Dosen PWK ITN Malang Raih Doktor, Kembangkan Model Penanggulangan Kemiskinan

Avatar photo
Usai Kegiatan Berfoto Bersama.

Malang, JadiKabar. Com– Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menambah dosen bergelar doktor. Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., berhasil menyelesaikan pendidikan doktor pada bidang Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan di IPB University.

Dalam penelitian disertasinya, Ardiyanto mengangkat persoalan kemiskinan di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah tersebut dipilih karena mengalami perkembangan pesat, khususnya setelah Labuan Bajo ditetapkan sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).

Menurut Ardiyanto, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Labuan Bajo memang telah memberikan perubahan terhadap wilayah. Namun, dampaknya terhadap pengurangan kemiskinan dinilai belum merata.

“Pembangunan tidak otomatis membuat persoalan kemiskinan selesai. Karena itu, kemiskinan perlu dilihat dari berbagai dimensi dan dikaitkan dengan karakteristik masing-masing wilayah,” kata Ardiyanto saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang, Kamis (13/8/2026).

Alumni PWK ITN Malang angkatan 2006 itu menjelaskan, kemiskinan selama ini masih sering diukur melalui aspek pendapatan. Padahal, persoalan tersebut juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia, kondisi sosial, sumber daya alam, infrastruktur, aksesibilitas, serta kemampuan ekonomi rumah tangga.

Ia menilai setiap desa memiliki persoalan dan potensi yang berbeda. Dua desa yang sama-sama masuk kategori miskin belum tentu memiliki penyebab kemiskinan yang identik.

Atas dasar itu, kebijakan pengentasan kemiskinan dinilai tidak tepat apabila menggunakan pendekatan yang sama untuk seluruh wilayah.

“Karakteristik wilayah, aksesibilitas, sumber daya manusia, kondisi sosial dan hubungan dengan wilayah sekitar dapat membentuk penyebab kemiskinan yang berbeda. Jadi pendekatannya harus disesuaikan dengan kondisi lokal,” jelasnya.

Persoalan tersebut kemudian menjadi dasar penelitian Ardiyanto melalui disertasi berjudul “Model Strategi Sustainable Rural Livelihood Approach dalam Penanggulangan Kemiskinan di Kabupaten Manggarai Barat.”

Penelitian tersebut menggunakan kerangka Sustainable Livelihood Approach yang melihat lima modal utama masyarakat, yakni modal manusia, sosial, alam, fisik, dan finansial. Kelima aspek itu kemudian dikaji bersama kondisi spasial serta perbedaan karakteristik antarwilayah.

Untuk memperkuat analisis, Ardiyanto memanfaatkan metode System Dynamics. Metode ini digunakan untuk melihat hubungan antarvariabel sekaligus melakukan simulasi terhadap berbagai pilihan kebijakan penanggulangan kemiskinan.

Dari penelitian tersebut lahir SURULIA GAI Poverty Alleviation Model, sebuah model yang dirancang untuk membantu pemerintah menyusun kebijakan pengentasan kemiskinan secara lebih adaptif dan berbasis kondisi wilayah.

“Model ini direkomendasikan oleh tim promotor dengan nama SURULIA GAI Model. Tujuannya membantu merumuskan strategi yang adaptif dan inklusif sesuai variasi karakteristik serta penyebab kemiskinan di setiap desa,” ungkapnya.

Keunggulan model tersebut berada pada upaya menggabungkan pendekatan penghidupan masyarakat, kondisi spasial dan heterogenitas wilayah, serta pemodelan dinamis.

Dengan model itu, pemerintah tidak hanya mendapatkan gambaran mengenai lokasi dan tingkat kemiskinan. Lebih jauh, pemerintah dapat mengidentifikasi faktor dominan yang menjadi penyebabnya dan menguji berbagai alternatif intervensi melalui simulasi.

“Misalnya, apabila masalah utama suatu desa adalah kualitas sumber daya manusia, maka intervensinya tentu berbeda dengan desa yang menghadapi persoalan infrastruktur, akses sumber daya atau kondisi ekonomi,” katanya.

Dalam sidang doktoralnya, penelitian Ardiyanto juga mendapat perhatian dari penguji eksternal, di antaranya Wakil Gubernur NTT sekaligus Ketua Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah NTT, Irjen Pol. (P) Dr. Johni Asadoma, M.Hum., serta Peneliti Ahli Utama BRIN bidang

Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota, Prof. Dr. Agr. Didit Okta Pribadi, M.Si. Salah satu pembahasan dalam ujian tersebut berkaitan dengan peluang penerapan model di kabupaten lain di NTT.

Ardiyanto menyebut model yang dikembangkan tidak bersifat kaku sehingga memungkinkan untuk diterapkan di wilayah lain. Namun, indikator maupun bentuk intervensinya tetap harus disesuaikan dengan karakteristik dan persoalan lokal.

“Kerangka modelnya adaptif. Artinya, bisa digunakan di daerah lain dengan menyesuaikan indikator dan intervensinya berdasarkan kondisi serta determinan kemiskinan masing-masing wilayah,” ujarnya.

Ia berharap hasil penelitian tersebut tidak hanya berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan penanggulangan kemiskinan.

Penelitian ini juga menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal internasional terindeks Scopus dan jurnal nasional terakreditasi Sinta 1, serta telah dipresentasikan dalam konferensi internasional di Singapura.

Dengan diraihnya gelar doktor, Ardiyanto berharap Model SURULIA GAI dapat terus dikembangkan dan diuji pada wilayah dengan karakteristik berbeda. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong kebijakan pengentasan kemiskinan yang lebih tepat sasaran, berbasis wilayah, adaptif, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi