Harga Emas Dunia Anjlok! Sentuh Level Terendah dalam Dua Pekan Terakhir

Emas Dunia Anjlok, Harga Emas Batangan di Indonesia Ikut Terkoreksi

Avatar photo
Harga Emas Dunia Anjlok! Sentuh Level Terendah dalam Dua Pekan Terakhir
Foto Ist: Harga Emas Dunia Anjlok! Sentuh Level Terendah dalam Dua Pekan Terakhir

Jakarta, JADIKABAR.COM – Harga emas dunia kembali mengalami tekanan signifikan pada akhir pekan ini, jatuh ke level terendah dalam dua minggu terakhir. Tekanan ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), yang membuat logam mulia kembali kehilangan daya tarik di mata investor global.

Berdasarkan data perdagangan Jumat (18/10/2025) waktu setempat, harga emas di pasar spot turun hingga 0,9 persen menjadi USD 2.316 per troy ounce, level terendah sejak awal Oktober. Sementara kontrak berjangka emas di bursa Comex AS juga melemah sekitar 1 persen ke USD 2.324 per troy ounce.

Penurunan ini menjadi kelanjutan tren koreksi sejak pertengahan bulan, setelah sebelumnya emas sempat menguat di atas USD 2.350 akibat ketegangan geopolitik dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Namun, laporan inflasi AS yang masih tinggi kembali menekan sentimen pasar.

Penguatan indeks dolar AS ke posisi tertinggi dalam tiga pekan terakhir menjadi salah satu faktor utama melemahnya harga emas. Investor global kini cenderung beralih ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Emas kembali berada di bawah tekanan akibat ekspektasi bahwa The Fed akan menunda penurunan suku bunga. Dolar yang menguat secara signifikan membuat harga emas dalam denominasi mata uang lain menjadi lebih mahal,” kata analis komoditas senior, Daniel Pavilonis, dari RJO Futures, dikutip dari Reuters.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang kembali menembus 4,5 persen juga menekan minat investor terhadap emas, yang tidak memberikan imbal hasil (yield).

Beberapa pelaku pasar menilai pelemahan ini masih bersifat sementara, mengingat ketidakpastian global masih tinggi. Konflik geopolitik di Timur Tengah, prospek perlambatan ekonomi Tiongkok, serta data inflasi yang fluktuatif bisa kembali menjadi katalis penguatan harga emas dalam waktu dekat.

“Jika dalam beberapa minggu ke depan muncul sinyal bahwa The Fed siap memangkas suku bunga pada akhir tahun, maka emas berpotensi kembali menguat di atas USD 2.350,” ujar analis dari Kitco Metals.

Namun, hingga saat ini, para investor masih cenderung menunggu kejelasan arah kebijakan moneter AS sebelum kembali melakukan aksi beli besar-besaran terhadap logam mulia tersebut.

Sementara itu, harga emas batangan di pasar domestik juga turut tertekan mengikuti pergerakan global. Berdasarkan data PT Aneka Tambang (Antam), harga emas 1 gram pada Sabtu (19/10/2025) turun Rp 7.000 menjadi Rp 1.307.000 per gram, sedangkan harga jual kembali (buyback) juga turun ke Rp 1.192.000 per gram.

Kendati demikian, permintaan emas fisik di dalam negeri masih relatif stabil, terutama dari kalangan investor ritel yang memanfaatkan momentum harga turun untuk akumulasi.

Meski tengah berada di fase koreksi, para ekonom menilai emas tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven) yang penting dalam portofolio investasi jangka panjang.

“Dalam kondisi ekonomi global yang rentan, emas tetap memiliki daya tarik kuat. Tekanan harga jangka pendek justru membuka peluang akumulasi,” kata ekonom keuangan, Suryani Indrastuti, dari Institute for Economic Studies.

Dengan volatilitas yang masih tinggi di pasar keuangan, para analis memperkirakan harga emas dunia akan bergerak di kisaran USD 2.280–2.360 per troy ounce dalam beberapa pekan mendatang, menunggu arah kebijakan moneter The Fed berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *