Jakarta, Jadikabar.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kembali menggelar Jakarta Future Festival (JFF) 2026 sebagai ruang partisipasi publik untuk membahas masa depan kota. Festival ini akan berlangsung gratis di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada (5–7 Juni 2026).
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, JFF 2026 mengusung tema “Navigating Resilience”. Tema tersebut dipilih untuk merespons berbagai tantangan yang dihadapi Jakarta, mulai dari perubahan iklim, pengelolaan sampah, perumahan, tata kelola air, energi terbarukan, hingga upaya membangun kota yang lebih tangguh dan adaptif.
Kepala Bappeda DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania, mengatakan JFF menjadi ruang untuk menghimpun ide dan aspirasi dari berbagai unsur masyarakat. Menurutnya, pembangunan Jakarta tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan warga, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan generasi muda.
“Jakarta Future Festival adalah festival perencanaan kota yang berupaya menghimpun energi dari berbagai unsur masyarakat. Kita bersama-sama mencurahkan ide dan gagasan untuk membangun Jakarta,” ujar Atika dalam konferensi pers di Ruang Pola Bappeda, Gambir, Jakarta Pusat, pada Rabu (3/6/2026).
Tahun ini, JFF menghadirkan sejumlah program baru. Salah satunya JFF for Kids, program edukasi yang mengenalkan isu perkotaan kepada anak-anak. Program ini digelar bekerja sama dengan Visinema dan Rekosistem, serta menghadirkan karakter populer seperti Jumbo, Nussa, Rara, dan Pelangi di Mars.
Selain itu, ada sesi Jakarta Forecast yang membahas proyeksi dan tantangan Jakarta ke depan, serta Urban Talks yang mengulas berbagai persoalan kota. JFF juga menghadirkan Urban Policy Lab sebagai ruang kolaborasi bersama komunitas pemikir muda seperti Think Policy dan Habibie Innovators untuk merumuskan solusi atas persoalan perkotaan.
Untuk melibatkan generasi muda, JFF 2026 menggelar Urban Debate, kompetisi debat isu perkotaan bagi pelajar SMA. Sedikitnya 30 aktivasi komunitas turut dihadirkan di area dalam dan luar ruang, mulai dari silent reading, Indo Swing, hingga latihan tari Betawi.
Atika mengatakan, JFF 2026 menjadi ruang diskusi ilmiah yang membahas isu perubahan iklim, energi terbarukan, pengelolaan sampah, mitigasi urban heat island, perumahan, hingga pengelolaan air. Bappeda DKI Jakarta turut mengundang 18 profesor dari sejumlah universitas di Amerika Serikat, Eropa, dan Inggris untuk memperkaya perspektif diskusi.
“Mereka akan bergabung dalam beberapa sesi dan berdiskusi bersama para pakar di Urban Knowledge Hub. Jadi, isu global juga akan dibahas bersama pembicara lokal dan internasional,” katanya.
Di sektor pariwisata, JFF 2026 menghadirkan sesi khusus bersama narasumber dari kementerian dan pegiat wisata untuk membahas strategi pengembangan destinasi Jakarta. Festival ini diharapkan menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan lintas sektor guna memperkuat daya saing kota.
Atika memastikan seluruh gagasan dan masukan yang muncul dalam JFF akan didokumentasikan dan menjadi bagian dari proses perencanaan pembangunan daerah. Hasil diskusi dan lokakarya nantinya dirangkum dalam buku resmi yang dapat diunduh masyarakat melalui kanal resmi Bappeda.
“Seluruh acara terdokumentasi, termasuk masukan kebijakan yang nantinya bisa menjadi bagian dari perencanaan kota. Buku hasil JFF juga dapat diunduh gratis melalui situs resmi kami,” urainya.
Selain diskusi, JFF 2026 juga menghadirkan pameran foto kota, board game urban challenge, pertunjukan seni, hingga penampilan musisi seperti Maliq & D’Essentials, Kahitna, Yura Yunita, Endah N Rhesa, Bilal Indrajaya, Lalahuta, dan Ali Radio.
Informasi lengkap mengenai jadwal acara dan registrasi dapat diakses melalui jakartafuturefestival.com?.. (RF)












