Menolak Sunyi di Sriwedari, Wayang Orang Solo Harus Terus Hidup

Avatar photo
Menolak Sunyi di Sriwedari, Wayang Orang Solo Harus Terus Hidup
Penampilan para pemain Wayang Orang Sriwedari saat membawakan lakon Sumantri Ngenger di Surakarta, Solo. (Foto Istimewa Artikel Ryo)

Surakarta – Ketika malam mulai beranjak larut di Kota Solo, ada sebuah sisi yang menolak tunduk pada modernisasi. Di dalam Gedung Wayang Orang Sriwedari, sayup-sayup suara tabuhan gamelan melantunkan ketukan yang terdengar indah. Di atas panggung, para aktor dengan riasan megah, kostum wayang, dan gerak tari yang presisi sedang menghidupkan kembali sebuah kisah Sumantri Ngenger.

Bagi masyarakat modern, menonton wayang orang mungkin terasa seperti tak biasa. Di era gempuran hiburan digital yang serba instan, menyaksikan pertunjukan teatrikal tradisional berdurasi berjam-jam adalah sebuah kemewahan spiritual tersendiri. Namun, malam itu, lakon Sumantri Ngenger membuktikan bahwa kisah klasik Jawa tidak pernah kehilangan taringnya untuk menyentil realitas kehidupan kita hari ini.

Lakon Sumantri Ngenger (Sumantri Mengabdi) adalah sebuah potret psikologis manusia yang sangat mendalam. Kisahnya berpusat pada Raden Sumantri, seorang kesatria muda yang tampan, sakti, namun digerogoti oleh ambisi besar untuk mengabdi di Kerajaan Maespati di bawah pimpinan Prabu Arjuna Sasrabahu.

Sumantri adalah simbol dari kita semua yang sedang mengejar karier dan status sosial. Demi membuktikan loyalitasnya kepada sang raja, ia sanggup memindahkan Taman Sriwedari dari kahyangan ke Maespati. Tugas mustahil itu berhasil ia selesaikan berkat bantuan adik kandungnya sendiri, Sokrasana-seorang raksasa kerdil yang buruk rupa namun memiliki kesaktian luar biasa dan rasa sayang yang tulus kepada kakaknya.

Tragedi kemanusiaan dimulai di sini. Ketika ambisi berbenturan dengan rasa malu dan gengsi, Sumantri tega mengusir adiknya sendiri yang berwajah buruk karena takut merusak citra dirinya di depan sang raja. Tragedi memuncak saat panah yang digunakan Sumantri untuk menakut-nakuti Sokrasana tak sengaja terlepas dan menewaskan adiknya.

Menonton adegan ini di panggung Sriwedari, dengan sorot lampu yang dramatis dan gending yang menyayat hati, penonton tidak sekadar melihat pertunjukan. Kita dipaksa berkaca, seberapa sering kita mengorbankan ketulusan dan orang-orang terdekat demi sebuah jabatan, gengsi, atau ambisi pribadi? Inilah alasan mengapa wayang orang begitu hidup, ia adalah cermin dari jiwa manusia.

Eksistensi Wayang Orang (atau Wayang Wong) sebetulnya memiliki akar sejarah yang sangat adiluhung. Kesenian ini pertama kali lahir di lingkungan keraton pada abad ke-18, tepatnya diinisiasi oleh Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta dan Mangkunegara I di Surakarta.

Pada awalnya, kesenian ini adalah hiburan eksklusif bagi kaum bangsawan dan ritual sakral keraton. Namun, sejarah berputar. Pada tahun 1895, Gan Kam, seorang pengusaha Tionghoa di Solo, bekerja sama dengan Keraton Mangkunegaran untuk membawa wayang orang keluar dari benteng istana agar bisa dinikmati oleh masyarakat umum secara komersial.

Puncaknya terjadi pada tahun 1911, ketika Wayang Orang Sriwedari resmi menetap di Taman Sriwedari Surakarta. Sejak saat itu, Sriwedari menjadi oase kebudayaan rakyat. Di gedung inilah, selama lebih dari satu abad, para seniman mendedikasikan hidup mereka, merawat gerak tari, tembang, dan pakem cerita agar tidak punah ditelan zaman.

Melihat dedikasi yang konsisten di Gedung Wayang Orang Sriwedari, muncul sebuah refleksi penting, mengapa pelestarian sekokoh ini hanya berpusat di Solo atau mungkin hanya sebagian kecil di Semarang atau Jakarta?
Kesenian adiluhung seperti ini sudah sepatutnya dibudayakan secara masif dan ditiru oleh berbagai daerah lain, khususnya di tanah Jawa.

Setiap kabupaten atau kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta idealnya memiliki ruang kebudayaan serupa Sriwedari. Mengapa?
Identitas Jiwa Daerah,Tanpa adanya panggung fisik yang rutin menggelar pertunjukan, generasi muda di daerah akan kehilangan kontak visual dengan akar budayanya sendiri. Mereka akan lebih mengenal karakter fiksi luar negeri ketimbang filosofi mendalam dari tokoh-tokoh pewayangan.

Mereplikasi konsep Gedung Sriwedari di daerah lain berarti membuka lapangan kerja kreatif dan ruang hidup bagi para lulusan institusi seni (seperti ISI atau SMKI). Budaya tidak bisa lestari jika para pelakunya kelaparan.

Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat dan individualis, pertunjukan wayang orang menawarkan ruang komunal untuk melambat, merenung, dan menyerap nilai-nilai budi pekerti (unggah-ungguh) secara visual.

Menjaga wayang orang tetap hidup bukan berarti kita menolak kemajuan zaman. Justru sebaliknya, ini adalah cara kita menunjukkan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang berjalan ke masa depan tanpa pernah melupakan dari mana mereka berasal.

Malam itu, saat lampu panggung Sriwedari perlahan meredup dan penonton pulang membawa pulang kisah tragis Sumantri, ada secercah harapan yang tersisa, semoga laku bisu pelestarian ini segera menular ke kota-kota lain, sebelum sunyi benar-benar merebut paksa kebudayaan kita. (Ryo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi