Berita  

5 Tempat yang Paling Banyak Dikunjungi Saat Malam 1 Suro, Dari Pantai Selatan hingga Gunung Keramat

Avatar photo
5 Tempat yang Paling Banyak Dikunjungi Saat Malam 1 Suro, Dari Pantai Selatan hingga Gunung Keramat
Foto Istimewa humas Jateng. Artikel 5 Tempat yang Paling Banyak Dikunjungi Saat Malam 1 Suro, Dari Pantai Selatan hingga Gunung Keramat

Solo, JADIKABAR.COM – Malam 1 Suro selalu menghadirkan suasana berbeda di berbagai daerah di Pulau Jawa. Bagi sebagian masyarakat, malam pergantian Tahun Baru Jawa ini menjadi momentum untuk introspeksi diri, tirakat, berdoa, hingga berziarah ke tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi.

Tradisi Malam 1 Suro sendiri berawal dari penanggalan Jawa yang disusun oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1633 Masehi dengan menggabungkan unsur kalender Jawa dan Hijriah. Sejak saat itu, malam 1 Suro berkembang menjadi salah satu momen penting dalam budaya Jawa yang identik dengan ritual, laku prihatin, dan perenungan diri.

Di antara banyak lokasi yang menjadi tujuan masyarakat, terdapat sejumlah tempat yang hampir selalu dipadati peziarah dan pelaku ritual setiap malam 1 Suro.

1. Pantai Parangkusumo, Yogyakarta

Pantai Parangkusumo dikenal sebagai salah satu lokasi ritual paling terkenal saat Malam 1 Suro. Kawasan pesisir selatan ini memiliki keterkaitan kuat dengan tradisi Keraton Yogyakarta dan legenda penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

Sejak ratusan tahun lalu, kawasan ini menjadi lokasi pelaksanaan ritual Labuhan, yakni tradisi melarung sesaji sebagai simbol doa dan rasa syukur. Saat malam 1 Suro, ribuan orang datang untuk melakukan tirakat, semedi, doa bersama, hingga ritual budaya yang diwariskan turun-temurun.

Bagi masyarakat Jawa, Parangkusumo bukan sekadar pantai, melainkan ruang budaya yang menyimpan sejarah panjang hubungan antara kerajaan Mataram dan pesisir selatan Jawa.

2. Gunung Kawi, Malang

Setiap malam 1 Suro, kawasan Gunung Kawi di Kabupaten Malang dipenuhi peziarah dari berbagai daerah bahkan luar negeri.

Lokasi ini dikenal sebagai tempat makam tokoh perjuangan Jawa, yakni Kanjeng Kyai Zakaria II atau Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono. Tradisi 1 Suro di Gunung Kawi biasanya diisi dengan kirab pusaka, sedekah bumi, doa bersama, pertunjukan budaya, hingga ziarah makam.

Popularitas Gunung Kawi sebagai tujuan spiritual membuat kawasan ini selalu menjadi salah satu titik terpadat setiap memasuki Tahun Baru Jawa.

3. Keraton Surakarta dan Jalur Kirab 1 Suro

Jika berbicara tentang Malam 1 Suro, nama Kota Solo hampir tidak pernah absen.

Ribuan warga memadati kawasan Keraton Surakarta untuk menyaksikan Kirab Pusaka dan arak-arakan Kebo Bule Kyai Slamet yang menjadi simbol tradisi keraton.

Kirab ini dilaksanakan dalam suasana hening atau tapa bisu sebagai bentuk laku spiritual. Tradisi tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi salah satu ikon budaya paling terkenal di Indonesia.

Banyak masyarakat percaya bahwa mengikuti kirab atau sekadar menyaksikannya menjadi bagian dari refleksi diri saat memasuki tahun baru Jawa.

4. Makam Raja-Raja Imogiri, Yogyakarta

Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri merupakan tempat peristirahatan para raja Mataram Islam, termasuk Sultan Agung.

Saat Malam 1 Suro, banyak peziarah datang untuk berdoa dan melakukan tirakat. Tangga panjang menuju kompleks makam yang berada di atas bukit menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang dijalani para peziarah.

Nilai sejarah yang kuat membuat Imogiri menjadi salah satu destinasi spiritual terpenting di Jawa hingga saat ini.

5. Gunung Lawu, Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur

Gunung Lawu telah lama dikenal sebagai salah satu gunung yang memiliki nilai spiritual tinggi dalam budaya Jawa.

Setiap Malam 1 Suro, banyak pendaki dan peziarah melakukan perjalanan menuju kawasan puncak maupun situs-situs bersejarah seperti Candi Cetho dan Candi Sukuh.

Tradisi tirakat, doa bersama, hingga semedi menjadi aktivitas yang umum dilakukan. Gunung Lawu juga memiliki keterkaitan sejarah dengan akhir perjalanan hidup Prabu Brawijaya V yang membuat kawasan ini semakin lekat dengan nuansa spiritual masyarakat Jawa.

Malam 1 Suro sering kali dikaitkan dengan hal-hal mistis. Namun para budayawan menilai bahwa esensi utama peringatan ini sebenarnya adalah introspeksi diri, pengendalian hawa nafsu, serta penghormatan terhadap sejarah dan budaya leluhur.

Karena itu, tempat-tempat yang ramai dikunjungi saat Malam 1 Suro bukan hanya dianggap sakral oleh sebagian masyarakat, tetapi juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan tradisi yang masih bertahan hingga sekarang.

Di tengah modernisasi, ribuan orang masih datang setiap tahun untuk mencari ketenangan, menjalani tirakat, atau sekadar menyaksikan warisan budaya yang telah hidup selama berabad-abad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi