MALANG, JADIKABAR – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang menggelar kegiatan “Diskusi Pancasila #4” dengan agenda bedah buku Suluh Pancasila Bung Karno: Berdaulat, Berdikari, Berkepribadian, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung B31 UM tersebut menghadirkan penulis buku Angga Sukmara C. Permadi serta pembedah buku Zulfikar Waliyuddin Fattah. Diskusi membahas tantangan kebangsaan di tengah arus globalisasi, terutama terkait krisis identitas nasional dan melemahnya nilai budaya lokal pada generasi muda. Tema tersebut menjadi sorotan utama karena dinilai relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.
Dalam pemaparannya, Angga menyampaikan bahwa bangsa Indonesia sedang menghadapi ancaman krisis identitas akibat derasnya pengaruh modernisasi dan budaya global. Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat perlahan menjauh dari akar budaya dan nilai kebangsaan.
Ia menilai Pancasila perlu kembali ditempatkan sebagai kompas moral bangsa. Angga menjelaskan bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara, tetapi juga menjadi ruh dalam membangun karakter masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Selain itu, Angga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan sejarah dengan leluhur bangsa. Ia menegaskan bahwa hilangnya identitas nasional dapat membuat masyarakat lebih mudah dipengaruhi budaya asing tanpa proses penyaringan nilai yang kritis.
Dalam diskusi tersebut, Angga juga menyinggung filosofi Aji Saka dan aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka sebagai simbol perjalanan hidup manusia. Menurutnya, filosofi tersebut mengajarkan pentingnya kebijaksanaan, pengendalian diri, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan.
Sementara itu, Zulfikar Waliyuddin Fattah menilai buku karya Angga berhasil menghadirkan sudut pandang historis dan filosofis mengenai lahirnya Pancasila. Ia menyebut buku tersebut membuka narasi tentang Shaka-Dvipa yang menggambarkan Nusantara sebagaipewaris peradaban luhur.
Zulfikar menjelaskan bahwa buku tersebut mengajak pembaca memahami Pancasila sebagai hasil perenungan mendalam para pendiri bangsa, bukan sekadar adopsi ideologi asing.
Ia juga menyoroti gagasan Pancasila sebagai ideologi penyeimbang yang menawarkan nilai perdamaian di tengah konflik global. Menurut Zulfikar, relevansi buku semakin terlihat pada era digital dan kecerdasan buatan saat ini. Ia menilai prinsip Trisakti penting untuk menjaga kedaulatan data, memperkuat kemandirian ekonomi nasional, serta mengatasi krisis identitas generasi muda di tengah dominasi budaya global.

di Era Globalisasi












