SURAKARTA, JadiKabar.com – Tradisi Malam 1 Suro di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali berlangsung khidmat dan penuh makna.
Ritual tahunan yang menjadi bagian dari warisan budaya Jawa tersebut sukses menyedot perhatian ribuan masyarakat dari berbagai daerah, baik dari Kota Solo maupun luar kota yang sengaja datang untuk mengikuti rangkaian prosesi sakral pergantian Tahun Baru Jawa.
Sejak sore hingga malam hari, kawasan Keraton Kasunanan Surakarta dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung berbagai agenda tradisi yang telah menjadi bagian penting dari budaya Jawa selama berabad-abad.
Antusiasme warga terlihat begitu tinggi, menunjukkan bahwa Malam 1 Suro masih memiliki daya tarik kuat di tengah perkembangan zaman.
Berbagai dinamika yang belakangan muncul terkait kepemimpinan di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta tidak memengaruhi jalannya prosesi adat. Seluruh rangkaian kegiatan tetap berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
Salah satu tokoh yang turut hadir dalam peringatan tersebut adalah Ketua Pakasa Malang Raya, Kanjeng Raden Aryo (KRA) Dwi Indrotito Cahyono, SH.,MM,.Ia secara khusus datang ke Surakarta untuk mengikuti seluruh rangkaian tradisi yang hanya digelar sekali dalam setahun tersebut.
Menurut KRA. Dwi Indrotito Cahyono, SH., MM. , kecintaannya terhadap budaya dan tradisi Jawa menjadi alasan utama dirinya hadir dan mengikuti prosesi hingga selesai pada dini hari.
“Rasa cinta yang mendalam terhadap budaya Jawa membuat saya tergerak untuk mengikuti peringatan Malam 1 Suro yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta,” ujarnya, Rabu dini hari (17/6/2026).
Ia menilai peringatan Malam 1 Suro bukan sekadar seremoni budaya, melainkan juga menjadi momentum refleksi diri, introspeksi, serta penguatan nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, KRA Dwi Indrotito SH., MM. Juga mengaku bersyukur karena mendapatkan kehormatan untuk turut membopong salah satu pusaka keraton dalam prosesi kirab yang melibatkan 14 pusaka.
“Saya bersyukur malam ini diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk membopong salah satu dari 14 pusaka yang dikirabkan. Ini merupakan kehormatan yang sangat berharga bagi saya,” tuturnya usai acara.
Kehadiran para budayawan, tokoh masyarakat, serta ribuan warga dari berbagai daerah dalam peringatan Malam 1 Suro menjadi bukti bahwa tradisi ini masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Selain sebagai agenda budaya, peringatan tersebut juga menjadi simbol pelestarian nilai-nilai luhur bangsa yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.












