Malang, JadiKabar. Com– Potensi kunyit dan temulawak sebagai bahan herbal mendorong Dr. Anitarakhmi Handaratri, ST., MT., melakukan inovasi melalui pendekatan teknologi nano. Dosen Program Studi Teknik Kimia S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) tersebut berhasil meraih gelar doktor di bidang Teknik Kimia (Teknologi Proses) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Juli 2026.
Riset yang dilakukan Anitarakhmi berfokus pada pengembangan nanopartikel kurkumin, senyawa bioaktif yang terdapat dalam kunyit dan temulawak. Melalui penelitian tersebut, ukuran kurkumin diperkecil hingga skala nanometer untuk meningkatkan kelarutan sekaligus memperbesar peluang senyawa tersebut diserap tubuh.
Penelitian ini dilatarbelakangi persoalan rendahnya kelarutan kurkumin dalam air. Selama ini, kunyit maupun temulawak umumnya dikonsumsi dengan cara direbus. Padahal, kurkumin memiliki sensitivitas terhadap panas dan cahaya serta tingkat kelarutan air yang rendah.
“Kalau diolah dengan cara direbus, senyawa aktifnya berisiko mengalami penurunan karena terpapar panas. Karena itu, kami mencoba mencari pendekatan teknologi agar manfaat kurkumin bisa lebih optimal ketika dikonsumsi,” kata Anitarakhmi saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang.
Dalam penelitiannya, kurkumin berukuran mikrometer direkayasa menjadi partikel berukuran sekitar 100–350 nanometer. Proses tersebut dilakukan menggunakan metode ultrasound-assisted liquid antisolvent (UALA) yang memadukan teknologi ultrasonik dengan sistem antisolven.
Kurkumin terlebih dahulu dilarutkan menggunakan diklorometana (DCM) atau aseton. Larutan kemudian diinjeksikan ke dalam air yang berfungsi sebagai antisolven sambil dilakukan pengadukan mekanis berkecepatan tinggi. Variasi suhu dan waktu proses digunakan untuk memperoleh karakteristik nanopartikel yang optimal.
Gelombang ultrasonik dalam proses tersebut membantu mempercepat pembentukan inti partikel sekaligus mengurangi kecenderungan partikel untuk kembali bergabung atau menggumpal.
Menurut Anitarakhmi, salah satu keunggulan pendekatan tersebut terletak pada penggunaan teknologi yang relatif sederhana dibandingkan sejumlah metode lain yang membutuhkan peralatan lebih kompleks dan biaya tinggi.
“Kami mencoba menggunakan pendekatan yang lebih sederhana dan ramah proses. Tantangannya adalah bagaimana merancang alat pengaduk mekanis sendiri serta memastikan proses injeksi cairan berlangsung konsisten,” jelasnya.
Penelitian kemudian dikembangkan dengan menambahkan lesitin sebagai bahan alami untuk melapisi nanopartikel kurkumin. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan lesitin mampu meningkatkan stabilitas produk.
Nanokurkumin yang dihasilkan tetap menunjukkan tingkat disolusi hingga 84,20 persen setelah diuji pada kondisi pH 1,2 dan pH 7,4. Stabilitas tersebut juga tetap terjaga selama penyimpanan hingga 30 hari.
Selain peningkatan kelarutan, penelitian tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas antioksidan. Hasil pengujian memperlihatkan nilai IC₅₀ nanokurkumin meningkat lebih dari 15 kali dibandingkan kurkumin biasa yang tidak mendapatkan perlakuan ultrasonik.
Perjalanan menyelesaikan pendidikan doktoral juga diwarnai sejumlah tantangan. Salah satunya ketika artikel ilmiah hasil penelitian pertama yang diajukan Anitarakhmi beberapa kali mendapat penolakan dari jurnal internasional.
Namun, proses tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan akademiknya. Setelah melalui sejumlah perbaikan, penelitian berikutnya berhasil dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q1 dan Q2.
“Paper pertama sempat beberapa kali ditolak sehingga harus banyak dilakukan revisi. Dari situ kami belajar memperbaiki penelitian dan penulisannya. Alhamdulillah, untuk paper berikutnya bisa diterima,” ujarnya.
Ke depan, hasil penelitian tersebut diharapkan tidak berhenti pada skala laboratorium. Anitarakhmi ingin mengembangkan kajian kinetika disolusi dan pemodelan Response Surface Methodology (RSM) menuju tahap perancangan peralatan produksi.
Menurutnya, masukan dari para penguji doktoral juga membuka peluang agar penelitian tersebut dikembangkan lebih jauh menuju proses produksi berskala industri.
“Harapannya penelitian ini bisa dikembangkan sampai ke tahap rekayasa alat produksi. Jika memungkinkan, hasil akhirnya dapat diaplikasikan menjadi produk seperti kapsul atau minuman herbal fungsional yang lebih mudah dikonsumsi masyarakat,” pungkasnya.
Keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat kontribusi dosen ITN Malang dalam mengembangkan inovasi teknologi berbasis sumber daya alam lokal. Riset nanokurkumin diharapkan menjadi salah satu langkah untuk mengolah bahan herbal Indonesia menjadi produk bernilai tambah melalui pendekatan teknologi proses.












