Magelang, JadiKabar. Com– Semangat menjaga alam sekaligus melestarikan budaya lokal terlihat dalam gelaran Ruwat Rawat Menoreh VI di Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Minggu (24/8/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat di lereng Pegunungan Menoreh tersebut diwujudkan melalui kirab budaya yang menampilkan beragam potensi desa. Sepuluh kontingen dari enam dusun mengikuti kirab dengan membawa gunungan sayuran, tumpeng, kesenian lokal hingga berbagai bentuk kreativitas warga.
Meski harus melewati jalur perbukitan yang berliku serta medan naik turun, peserta tetap antusias mengikuti kirab sejauh sekitar tiga kilometer. Mereka berjalan dari wilayah dusun menuju panggung utama di depan Balai Desa Ngargoretno.
Beragam kostum turut mewarnai perjalanan kirab. Salah satu yang mencuri perhatian adalah kostum bertema luar angkasa dan ogoh-ogoh yang dibawa peserta. Potensi wisata yang tengah dikembangkan desa, yakni replika UFO Menoreh, juga ditampilkan dalam kirab.
Sesampainya di panggung utama, masing-masing kontingen menampilkan keunggulan dan potensi wilayahnya di hadapan perangkat desa serta masyarakat.
Kemeriahan semakin terasa saat gunungan berisi aneka hasil bumi digerebeg atau diperebutkan warga. Berbagai sayuran seperti terong, wortel, loncang, kol, sawi, kacang panjang hingga cabai menjadi bagian dari gunungan yang dibagikan kepada masyarakat.
Kepala Desa Ngargoretno, Dodit Suseno, mengatakan Ruwat Rawat Menoreh menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan sekaligus merawat tradisi dan potensi ekonomi lokal.
“Ini merupakan momentum rakyat untuk menguatkan kepedulian terhadap kelestarian alam Menoreh, sekaligus merawat nilai-nilai budaya, tradisi dan potensi ekonomi masyarakat lokal, khususnya Desa Ngargoretno,” kata Dodit.
Menurut Dodit, rangkaian Ruwat Rawat Menoreh VI berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat (21/8/2026) hingga Minggu (23/8/2026). Sejumlah kegiatan digelar, antara lain kirab budaya, pentas kesenian warga, mujahadah, hingga pertunjukan wayang kulit sebagai penutup rangkaian acara.
Ia menyebut pelaksanaan kegiatan tersebut mendapat dukungan besar dari masyarakat, termasuk dalam hal pembiayaan.
“Warga secara sukarela mengumpulkan dana untuk menyukseskan acara ini. Desa hanya membantu semampunya,” ujarnya.
Selain menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya, kirab tersebut juga digelar untuk memeriahkan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dodit berharap kegiatan tersebut dapat mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus menjaga keberadaan budaya lokal.
Namun, menurutnya, pesan yang tidak kalah penting dari kegiatan tersebut adalah menjaga kelestarian alam Pegunungan Menoreh agar tetap hijau dan mampu menopang kehidupan masyarakat.
“Harapannya silaturahmi semakin erat dan budaya lokal tetap lestari. Yang lebih penting, alam juga harus kita jaga agar tetap hijau, makmur dan sejahtera,” katanya.
Tokoh masyarakat Ngargoretno, Shoim, menjelaskan bahwa tradisi merti desa melalui Ruwat Rawat Menoreh pada dasarnya merupakan bentuk refleksi hubungan manusia dengan alam.
“Artinya untuk menerjemahkan hubungan manusia dengan alam,” ujar Shoim.
Selain sebagai ungkapan syukur, momentum tersebut juga dimanfaatkan masyarakat untuk memperkenalkan potensi lokal melalui kirab. Gunungan sayuran, tumpeng dan replika UFO Menoreh menjadi sejumlah potensi yang ditampilkan kepada masyarakat.
Antusiasme warga terlihat saat prosesi gerebeg gunungan berlangsung. Salah seorang warga, Ria Noviana, mengaku senang dapat memperoleh hasil bumi dari gunungan tersebut.
Sambil menggendong anaknya yang masih berusia enam bulan, Ria ikut berada di tengah kerumunan warga yang berebut sayuran.
“Alhamdulillah dapat terong, wortel, bahkan ada uangnya juga,” kata Ria.
Ia mengatakan keikutsertaannya dalam gerebeg gunungan bukan semata-mata untuk mendapatkan hasil bumi, tetapi juga berharap memperoleh keberkahan dari sedekah warga yang berasal dari hasil pertanian masyarakat.
Melalui Ruwat Rawat Menoreh VI, masyarakat Desa Ngargoretno tidak hanya mempertahankan tradisi yang telah berkembang di tengah masyarakat, tetapi juga menjadikannya ruang untuk memperkenalkan potensi desa serta menguatkan pesan tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, budaya dan alam.












