Dari Limbah Jadi Minuman Herbal, Mahasiswi ITN Malang Raih Juara 2 Kompetisi Inovasi Internasional

Avatar photo
Mahasiswi ITN Malang Raih Juara 2 Kompetisi Inovasi Internasional.

Malang, JadiKabar. Com— Limbah biji pepaya yang selama ini kerap dibuang ternyata dapat diolah menjadi produk minuman herbal menyerupai kopi. Inovasi tersebut dikembangkan dua mahasiswi Program Studi Teknik Kimia S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Ajeng Wickrama Tunggal Dewi dan Ratih Dwi Andini.

Karya mereka berhasil meraih Juara 2 kategori Student/Fields: Engineering dalam ajang International Competition of Academic and Innovation (ICAI) 2026. Kompetisi internasional tersebut digelar secara hybrid oleh Kolaborasi Dosen Lintas Negara (CeL KODELN) bersama CeL Malaysia di Grand Kangen Hotel, Yogyakarta, pada Juli 2026.

ICAI 2026 diikuti 83 perguruan tinggi dari delapan negara. Prestasi tersebut menjadi capaian membanggakan bagi kedua mahasiswa angkatan 2022 asal Jember dan Pasuruan itu, sekaligus menunjukkan potensi pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk inovatif bernilai tambah.

Penelitian yang mereka lombakan berjudul Food Technology-Based Development of Herbal Coffee from Papaya Seeds Using Different Papaya Varieties and Herbal Additives. Penelitian tersebut bermula dari proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang sebelumnya belum berhasil lolos seleksi.

Alih-alih berhenti, Ajeng dan Ratih melanjutkan penelitian tersebut sebagai tugas akhir dengan bimbingan dosen Teknik Kimia ITN Malang, Ir. Faidliyah Nilna Minah, ST., MT. Hasil penelitian kemudian dikembangkan hingga dapat dipresentasikan dalam kompetisi tingkat internasional.

“Kami pikir tim kami tidak lolos karena penelitian ini pernah kami ikutkan PKM dan gagal. Saat dosen pembimbing menerima kabar kalau kami dapat juara 2, beliau sampai tidak percaya dan kaget, apalagi kami. Kami tidak menyangka sama sekali,” ujarnya pada Rabu (26/8/2026).

Dalam proses penelitian, kedua mahasiswa menggunakan biji pepaya dari tiga varietas, yakni Thailand, California, dan pepaya lokal. Biji tersebut terlebih dahulu dikeringkan menggunakan sinar matahari dan dehydrator, kemudian melalui proses roasting selama sekitar 10 menit.

Proses pemanggangan dilakukan untuk mengeluarkan aroma khas yang menyerupai kopi. Setelah itu, biji pepaya dihaluskan hingga menjadi bubuk.

Untuk memperkaya cita rasa dan kandungan herbal, bubuk biji pepaya dipadukan dengan sejumlah bahan seperti jahe, serai, kayu manis, daun pandan, dan mint.

Ajeng menjelaskan, penggunaan bahan tambahan tersebut juga menjadi bagian dari formulasi untuk mendapatkan karakter minuman yang lebih menarik.

“Limbah biji pepaya ini kami padukan dengan rempah-rempah herbal. Pengeringan menggunakan dehydrator saja ternyata aromanya belum keluar, sehingga kami roasting selama 10 menit agar aroma khas kopinya muncul, baru kemudian diblender menjadi bubuk,” jelas Ajeng.

Khusus daun pandan dan mint, keduanya digunakan dalam kondisi segar untuk mempertahankan warna dan aroma alaminya.

Selain menguji karakteristik produk, penelitian tersebut juga mengukur aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil pengujian menunjukkan kopi herbal berbahan biji pepaya lokal dengan tambahan jahe memiliki nilai IC₅₀ terbaik sebesar 52,2798 µg/mL.

Hasil tersebut menunjukkan formulasi biji pepaya lokal dan jahe memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dibandingkan perlakuan lainnya. Pengujian juga menunjukkan seluruh sampel memenuhi standar kadar air dan kadar abu sesuai SNI 2983:2014.

Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan adanya hasil pembacaan instrumen yang menunjukkan angka 2,6 persen pada salah satu sampel biji pepaya lokal. Padahal, produk yang dikembangkan merupakan minuman nonkafein.

Ajeng menjelaskan, biji pepaya secara alami tidak mengandung kafein seperti kopi maupun teh. Hasil pembacaan tersebut berkaitan dengan keberadaan senyawa alkaloid dan fenolik yang dapat terbaca pada instrumen pengujian.

“Di dalam artikel ilmiah ini kami juga mengulas mengapa senyawa tersebut bisa terbaca sebagai kafein, padahal secara literatur kafein hanya ada pada tanaman kopi atau teh. Senyawa yang terdeteksi sebenarnya adalah alkaloid dari biji pepaya,” ungkapnya.

Dosen pembimbing, Ir. Faidliyah Nilna Minah, ST., MT., mengapresiasi kegigihan kedua mahasiswa dalam mengembangkan penelitian tersebut hingga mampu berprestasi di tingkat internasional.

Menurutnya, pengalaman mengikuti kompetisi menjadi bagian penting dalam membentuk mental mahasiswa untuk terus berkembang, termasuk ketika menghadapi kegagalan.

“Sebagai mahasiswa harus berani berkompetisi. Gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi. Yang penting adalah keberanian dan semangat mengembangkan diri serta mendapatkan pengalaman berharga. Masalah juara adalah bonus, tetapi mental pejuang yang tangguh dan pantang menyerah layak dimiliki generasi Gen Z saat ini,” tuturnya.

Prestasi Ajeng dan Ratih sekaligus memperlihatkan bahwa penelitian berbasis sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki nilai ilmiah dan potensi ekonomi. Pemanfaatan biji pepaya sebagai bahan baku minuman herbal juga membuka peluang pengolahan limbah menjadi produk yang lebih bernilai dan berkelanjutan.

Penulis: Irfan Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi