Harga BBM BP Ikut Naik, BP 92 Tembus Rp16.670 per Liter Setelah Penyesuaian Pertamax

Avatar photo
Foto BP Pom BBM (Sumber foto: laman BP)

JAKARTA || JADIKABAR.COM – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi kembali terjadi di Indonesia. Setelah PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026, operator SPBU BP Indonesia juga melakukan penyesuaian harga pada sejumlah produknya.

Berdasarkan informasi yang diumumkan pada Rabu (10/6/2026), harga BBM jenis BP 92 (RON 92) mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp12.390 menjadi Rp16.670 per liter. Sementara itu, BP Ultimate (RON 95) naik dari Rp12.930 menjadi Rp17.240 per liter.

Adapun produk BP Ultimate Diesel tidak mengalami perubahan harga dan tetap dijual sebesar Rp25.060 per liter.

Daftar Harga BBM BP per 10 Juni 2026

– BP 92 : Rp16.670 per liter
– BP Ultimate : Rp17.240 per liter
– BP Ultimate Diesel : Rp25.060 per liter

Penyesuaian harga tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina yang mulai berlaku pada tanggal yang sama.

Pertamina Patra Niaga sebelumnya mengumumkan kenaikan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Namun demikian, sejumlah produk BBM lainnya tidak mengalami perubahan harga. Pertamax Turbo tetap berada di level Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.

Sementara BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih dipertahankan pada harga sebelumnya, yakni Rp10.000 per liter untuk Pertalite dan Rp6.800 per liter untuk Biosolar.

Kenaikan harga BBM non-subsidi umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah fluktuasi harga minyak mentah dunia dan perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Pemerintah melalui mekanisme yang berlaku melakukan evaluasi berkala terhadap harga BBM non-subsidi dengan mempertimbangkan perkembangan pasar energi global. Karena tidak mendapatkan subsidi dari negara, harga BBM non-subsidi cenderung lebih cepat menyesuaikan kondisi pasar dibandingkan BBM subsidi.

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar BBM ritel Indonesia semakin kompetitif dengan hadirnya sejumlah operator selain Pertamina, seperti BP Indonesia dan Shell. Kehadiran berbagai merek SPBU tersebut memberikan alternatif pilihan bagi masyarakat, terutama untuk produk BBM beroktan tinggi.

Meski berasal dari perusahaan berbeda, penyesuaian harga BBM non-subsidi umumnya memiliki pola yang hampir serupa karena dipengaruhi faktor pasar global yang sama, termasuk harga minyak mentah internasional, biaya distribusi, dan nilai tukar mata uang.

Kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi meningkatkan biaya operasional kendaraan pribadi maupun kendaraan usaha yang menggunakan bahan bakar beroktan tinggi. Dampak lanjutan yang sering menjadi perhatian adalah kemungkinan meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang.

Meski demikian, karena BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar belum mengalami perubahan harga, dampak langsung terhadap sebagian besar masyarakat diperkirakan masih dapat ditekan.

Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari perusahaan penyedia BBM maupun pemerintah terkait perkembangan harga energi nasional yang dapat berubah sewaktu-waktu sesuai hasil evaluasi berkala. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi