi perang sarung, Minggu dini hari (22/2/2026).

Peristiwa bermula dari komunikasi dua kelompok remaja melalui media sosial. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, kedua kelompok yang berasal dari dua dusun berbeda di Desa Tajuk diduga sepakat bertemu di wilayah Dusun Ngroto sekitar pukul 00.15 WIB.

Menurut laporan aparat setempat, bentrokan sempat terjadi di jalan umum. Dalam situasi yang belum sepenuhnya kondusif, sejumlah remaja berusaha meninggalkan lokasi.
Korban KWES diketahui berboncengan dengan dua rekannya menggunakan sepeda motor Honda Beat. Saat melintas di wilayah Dusun Kendal, Desa Jetak, kendaraan yang mereka gunakan diduga hilang kendali hingga terjadi kecelakaan tunggal.

Dua warga sekitar yang mengetahui kejadian segera melapor ke pihak berwenang. Korban sempat dilarikan ke RSUD dr. Ario Wirawan untuk mendapatkan penanganan medis, namun dinyatakan meninggal dunia akibat luka berat yang dialaminya. Dua rekan korban dilaporkan selamat dan tengah menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Aparat kepolisian bersama jajaran TNI mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut, di antaranya, Dua sarung yang diduga digunakan saat aksi berlangsung, Satu unit sepeda motor
Tiga unit telepon genggam milik remaja yang terlibat, Hingga berita ini diturunkan, aparat masih melakukan pendalaman dan meminta keterangan sejumlah saksi.

Pihak berwenang menegaskan proses penanganan dilakukan sesuai prosedur dan mengedepankan pendekatan pembinaan karena mayoritas yang terlibat masih berstatus anak di bawah umur.

Perang sarung awalnya dikenal sebagai tradisi spontan anak-anak dan remaja saat Ramadan, biasanya dilakukan selepas sahur atau tarawih. Sarung diikat menyerupai cambuk dan digunakan untuk saling “menyentil” sebagai bentuk permainan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, di berbagai daerah, tradisi ini kerap bergeser menjadi ajang adu kekuatan antar kelompok. Bahkan, dalam sejumlah kasus di Indonesia, perang sarung ditemukan dimodifikasi dengan memasukkan benda keras ke dalam gulungan kain, sehingga meningkatkan risiko cedera serius.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran sosial, ruang digital mempermudah konsolidasi massa remaja tanpa pengawasan memadai, sementara kontrol orang tua dan lingkungan sering kali terlambat menyadari potensi konflik.

Peran Orang Tua dan Lingkungan
Aparat bersama pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat telah melakukan koordinasi untuk mencegah kejadian serupa. Edukasi kepada orang tua dan remaja menjadi fokus utama.

Secara sosial, peristiwa ini menjadi alarm keras. Bukan semata soal kenakalan remaja, tetapi soal ekosistem pengawasan. Anak-anak usia 13–14 tahun berada pada fase rentan yaitu rasa ingin diakui tinggi, kontrol risiko rendah.

Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan menjadi pengingat bahwa permainan yang dianggap sepele dapat berubah menjadi konsekuensi fatal.

Penulis: RyoEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi