Ketika Dolar AS mengamuk dan menembus rekor mengerikan di atas Rp18.000 pada awal Juni 2026, apa yang bisa dilakukan oleh nahkoda keuangan negara? Duduk diam dan berharap The Fed menurunkan suku bunga tentu bukan pilihan. Teks berita yang mengabarkan lawatan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke China dan Inggris pada pertengahan Juni ini adalah jawaban nyata dari kepanikan pasar yang kita bahas sebelumnya.
Manuver ini bukan sekadar kunjungan kerja birokratis biasa. Ini adalah taktik “jemput bola” dan putar otak tingkat tinggi. Mari kita bedah mengapa China dan Inggris yang menjadi sasaran, dan apa artinya bagi perekonomian kita.
1. Mengakali Dolar dengan “Panda Bond” di China
Langkah Menkeu Purbaya menjajakan Panda Bond (surat utang global berdenominasi Yuan yang diterbitkan oleh institusi asing di pasar Tiongkok) adalah strategi diversifikasi yang sangat brilian di momen yang tepat.
Logikanya begini: saat ini, meminjam uang atau menerbitkan surat utang dalam bentuk Dolar AS biayanya sangat mahal karena suku bunga The Fed sedang tinggi-tingginya. Daripada memaksakan diri meminjam dalam Dolar dan harus membayar bunga yang mencekik, pemerintah banting setir mencari pendanaan dalam mata uang Yuan. Suku bunga di China relatif lebih rendah dan stabil saat ini.
Di sisi lain, memperkuat cadangan dan relasi finansial dalam denominasi Yuan sangat masuk akal bagi struktur industri kita saat ini. Mengingat rantai pasok industri masa depan di dalam negeri seperti perakitan kendaraan listrik, infrastruktur stasiun pengisian daya, hingga ketersediaan komponen teknisnya, sangat berkiblat ke manufaktur Tiongkok, memiliki likuiditas Yuan yang kuat akan memberikan ruang bernapas yang lebih lega bagi transaksi bilateral kita.
2. Kampanye Kepercayaan di Jantung Eropa (Inggris)
Jika ke China tujuannya mencari alternatif mata uang yang lebih murah, lawatan ke Inggris punya misi yang berbeda: Damage Control (pengendalian kerusakan) dan kampanye kepercayaan.
London adalah salah satu pusat manajer investasi raksasa dunia. Ketika ratusan juta dolar dana asing lari dari bursa saham dan pasar obligasi kita pada akhir Mei hingga awal Juni lalu, pemerintah harus segera meyakinkan para pemodal raksasa Eropa ini agar tidak ikut-ikutan kabur. Di sana, pemerintah harus bisa “menjual” narasi bahwa fundamental kita tidak sedang rapuh. Pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka 5% dan inflasi yang terjaga harus dipresentasikan langsung dari meja ke meja, membuktikan bahwa kita bukan negara yang akan kolaps hanya karena gejolak nilai tukar sesaat.
3. Benang Merah dengan Realitas Lapangan
Manuver tingkat tinggi di Beijing dan London ini pada akhirnya mengonfirmasi satu hal: tekanan likuiditas yang kita rasakan di dalam negeri memang nyata adanya.
Langkah pemerintah memperluas basis investor ini pada hakikatnya adalah upaya menambal devisa negara yang sedang tergerus. Harapannya, dana segar dari hasil penjualan Panda Bond maupun obligasi di Eropa bisa menjadi amunisi tambahan bagi Bank Indonesia untuk menstabilkan Rupiah.
Sebab, jika Rupiah dibiarkan terus berdarah di atas Rp18.000, yang akan menjadi korban ujungnya bukanlah para pejabat di ibu kota, melainkan para pelaku sektor riil. Mulai dari pabrik-pabrik yang pusing mengatur harga jual produknya, para pengusaha yang harus mengamankan bahan baku operasionalnya, hingga kedai-kedai kopi lokal yang diam-diam harus menaikkan harga secangkir minuman demi menutupi lonjakan biaya impor.
Lawatan ke China dan Inggris ini adalah upaya di level makro agar roda ekonomi mikro kita tetap bisa berputar tanpa harus tersedak oleh mahalnya harga Dolar.












