Malang, Jadikabar – Komitmen menjaga lingkungan hidup di Kota Malang tidak berhenti pada wacana. Puluhan kampung, sekolah, lembaga masyarakat, hingga filantropi yang konsisten merawat lingkungan mendapat apresiasi langsung dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dalam ajang penyerahan hasil penilaian kinerja lingkungan hidup (17/12/2025).
Digelar di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, acara tersebut dihadiri Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, jajaran Forkopimda, Dandim 0833, Plh Kepala DLH Kota Malang, serta para pegiat lingkungan dari berbagai penjuru kota.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan, penghargaan yang diberikan bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk pengakuan atas kerja nyata masyarakat yang dengan kesadaran tinggi menjaga lingkungannya.
“Ini bukan hanya soal hadiah. Ini adalah bentuk penghargaan sekaligus penyemangat bagi warga yang telah berjuang menyelamatkan lingkungan. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi Kota Malang yang bersih, nyaman, dan berkelanjutan,” ujar Wahyu.
Menurutnya, gerakan tersebut sejalan dengan visi unggulan Ngalam Seger dan Ngalam Ricik yang menempatkan kebersihan dan keberlanjutan lingkungan sebagai prioritas pembangunan. Bahkan, kepedulian Kota Malang terhadap isu lingkungan mendapat perhatian langsung dari Menteri Lingkungan Hidup.
“Alhamdulillah, Kota Malang termasuk daerah yang dinilai serius dan konsisten dalam urusan lingkungan hidup. Ini tentu menjadi tanggung jawab bersama untuk terus dijaga,” katanya.
Meski demikian, Wahyu menegaskan Pemkot Malang memilih langkah realistis dalam menetapkan target ke depan. Fokus utama diarahkan pada peningkatan ruang terbuka hijau (RTH), penguatan budaya bersih, serta pengelolaan sampah berbasis kesadaran masyarakat.
“Sampah yang dibuang tidak pada tempatnya masih menjadi persoalan klasik. Kalau ini bisa kita atasi bersama, dampaknya akan sangat besar, termasuk dalam mencegah banjir,” tegasnya.
Ia menambahkan, upaya pembersihan sedimen dan sampah di saluran air yang dilakukan melalui kerja bakti bersama warga terbukti mampu menekan kejadian banjir pascahujan. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat posisi Kota Malang sebagai wilayah cekungan yang berpotensi menerima banjir kiriman.
“Kota Malang bisa terdampak meskipun tidak hujan. Karena itu, kesadaran menjaga lingkungan harus konsisten, tidak hanya di kota, tetapi juga di Malang Raya,” imbuhnya.
Sementara itu, Plh Kepala DLH Kota Malang Raymond menjelaskan, kegiatan ini merupakan ajang apresiasi sekaligus pembinaan bagi masyarakat, lembaga pendidikan di bawah Kemendikbud dan Kemenag, pesantren, hingga lembaga filantropi yang fokus pada isu lingkungan hidup.
“Penghargaan ini dilaksanakan secara kolaboratif antara Pemerintah Kota Malang, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Kementerian Lingkungan Hidup,” jelas Raymond.
Sebanyak sekitar 50 penerima penghargaan mendapatkan apresiasi, mulai dari 50 RW di Kota Malang hingga sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA. Penilaian dilakukan secara ketat dengan melibatkan akademisi ITN dan Universitas Brawijaya, pemerhati lingkungan, kader lingkungan, serta sejumlah perangkat daerah terkait.
“Kami menilai kebersihan, sistem pengelolaan sampah, hingga upaya penghijauan seperti penanaman pohon buah dan pohon pelindung,” ujarnya.
Dari hasil evaluasi, Raymond mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen sekolah di Kota Malang saat ini telah memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik. Sementara itu, sekolah yang belum meraih penghargaan umumnya terkendala keterbatasan fasilitas dan masih ditemukannya sampah di area selokan maupun tempat bermain.
Pada tahun 2025 ini, prestasi membanggakan diraih RW 2 Kelurahan Arjosari yang berhasil menyabet penghargaan Kampung Proklim.
“Penghargaan ini akan terus kami gelar setiap tahun sebagai bagian dari pembinaan berjenjang, mulai dari tingkat kota hingga nasional,” pungkas Raymond.
Ke depan, Pemkot Malang juga berencana mengusulkan perluasan kategori penilaian hingga tingkat perguruan tinggi, sebagai upaya memperluas gerakan peduli lingkungan ke seluruh lapisan pendidikan.












