MALANG, JadiKabar – Pemerintah Kabupaten Malang terus mendorong penguatan ekonomi desa sebagai fondasi pembangunan daerah melalui pemanfaatan teknologi digital, inovasi lokal, dan kolaborasi lintas sektor. Upaya tersebut disampaikan Wakil Bupati Malang saat menjadi narasumber dalam seminar nasional yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan yang melibatkan perwakilan Kementerian Desa, Bank Indonesia, Kantor Wilayah Bea Cukai Jawa Timur II, serta kalangan akademisi ini menjadi wadah diskusi mengenai strategi pengembangan desa yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mampu menghadapi tantangan ekonomi dan perubahan iklim.
Dalam pemaparannya, Wakil Bupati Malang menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang pada 2025 mencapai 5,92 persen. Angka tersebut menempatkan Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Jawa Timur. Perkembangan sektor UMKM yang tersebar hingga wilayah pedesaan menjadi salah satu faktor pendukung capaian tersebut.
Meski demikian, pemerintah daerah juga menghadapi tantangan fiskal pada 2026 akibat berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat yang nilainya mencapai Rp644 miliar. Kondisi tersebut menuntut adanya strategi baru dalam mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, sinergi dengan perguruan tinggi menjadi salah satu solusi untuk memperkuat program pengabdian masyarakat sekaligus membantu daerah mengatasi keterbatasan anggaran pembangunan.
“Kolaborasi dengan perguruan tinggi sangat penting untuk memperkuat berbagai program pemberdayaan masyarakat dan mendukung pembangunan desa secara berkelanjutan,” ujarnya.
Di sektor ekonomi desa, perkembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2026, jumlah BUMDes berbadan hukum di Kabupaten Malang meningkat menjadi 375 unit, jauh lebih tinggi dibandingkan 11 unit pada 2021.
Sejumlah BUMDes bahkan berhasil menjadi contoh pengelolaan potensi desa yang sukses. BUMDes Kerto Raharjo di Desa Sanankerto mengembangkan wisata Bonpring yang mampu menghasilkan omzet miliaran rupiah sekaligus menjaga kelestarian ratusan jenis bambu. Sementara BUMDes Sumber Sejahtera di Desa Pujon Kidul sukses mengelola destinasi wisata Kafe Sawah yang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat setempat.
Selain sektor pariwisata, inovasi pertanian juga menjadi salah satu kekuatan ekonomi Kabupaten Malang. Varietas Padi Sukma yang dikembangkan di wilayah Bulawang mampu menghasilkan panen hingga 12–15 ton per hektare. Di sisi lain, produk keripik buah dari Ngantang telah memasuki pasar Singapura, sedangkan kopi robusta Dampit berhasil menembus pasar Italia.
Untuk memperkuat tata kelola desa dan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat, Pemerintah Kabupaten Malang juga menggulirkan program Desa Cerdas Fiskal. Program ini berfokus pada digitalisasi pengelolaan keuangan desa guna meningkatkan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas penggunaan anggaran.
Melalui program tersebut, pemerintah berharap desa mampu mengoptimalkan sumber pendapatan yang dimiliki, mengurangi potensi kebocoran anggaran, serta memperkuat investasi pada sektor-sektor produktif yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Dengan dukungan inovasi, digitalisasi, dan kolaborasi berbagai pihak, Kabupaten Malang optimistis desa-desa di wilayahnya dapat tumbuh lebih mandiri, berdaya saing, serta menjadi pilar utama pembangunan ekonomi daerah di masa mendatang.












