Jadikabar.com – Pagi itu, langit Sidoarjo terasa berbeda. Tak hanya gema takbir yang mengalun dari Masjid Agung, tapi juga ada rasa hangat tentang kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi yang benar-benar terasa sampai ke hati masyarakat.
Usai melaksanakan salat Idul Adha bersama jajaran Forkopimda dan OPD, Bupati Sidoarjo Subandi menyerahkan satu ekor sapi kurban berbobot hampir 800 kilogram kepada takmir Masjid Agung Sidoarjo. Sapi jumbo itu langsung jadi perhatian warga. Bukan cuma karena ukurannya yang besar, tapi juga karena makna di balik penyerahannya tentang berbagi kebahagiaan kepada sesama.
Di momen Idul Adha 1447 Hijriah ini, suasana di Masjid Agung Sidoarjo terasa begitu hidup. Warga datang silih berganti, anak-anak berlarian kecil sambil melihat hewan kurban, sementara orang tua saling bersalaman penuh hangat setelah salat Id. Aroma khas pagi Idul Adha bercampur dengan rasa syukur yang sederhana namun begitu bermakna.
Menariknya, bantuan sapi kurban dari Presiden RI Prabowo Subianto berbobot 1,2 ton justru tidak disalurkan di pusat kota. Sapi bantuan Presiden itu sengaja diarahkan ke wilayah pinggiran Kecamatan Jabon. Sebuah langkah yang dinilai lebih membumi dan menyentuh masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Menurut Bupati Subandi, kawasan perkotaan dinilai sudah cukup banyak menerima hewan kurban. Karena itu, distribusi ke daerah terpencil dianggap lebih tepat agar kebahagiaan Idul Adha bisa dirasakan lebih merata.
Dan di situlah letak makna kurban yang sesungguhnya. Bukan soal siapa yang paling besar sapinya, bukan siapa yang paling ramai perayaannya, tapi tentang bagaimana kebahagiaan itu bisa sampai ke rumah-rumah sederhana yang mungkin selama setahun jarang menikmati daging kurban.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, Idul Adha di Sidoarjo tahun ini seperti mengingatkan satu hal penting bahwa guyub, rukun, dan peduli sesama masih menjadi identitas paling kuat masyarakat.
Bupati Subandi pun mengajak masyarakat untuk terus menjaga kekompakan dan silaturahmi. Sebab menurutnya, daerah akan maju jika masyarakatnya tetap damai dan saling mendukung satu sama lain.
Dan mungkin benar, di tengah dunia yang makin sibuk dan individualis, hal-hal sederhana seperti berbagi daging kurban, saling menyapa setelah salat Id, atau memastikan warga pinggiran ikut merasakan kebahagiaan justru menjadi sesuatu yang paling mahal nilainya hari ini.












