Harga Plastik Dunia Naik Tajam Imbas Konflik Timur Tengah, Industri dan Konsumen Terimbas

Avatar photo

Jadikabar.com – Harga bahan baku plastik global menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa pekan terakhir, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada pasokan energi dunia.

Berdasarkan laporan pelaku industri dan data perdagangan internasional, harga resin plastik seperti polietilena (PE) dan polipropilena (PP) mengalami kenaikan berkisar 10–25 persen sejak awal Maret 2026, tergantung jenis dan wilayah distribusi.

Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang sempat menembus kisaran USD 90–100 per barel, akibat kekhawatiran terganggunya jalur distribusi energi global.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk yang melibatkan Iran, memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Gangguan pada jalur ini berdampak langsung pada industri petrokimia global, termasuk produksi bahan baku plastik.

Indonesia Masih Bergantung Impor
Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, menyatakan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku seperti nafta dan resin plastik.

“Kenaikan harga global tentu berdampak pada industri dalam negeri karena sebagian bahan baku masih bergantung dari impor,” ujarnya.

Data industri menunjukkan, sekitar 50–60 persen bahan baku plastik di Indonesia masih berasal dari impor, terutama dari kawasan Timur Tengah dan Asia.

Sejumlah pelaku industri mengungkapkan bahwa harga biji plastik di dalam negeri mulai mengalami kenaikan signifikan. Bahkan di beberapa sektor, kenaikan disebut mencapai hingga 30 persen dibandingkan kondisi normal awal tahun.

Dampaknya dirasakan pada sektor:

  • Industri makanan dan minuman
  • Industri kemasan plastik
  • Produk rumah tangga

Kenaikan biaya produksi ini membuat pelaku usaha mulai melakukan penyesuaian harga atau efisiensi operasional.

Harga Produk Konsumen Terancam Naik
Pakar rantai pasok dari Syracuse University, Patrick Penfield, menyebut kenaikan harga plastik akan berdampak langsung pada harga barang konsumsi.

“Produk seperti botol minuman, kemasan makanan, hingga plastik sekali pakai kemungkinan akan mengalami kenaikan harga dalam waktu dekat,” ujarnya.

Sementara itu, ekonom dari NYU Stern School of Business, Joseph Foudy, menilai kenaikan ini sering kali tidak disadari masyarakat.

“Konsumen hanya melihat harga naik, tanpa mengetahui faktor global di baliknya,” katanya.

Dampak Jangka Panjang dan Tantangan Industri
Jika konflik geopolitik terus berlanjut, harga energi diperkirakan tetap tinggi hingga kuartal II 2026. Hal ini berpotensi

  • Mendorong inflasi barang konsumsi
  • Menekan margin industri manufaktur
  • Mengganggu stabilitas rantai pasok global

Di sisi lain, penggunaan bahan alternatif seperti plastik ramah lingkungan atau daur ulang mulai dilirik. Namun, transisi ini membutuhkan investasi besar serta kesiapan teknologi industri.

Penulis: RyoEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi