Sidoarjo, JADIKABAR – Sebanyak 1.125 Pramuka Siaga dari berbagai sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sidoarjo mengikuti Pesta Siaga Cabang Sidoarjo 2026 di Bumi Perkemahan Tanjek Wagir, Sidoarjo, Minggu (9/8/2026).
Kegiatan yang dibuka Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana tersebut tidak sekadar menjadi ajang permainan dan perlombaan bagi anak-anak. Tahun ini, Pesta Siaga dikemas dengan konsep yang sekaligus mengenalkan kearifan budaya lokal Sidoarjo melalui tema “Pencarian Harta Karun Jenggala”.
Konsep tersebut membuat kegiatan Pramuka Siaga terasa berbeda. Para peserta diajak berpetualang melewati sejumlah tantangan, memecahkan permainan, mengasah kreativitas, sekaligus mengenal kembali nilai-nilai budaya yang berkembang di daerah mereka.
Peserta berasal dari siswa kelas I hingga IV SD se-Kabupaten Sidoarjo. Mereka terbagi dalam 125 barung yang masing-masing beranggotakan sekitar delapan anak dan didampingi seorang pembina.
Dengan demikian, Pesta Siaga tahun ini bukan hanya menghadirkan aktivitas permainan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran karakter bagi anak-anak sejak usia dini.
“Harta Karun” yang Dicari Bukan Emas
Saat membuka kegiatan, Wabup Mimik Idayana mengajak para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh kegembiraan.
Ia memberikan gambaran bahwa istilah “harta karun” dalam kegiatan tersebut tidak berkaitan dengan emas, uang, ataupun benda berharga lainnya.
Menurut Mimik, harta karun yang sesungguhnya justru berupa nilai-nilai karakter yang akan menjadi bekal penting bagi anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau dengar kata-kata harta karun, mungkin yang kalian bayangkan adalah emas atau uang yang banyak. Tapi di sini tidak. Kita akan mencari harta karun yang jauh lebih berharga, yaitu kejujuran, keberanian, kedisiplinan, kerja sama, kepedulian, kreativitas, dan tanggung jawab,” ujar Mimik.
Pesan tersebut menjadi salah satu inti dari pelaksanaan Pesta Siaga Cabang Sidoarjo 2026.
Melalui berbagai permainan dan tantangan, anak-anak tidak hanya dituntut menyelesaikan tugas secara individu. Mereka juga belajar berkomunikasi, bekerja sama, membantu teman, serta menghargai perbedaan.
Mimik berharap pengalaman selama kegiatan dapat menjadi pembelajaran yang menyenangkan sekaligus membentuk karakter positif para peserta.
Ia juga meminta Pramuka Siaga tidak takut menghadapi tantangan dan berani mencoba hal-hal baru.
“Kalau ada teman yang kesulitan, kita bantu. Kalau ada teman yang belum bisa, kita ajari. Kalau ada perbedaan, kita juga harus saling menghargai,” pesannya.
Ketua Pelaksana Pesta Siaga Cabang Sidoarjo 2026, Ifa Ratnasari, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.125 peserta.
Peserta terdiri atas 125 barung yang berasal dari SD se-Kabupaten Sidoarjo dan melibatkan 18 Kwartir Ranting.
Setiap barung beranggotakan enam hingga delapan anak. Dalam pelaksanaannya, setiap kelompok juga mendapatkan pendampingan dari pembina.
Menurut Ifa, kegiatan dirancang agar anak-anak memperoleh pengalaman belajar melalui pendekatan bermain. Berbagai permainan dibuat dalam sejumlah anjungan dan pos yang harus diselesaikan oleh peserta.
“Barung itu adalah satuan terkecil dalam kelompok Pramuka Siaga yang beranggotakan enam sampai delapan anak. Pesertanya dari seluruh sekolah SD se-Kabupaten Sidoarjo dan diikuti 18 Kwartir Ranting,” jelasnya.
Berbagai tantangan disiapkan untuk peserta. Di antaranya permainan melempar bola ke keranjang, pemecahan sandi, menyusun puzzle, aktivitas jual beli di kedai, scouting skill, hingga membuat kreasi gambar anyaman.
Seluruh kegiatan tersebut dibagi ke dalam lima anjungan dengan total 10 pos.
Setiap pos memiliki tantangan berbeda. Peserta dituntut menggunakan kemampuan berpikir, kreativitas, ketelitian, keberanian, hingga kemampuan bekerja sama dengan anggota barung.
Salah satu kegiatan yang menarik adalah Bakul Lepau atau Kedai Jenggala.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya penyelenggara memasukkan unsur budaya lokal ke dalam aktivitas permainan sehingga peserta dapat mengenal sejarah dan budaya daerah dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak-anak.
