London, Jadikabar.com — Lebih dari 500 orang diamankan oleh Kepolisian Metropolitan saat aksi demonstrasi menolak pelarangan kelompok Palestine Action yang digelar di pusat kota London, tepatnya di Trafalgar Square, pada Sabtu (11/4/2026).
Aksi unjuk rasa berujung penangkapan massal setelah para peserta dianggap menunjukkan dukungan terhadap organisasi yang telah dinyatakan terlarang oleh pemerintah Inggris.
Sedikitnya 500 demonstran dari berbagai latar belakang usia, mulai dari 18 hingga 87 tahun, turut diamankan dalam operasi tersebut. Aksi ini juga melibatkan kelompok penggagas bernama Defend Our Juries.
Peristiwa ini berlangsung di kawasan Trafalgar Square, pusat kota London, yang menjadi titik kumpul utama massa aksi.
Demonstrasi digelar pada Sabtu (11/4/2026), dengan laporan penangkapan dikonfirmasi pada Minggu (12/4/2026).
Aksi ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap pelarangan Palestine Action yang diberlakukan pemerintah sejak Juli 2025 melalui undang-undang anti-terorisme. Meski sempat dinyatakan tidak sah oleh pengadilan pada Februari, larangan tersebut masih tetap berlaku sambil menunggu proses banding.
Ratusan demonstran berkumpul dalam aksi bertajuk “Everyone Day” yang diklaim sebagai bentuk perlawanan berkelanjutan terhadap kebijakan tersebut.
Massa membawa berbagai plakat berisi pesan dukungan, termasuk tulisan “Saya menentang genosida. Saya mendukung Palestine Action.”
Sebelum aksi berlangsung, pihak Kepolisian Metropolitan telah mengeluarkan peringatan keras terkait potensi pelanggaran hukum. Namun, aksi tetap berjalan dan berujung pada tindakan tegas aparat.
Komandan operasi kepolisian, Claire Smart, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ragu mengambil langkah hukum terhadap siapa pun yang menunjukkan dukungan terhadap organisasi terlarang.
“Kehadiran dalam aksi yang menunjukkan dukungan terhadap organisasi terlarang merupakan pelanggaran hukum berdasarkan Undang-Undang Terorisme. Kami akan bertindak tegas jika aturan dilanggar,” ujarnya.
Selain menyoroti isu pelarangan, sejumlah demonstran juga menyuarakan kritik terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Israel, serta menuntut kebebasan dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. (AT)












