Magelang, JADIKABAR.COM – TNI kembali kehilangan salah satu prajurit terbaiknya. Praka Rico Pramudia dinyatakan gugur setelah sebelumnya mengalami luka berat dalam insiden yang terjadi di Lebanon Selatan pada 29 Maret 2026.
Ia mengembuskan napas terakhir pada Jumat, 24 April 2026 pukul 10.32 waktu setempat atau 14.32 WIB, usai menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit St. George, Beirut.
Kabar duka ini disampaikan secara resmi oleh Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI Donny Pramono, (Sabtu,25/04/2026).
Dengan gugurnya Praka Rico, jumlah prajurit TNI yang wafat dalam insiden tersebut kini menjadi empat orang. Mereka merupakan bagian dari Satuan Tugas Batalyon Mekanis XXIII-S yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Duka mendalam juga datang dari Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS, Sukamta. Ia menyampaikan belasungkawa atas kepergian Praka Rico yang dinilai sebagai bentuk nyata pengabdian Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.
Menurut Sukamta, insiden yang menimpa pasukan penjaga perdamaian di Lebanon menjadi sinyal serius meningkatnya eskalasi konflik di wilayah tersebut. Ia menyoroti bahwa markas UNIFIL kini tidak lagi sepenuhnya aman, karena turut menjadi sasaran dalam dinamika konflik yang melibatkan berbagai pihak.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya perlindungan maksimal terhadap personel yang bertugas di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam situasi konflik yang semakin kompleks, menurutnya, keselamatan pasukan perdamaian harus menjadi prioritas utama bagi semua pihak yang terlibat.
Sukamta juga mendesak PBB untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan dan mandat operasi UNIFIL agar mampu menyesuaikan dengan kondisi lapangan yang semakin berisiko. Selain itu, ia meminta adanya investigasi yang transparan dan akuntabel guna mengungkap secara jelas penyebab insiden tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia didorong untuk melakukan peninjauan komprehensif terhadap aspek keamanan, kesiapan, serta pola penugasan prajurit dalam misi perdamaian internasional. Langkah ini dinilai penting tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai salah satu kontributor aktif dalam menjaga stabilitas global.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa misi perdamaian bukan tanpa risiko. Pengorbanan para prajurit di medan konflik internasional diharapkan tidak menjadi sia-sia, melainkan menjadi dorongan untuk memperkuat sistem perlindungan bagi mereka yang berada di garis depan menjaga perdamaian dunia.
Abrian Tamtama.