“Jadi kegiatan ini bukan hanya menumbuhkan motivasi belajar adik-adik, tapi juga meningkatkan daya kreativitas dari adik-adik,” kata Ifa.
Pemilihan tema “Pencarian Harta Karun Jenggala” bukan tanpa alasan.
Ifa mengatakan tema tersebut dipilih sebagai salah satu cara memperkenalkan kembali sejarah dan kearifan lokal Sidoarjo kepada generasi muda.
Nama Jenggala memiliki keterkaitan erat dengan sejarah kawasan Jawa Timur pada masa kerajaan-kerajaan Jawa kuno. Dalam perkembangan sejarahnya, wilayah yang kini dikenal sebagai Sidoarjo berada dalam kawasan yang memiliki jejak penting dalam perjalanan sejarah Jawa Timur.
Konteks sejarah tersebut kemudian dikemas secara lebih sederhana agar dapat diterima oleh anak-anak usia sekolah dasar.
Alih-alih memberikan pembelajaran sejarah melalui metode konvensional, nilai-nilai sejarah dan budaya lokal diperkenalkan melalui permainan, tantangan, serta aktivitas kelompok.
Menurut Ifa, pendekatan tersebut penting karena generasi muda perlu mengenal lingkungan dan sejarah daerahnya sejak dini.
Ia menilai perkembangan zaman dan derasnya arus informasi membuat anak-anak semakin mudah mengenal berbagai budaya dari luar, sementara pengetahuan mengenai sejarah daerah sendiri perlu terus diperkuat.
Karena itu, Pesta Siaga menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan kembali identitas lokal melalui kegiatan yang menyenangkan.
“Lewat Pesta Siaga, adik-adik selain berkegiatan, belajar, dan bermain, juga bisa mengenal nilai-nilai budaya yang ada di Kabupaten Sidoarjo,” ujarnya.
Kegiatan Pramuka sejak lama tidak hanya diarahkan untuk memberikan keterampilan praktis kepada peserta didik. Pendidikan kepramukaan juga menekankan pembentukan karakter, kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Pada jenjang Pramuka Siaga, pendekatan pendidikan tersebut disesuaikan dengan usia anak. Kegiatan dibuat lebih banyak melalui permainan dan pengalaman langsung sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara menyenangkan.
Pesta Siaga menjadi salah satu bentuk kegiatan yang memadukan unsur pendidikan, rekreasi, kreativitas, dan kebersamaan.
Di Sidoarjo, konsep tersebut kemudian diperkaya dengan unsur budaya lokal. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengalaman sebagai anggota Pramuka, tetapi juga memperoleh kesempatan mengenal identitas daerahnya.
Bagi Pemkab Sidoarjo, kegiatan seperti Pesta Siaga memiliki nilai strategis dalam pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini.
Karakter seperti kejujuran, keberanian, disiplin, kepedulian, kreativitas, dan tanggung jawab tidak cukup hanya diajarkan melalui teori. Anak-anak juga membutuhkan pengalaman langsung agar nilai tersebut dapat dipahami dan diterapkan.
Dalam permainan kelompok, misalnya, anak belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pribadi. Mereka harus mendengarkan teman, berbagi tugas, menghargai pendapat, serta membantu anggota kelompok yang mengalami kesulitan.
Pesan yang disampaikan Wabup Mimik juga memperlihatkan bahwa semangat kegiatan tidak diletakkan semata-mata pada siapa yang menjadi pemenang.
Lebih dari itu, proses belajar, keberanian mencoba, pengalaman baru, persahabatan, dan kemampuan bekerja sama menjadi “harta karun” yang diharapkan dibawa pulang oleh setiap peserta.
Pengangkatan tema Jenggala juga menunjukkan adanya upaya menghubungkan pendidikan generasi muda dengan sejarah daerah.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi informasi, pengenalan budaya lokal menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak kini memiliki akses luas terhadap berbagai informasi dari luar daerah maupun luar negeri.
Karena itu, pengenalan sejarah lokal dapat menjadi bagian dari upaya menjaga identitas dan rasa memiliki terhadap daerah.
Pesta Siaga Cabang Sidoarjo 2026 mencoba menjawab tantangan tersebut melalui cara yang sederhana: belajar sejarah sambil bermain.
Dengan konsep tersebut, budaya lokal tidak ditempatkan sebagai materi yang kaku, melainkan menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak.
Pada akhirnya, “Pencarian Harta Karun Jenggala” bukan hanya cerita mengenai permainan di bumi perkemahan. Kegiatan tersebut menjadi simbol bagaimana generasi muda Sidoarjo diajak menemukan “harta” yang lebih penting daripada benda berharga, yakni karakter, persahabatan, keterampilan, serta pengetahuan tentang daerahnya sendiri.












