Daerah  

DLH Kabupaten Malang Dorong Eco Office, Tekan Emisi hingga Perkuat Pengelolaan Sampah

DLH Kabupaten Malang Dorong Eco Office, Tekan Emisi hingga Perkuat Pengelolaan Sampah
DLH Kabupaten Malang Dorong Eco Office, Tekan Emisi hingga Perkuat Pengelolaan Sampah

MALANG, JADIKABAR | Pemerintah Kabupaten Malang terus mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih sehat, efisien, dan ramah lingkungan melalui persiapan penerapan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) dalam kegiatan perkantoran atau Eco Office.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Malang membangun budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan publik, tetapi juga menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Dr. Ahmad Dzulfikar Nurrahman, yang akrab disapa AVI, mengatakan konsep Eco Office tidak sekadar berkaitan dengan tampilan fisik kantor. Lebih dari itu, program tersebut diarahkan untuk membangun perubahan perilaku dan budaya kerja aparatur agar semakin peduli terhadap lingkungan.

“Kita mulai mengenalkan kantor yang juga care atau concern terkait dengan lingkungan. Di kita disebut Eco Office, atau eco itu ekologis, jadi kantor yang ekologis. Jadi tidak hanya tampilannya saja, tetapi memang dari budaya kerjanya pun sudah kita terapkan budaya yang care terkait lingkungan,” ujar AVI.

DLH Kabupaten Malang Dorong Eco Office, Tekan Emisi hingga Perkuat Pengelolaan Sampah
Kepala DLH Kabupaten Malang Dr. Ahmad Dzulfikar Nurrahman (Avi)

Menurutnya, salah satu sasaran utama penerapan Eco Office adalah menekan emisi yang dihasilkan dari aktivitas perkantoran. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kebiasaan sederhana, termasuk mendorong pegawai menggunakan transportasi secara lebih efisien.

“Kalau dari sisi targetnya adalah pengurangan emisi. Salah satunya kita upayakan sebisa mungkin menuju kantor dengan pengurangan emisi sekecil mungkin. Kalau satu arah, ya sudah kita bersama-sama satu mobil. Kalau memungkinkan pakai sepeda, pakai sepeda. Kalau jalan, malah lebih bagus lagi,” jelasnya.

Selain transportasi, perubahan budaya kerja juga diarahkan pada pengelolaan sampah. Setiap aktivitas perkantoran didorong menerapkan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya sekaligus mengurangi penggunaan material yang berpotensi menjadi sampah.

Pengurangan penggunaan kertas dan plastik juga menjadi perhatian. Pegawai didorong membawa tumbler atau botol minum pribadi untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.

“Kita menerapkan pengelolaan sampah yang baik, berdasarkan jenisnya. Kemudian juga ada pengurangan penggunaan kertas, termasuk penggunaan plastik. Kita sudah menerapkan membawa tumbler masing-masing untuk kebutuhan minum,” katanya.

AVI menambahkan, lingkungan kantor DLH juga mulai ditata sedemikian rupa untuk mendorong pegawai secara tidak langsung mengubah kebiasaan sehari-hari. Dengan demikian, penerapan Eco Office tidak berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi diarahkan menjadi budaya kerja.

“Kita desain sedemikian rupa sehingga rekan-rekan ini akhirnya juga bisa lebih mengurangi sampah,” imbuhnya.

Eco Office Dimulai dari DLH

AVI menegaskan, penerapan Eco Office di lingkungan DLH Kabupaten Malang menjadi langkah awal sebelum konsep tersebut dapat diterapkan lebih luas di seluruh perangkat daerah.

Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup hanya dilihat dari sisi pencitraan atau branding, tetapi harus menghasilkan kontribusi nyata terhadap lingkungan.

“Kita ini sebenarnya tidak hanya fokus pada branding, tapi lebih kepada memang kontribusi kita kepada lingkungan. Harapan kami dimulai dari sini, ini bisa juga diterapkan di seluruh kantor sehingga performance yang dihasilkan akan lebih besar skalanya,” ujarnya.

Jika seluruh kantor pemerintahan menerapkan prinsip serupa, pengurangan emisi, penghematan energi, efisiensi penggunaan air, serta pengurangan sampah diyakini akan memberikan dampak yang jauh lebih besar.

“Kalau ini mungkin hanya satu kantor, kalau seluruh kantor bisa menerapkan pengurangan emisi dan pengelolaan sampah di kantor, hasilnya akan besar lagi. Dimulai dari DLH,” kata AVI.

Didukung Beragam Sumber Pembiayaan

Dalam penerapannya, program Eco Office tidak hanya mengandalkan satu sumber pembiayaan. AVI mengatakan sejumlah kegiatan dapat dibiayai melalui anggaran pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan rehabilitasi dan penataan aset kantor.

Sementara instrumen pendukung pengelolaan lingkungan juga dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan pihak lain, termasuk CSR, donor, sponsor, maupun bentuk donasi bersama.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas ruang inovasi dalam membangun kantor pemerintahan yang lebih ramah lingkungan tanpa seluruh kebutuhan harus bertumpu pada anggaran daerah.

Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan di Kabupaten Malang mulai diarahkan tidak hanya pada penanganan sampah di hilir, tetapi juga membangun perubahan perilaku sejak dari lingkungan kerja.

Penerapan Eco Office diharapkan menjadi contoh bahwa kantor pemerintahan dapat menjadi bagian dari solusi persoalan lingkungan. Mulai dari menghemat energi dan air, mengurangi sampah dan penggunaan plastik, hingga menekan emisi dari aktivitas pegawai.

Dengan sistem yang terencana dan terukur, penerapan Sistem Manajemen Lingkungan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang diharapkan berkembang menjadi sistem kerja yang konsisten dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kantor pemerintahan tidak hanya menjadi tempat pelayanan publik, tetapi juga dapat menjadi contoh nyata bagi masyarakat dalam membangun pola hidup yang lebih hemat energi, minim sampah, dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

Penulis: Tof/IrfEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *