Magelang, JADIKABAR.COM – Operasi pencarian dua korban yang hilang akibat banjir lahar hujan di Sungai Senowo, yang berhulu dari Gunung Merapi, resmi dihentikan setelah berlangsung selama tujuh hari. Penutupan operasi ditandai dengan prosesi tabur bunga serta salat gaib yang dilakukan keluarga korban bersama tim SAR gabungan di lokasi kejadian.
Prosesi tersebut digelar pada Senin (9/3/2026) sore sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa bagi para korban yang hingga kini belum ditemukan. Operasi pencarian secara resmi ditutup sekitar pukul 16.42 WIB dan dihadiri langsung oleh Bupati Magelang, Grengseng Pamuji.
Koordinator Basarnas Unit Siaga SAR Borobudur, Arif Yulianto, menjelaskan bahwa penghentian operasi dilakukan sesuai prosedur standar operasional Basarnas yang menetapkan masa pencarian selama tujuh hari.
“Operasi SAR pencarian dan pertolongan hari ini resmi kita tutup,” ujar Arif kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa selama proses pencarian, tim telah berupaya maksimal dengan mengerahkan seluruh potensi yang tersedia, termasuk penggunaan alat berat di dua titik yang diduga menjadi lokasi korban tertimbun material lahar. Namun hingga batas waktu pencarian berakhir, korban belum berhasil ditemukan.
“Tim SAR gabungan bersama Basarnas Unit Siaga SAR Borobudur sudah memaksimalkan upaya pencarian, termasuk menggunakan alat berat di beberapa titik yang kami curigai. Namun hingga sore ini hasilnya masih nihil,” jelasnya.
Meski operasi resmi dihentikan, Arif menegaskan bahwa pihaknya tetap akan melakukan pemantauan di area sungai. Jika sewaktu-waktu ditemukan tanda atau indikasi keberadaan korban, tim SAR siap kembali melakukan proses evakuasi.
Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan keputusan penghentian operasi sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Basarnas.
“Pencarian sudah berlangsung selama tujuh hari sesuai SOP dari Basarnas, sehingga hari ini operasi dinyatakan ditutup,” kata Grengseng.
Hingga operasi dihentikan, dua korban yang masih dinyatakan hilang adalah Maryuni dan Hasyim. Maryuni diketahui bekerja sebagai penjual makanan di sebuah warung, sedangkan Hasyim berprofesi sebagai pencari pasir di kawasan sungai.
Pihak keluarga korban menyatakan menerima keputusan tersebut dengan ikhlas. Saaris, paman dari Hasyim, mengatakan keluarga telah legawa meski korban belum ditemukan.
“Kami menerima dengan lapang hati karena ini adalah kehendak Allah. Kami juga berterima kasih kepada Basarnas dan seluruh tim pemerintah yang sudah berusaha membantu pencarian,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Hasyim baru saja membangun rumah tangga sekitar lima bulan lalu. Saat ini, istrinya tengah mengandung dengan usia kehamilan empat bulan.
“Keponakan saya baru menikah sekitar lima bulan lalu. Saat ini istrinya sedang hamil empat bulan,” kata Saaris.
Menurutnya, prosesi tabur bunga dan salat gaib dilakukan sebagai bentuk keikhlasan keluarga dalam melepas kepergian korban.
“Tabur bunga ini sebagai tanda keikhlasan kami. Kami meyakini bahwa Hasyim telah tiada. Karena itu kami menggelar salat gaib dan tabur bunga,” tuturnya.
Ia juga menegaskan keluarga tidak meminta adanya perpanjangan masa pencarian karena telah menerima keadaan tersebut.
Diketahui sebelumnya, banjir lahar hujan terjadi pada Selasa (3/3/2026) di aliran Sungai Senowo yang berhulu dari Gunung Merapi. Peristiwa itu menyebabkan empat orang dilaporkan hilang.
Dalam proses pencarian yang dimulai sehari setelah kejadian, tim SAR berhasil menemukan dua korban dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (4/3/2026).
Kedua korban tersebut adalah Heru Setyawan (25), warga Desa Krinjing, dan Arif Fuad Hasan (26), warga Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Sementara dua korban lainnya hingga kini belum ditemukan.
Abrian Tamtama












