MALANG, JADIKABAR – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berhasil mentransformasi permasalahan klasik perkotaan menjadi peluang energi terbarukan. Dengan mengaplikasikan teknologi pirolisis, limbah plastik yang selama ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan tidak memiliki nilai ekonomi kini disulap menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif bernama Petasol.
Inovasi ini menjadi angin segar di tengah gejolak harga energi global. Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, menjelaskan bahwa pihaknya secara khusus menyasar sampah plastik kategori non-value seperti kemasan mi instan, bungkus kopi, dan plastik kresek.
“Berbeda dengan botol atau tutup plastik yang masih laku dijual ke pengepul, jenis sampah ini nyaris tidak tersentuh. Harganya hanya berkisar Rp300 hingga Rp400 per kilogram. Kini, dengan pirolisis, kami ubah menjadi produk bernilai tinggi,” ujar Raymond saat ditemui di kantornya, Jumat (17/7/2026).
Proses pengolahan dilakukan menggunakan mesin pirolisis yang telah dioperasikan DLH sejak tahun lalu. Kapasitas mesin ini mampu mengolah 200 kilogram sampah plastik non-value dalam satu siklus, yang menghasilkan hingga 130 liter Petasol. Menariknya, kualitas BBM alternatif ini disebut setara dengan solar jenis Dexlite atau mendekati spesifikasi Pertadex.
Meski dinilai menjanjikan, produksi Petasol saat ini masih difokuskan untuk kebutuhan internal Pemerintah Kota Malang. Raymond mengungkapkan, bahan bakar tersebut saat ini digunakan untuk menggerakkan dua unit truk operasional DLH serta beberapa mesin diesel pendukung.
“Hasil produksi saat ini masih terbatas. Kami gunakan prioritas untuk operasional internal karena kami juga merasakan dampak kenaikan harga solar. Ke depan, jika kapasitas bertambah, bukan tidak mungkin kami bisa mendistribusikannya ke publik,” pungkasnya.












