Surabaya, JadiKabar. Com– Keberanian berbicara di depan banyak orang tidak selalu lahir dari rasa percaya diri sejak awal. Hal itu justru menjadi bagian dari perjalanan Septiyani, perempuan yang kini aktif sebagai Master of Ceremony (MC), public speaker, pemimpin organisasi, sekaligus womenpreneur.
Jauh sebelum terbiasa tampil di atas panggung dan memandu berbagai kegiatan, Septiyani mengaku pernah menjadi pribadi yang cenderung pendiam. Berbicara di hadapan banyak orang bahkan menjadi salah satu hal yang membuatnya merasa gugup dan tidak percaya diri.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya memilih untuk menghindar. Septiyani justru menjadikan rasa takut sebagai tantangan yang harus dihadapi secara bertahap. Berbagai kesempatan untuk tampil, belajar, dan berlatih terus dimanfaatkannya hingga kemampuan komunikasi yang dimiliki semakin terasah.
Kini, pengalaman tersebut mengantarkannya menjadi sosok yang aktif di berbagai forum, baik sebagai MC maupun pembicara. Dalam sekitar tiga tahun, Septiyani telah terlibat dalam lebih dari 500 kegiatan dan dipercaya menjadi MC serta pembicara dalam lebih dari 300 acara.
Pengalamannya juga tidak hanya berkutat pada dunia komunikasi publik. Septiyani memiliki rekam jejak di sejumlah sektor profesional, mulai dari perbankan, pemerintahan hingga perusahaan rintisan. Pengalaman tersebut memperkaya kemampuannya dalam kepemimpinan, manajemen proyek, pengelolaan pemangku kepentingan, hingga pengembangan strategi bisnis.
Di tengah kesibukannya, Septiyani tetap memberikan perhatian besar terhadap pendidikan. Saat ini, ia sedang menempuh Program Magister Ilmu Ekonomi di Universitas Airlangga Surabaya dengan konsentrasi pada analisis strategis dan manajemen kinerja.
Sebelumnya, ia menuntaskan pendidikan sarjana di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan berhasil meraih predikat Cumlaude pada 2024.
Kemampuan kepemimpinan Septiyani juga teruji melalui keterlibatannya dalam berbagai organisasi. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Umum KOHATI Cabang Surabaya serta Sekretaris Umum HMI Korkom UNESA.
Saat ini, Septiyani turut aktif di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Surabaya. Ia dipercaya mengemban sejumlah peran, di antaranya Kepala Bidang PSDO HIPMI PT UNESA serta bagian Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi (OKK) HIPMI PT Jawa Timur.
Bagi Septiyani, pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang. Ia tidak melihat kemampuan komunikasi sebagai sesuatu yang hanya dimiliki orang-orang tertentu sejak lahir. Menurutnya, kemampuan berbicara di depan publik dapat dibangun melalui keberanian mencoba, latihan, serta kesediaan untuk terus belajar.
“Dulu saya sangat pendiam dan tidak percaya diri ketika harus berbicara di depan umum. Untuk memperkenalkan diri saja terasa sulit. Tetapi saya kemudian belajar bahwa rasa takut tidak boleh menjadi penghalang untuk berkembang. Saya mulai berlatih dan menerima kesempatan untuk menjadi MC maupun pembicara, meskipun pada awalnya tetap merasa gugup,” ujar Septiyani.
Ia menilai pengalaman tampil dari satu panggung ke panggung lainnya justru menjadi proses penting dalam membentuk kepercayaan diri. Setiap kesempatan menjadi ruang belajar untuk memperbaiki kemampuan sekaligus memahami karakter audiens yang berbeda-beda.
“Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah ketika kita tetap memilih untuk melangkah meskipun rasa takut itu masih ada,” lanjutnya.
Bagi Septiyani, komunikasi juga tidak berhenti pada kemampuan menyampaikan pesan. Seorang komunikator harus mampu membangun kepercayaan, memahami lawan bicara, sekaligus memberikan nilai dan manfaat kepada orang lain.
Karena itu, kiprahnya sebagai MC dan public speaker terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan. Ia aktif berbagi pengalaman dengan mahasiswa, generasi muda, pelaku usaha, maupun komunitas melalui seminar, pelatihan dan forum kepemimpinan.
Perjalanan Septiyani menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari keberanian mengambil langkah kecil. Dari seseorang yang dahulu merasa takut berbicara di depan umum, kini ia mampu berdiri di berbagai panggung dan dipercaya memandu acara hingga tingkat regional dan nasional.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan sesuatu yang harus diterima sebagai titik akhir. Dengan kemauan belajar, konsistensi, dan keberanian mengambil kesempatan, rasa takut dapat diubah menjadi modal untuk berkembang.
Bagi generasi muda, Septiyani ingin membagikan pesan sederhana: jangan menunggu percaya diri untuk mulai melangkah. Justru dengan berani mencoba dan terus berproses, rasa percaya diri akan tumbuh seiring pengalaman.












