Berita  

Tokoh Malang Raya Dapat Kehormatan Langka di Kirab 1 Suro Keraton Solo

Avatar photo
Tokoh Malang Raya Dapat Kehormatan Langka di Kirab 1 Suro Keraton Solo
Foto Istimewa Tokoh Malang Raya Dapat Kehormatan Langka di Kirab 1 Suro Keraton Solo

SURAKARTA, JADIKABAR.COM – Ketika sebagian besar kota mulai terlelap menjelang tengah malam, suasana berbeda justru terlihat di jantung Kota Solo. Ribuan orang memadati kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Mereka datang dari berbagai penjuru daerah, rela menunggu berjam-jam demi menyaksikan sebuah tradisi yang telah bertahan melintasi zaman: Kirab Pusaka Malam 1 Suro.

Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, tradisi pergantian Tahun Baru Jawa itu kembali membuktikan bahwa warisan budaya masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Sejak sore hari, kawasan sekitar keraton mulai dipenuhi warga. Sebagian membawa keluarga, sebagian lainnya datang bersama komunitas budaya dan pecinta sejarah Jawa. Mereka menunggu momen sakral ketika pusaka-pusaka keraton dikeluarkan dari dalam istana untuk dikirab mengelilingi rute yang telah ditentukan.

Malam 1 Suro memiliki makna yang sangat mendalam dalam tradisi masyarakat Jawa. Penanggalan Jawa yang diperkenalkan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada abad ke-17 memadukan unsur kalender Islam dengan budaya Jawa. Sejak saat itu, malam pergantian tahun Jawa tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga momentum refleksi, introspeksi, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Tradisi kirab pusaka menjadi salah satu ritual paling ditunggu. Dalam kepercayaan budaya Jawa, pusaka bukan sekadar benda bersejarah, melainkan simbol perjalanan peradaban, kepemimpinan, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Tahun ini, prosesi berlangsung dengan khidmat dan tertib. Berbagai dinamika yang sempat menjadi perhatian publik terkait perkembangan internal Keraton Kasunanan Surakarta tidak memengaruhi jalannya ritual adat. Ribuan masyarakat tetap larut dalam suasana sakral yang menyelimuti malam pergantian tahun Jawa tersebut.

Salah satu sosok yang turut hadir adalah Ketua Pakasa Malang Raya, Kanjeng Raden Aryo (KRA) Dwi Indrotito Cahyono. Tokoh budaya asal Malang Raya itu sengaja datang ke Surakarta untuk mengikuti seluruh rangkaian prosesi hingga selesai pada dini hari.

Baginya, Malam 1 Suro bukan hanya sebuah agenda budaya tahunan, melainkan perjalanan spiritual dan pengingat akan pentingnya menjaga identitas budaya bangsa.

“Rasa cinta yang mendalam terhadap budaya Jawa membuat saya tergerak untuk mengikuti peringatan Malam 1 Suro yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi yang diwariskan turun-temurun tersebut harus terus dijaga agar generasi muda tidak kehilangan akar sejarah dan jati dirinya di tengah derasnya pengaruh budaya global.

Malam itu menjadi semakin berkesan bagi KRA Dwi Indrotito. Ia mendapatkan kehormatan yang tidak diberikan kepada sembarang orang, yakni turut membopong salah satu pusaka yang dikirabkan dalam prosesi sakral tersebut.

Dari total 14 pusaka yang dikeluarkan Keraton Surakarta, salah satunya berada di pundaknya selama perjalanan kirab berlangsung.

“Saya bersyukur malam ini diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk membopong salah satu dari 14 pusaka yang dikirabkan. Ini merupakan kehormatan yang sangat berharga bagi saya,” tuturnya.

Bagi kalangan pecinta budaya Jawa, kesempatan membopong pusaka keraton bukan sekadar tugas seremonial. Amanah tersebut dianggap sebagai bentuk kepercayaan sekaligus penghormatan terhadap dedikasi seseorang dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya.

Kirab Malam 1 Suro sendiri telah menjadi salah satu ikon budaya terbesar di Indonesia. Setiap tahun, tradisi ini selalu menarik perhatian wisatawan, budayawan, akademisi, hingga masyarakat umum yang ingin menyaksikan langsung kekayaan budaya Jawa yang masih lestari.

Di tengah gemerlap teknologi dan perubahan zaman, ribuan orang yang rela begadang hingga dini hari di depan Keraton Surakarta seolah menunjukkan satu pesan penting: bahwa tradisi bukan sekadar masa lalu, melainkan jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan warisan para leluhur.

Malam 1 Suro kembali berlalu. Namun nilai-nilai refleksi, penghormatan terhadap sejarah, dan kecintaan terhadap budaya yang hadir dalam setiap langkah kirab pusaka akan terus hidup, diwariskan dari generasi ke generasi.

Penulis: RyoEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi