Malang, JadiKabar. Com – Festival budaya Malang Djadoel 3 resmi dibuka di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang, Selasa (30/6/2026). Mengusung tema “Semakin Classic, Semakin Asyik”, ajang yang berlangsung hingga 5 Juli 2026 ini menghadirkan beragam pertunjukan seni tradisional, bazar barang antik, kuliner khas tempo dulu, pameran keris dan lukisan, hingga hiburan rakyat yang sarat nilai budaya.
Pembukaan festival dilakukan oleh KRA Dwi Indrotito Cahyono, S.H., M.M., atau yang akrab disapa Sam Tito. Dalam sambutannya, advokat senior Malang Raya yang juga Presiden Direktur Kantor Hukum Yustitia Indonesia tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan budaya sebagai identitas bangsa.
Menurut Sam Tito, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama, terlebih di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang dapat mengikis kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur.
“Budaya adalah jati diri bangsa. Jika kita tidak merawatnya, maka generasi mendatang hanya akan mengenalnya melalui cerita. Karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mencintai, menjaga, dan melestarikan budaya Indonesia melalui berbagai cara, salah satunya dengan menghadiri dan mendukung event seperti Malang Djadoel,” ujarnya.
Ia menilai Malang Djadoel bukan sekadar festival hiburan, melainkan ruang edukasi yang mampu mempertemukan berbagai generasi. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak hingga kalangan muda dapat mengenal permainan tradisional, kesenian daerah, serta berbagai peninggalan budaya yang menjadi bagian penting dari sejarah bangsa.
“Melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan slogan. Harus ada aksi nyata. Event seperti ini menjadi media yang efektif untuk mengenalkan warisan budaya kepada masyarakat luas sekaligus memberikan ruang bagi para pelaku seni, UMKM, dan komunitas budaya agar terus berkembang,” tambahnya.
Selama enam hari penyelenggaraan, pengunjung dapat menikmati beragam atraksi budaya seperti Reog, Bantengan, Jaranan, Rampak Barong, Barongsai, Tari Topeng Malangan, Wayang Suket, film layar tancap, orkes jadul, hingga bazar UMKM dan kuliner tradisional yang membangkitkan nostalgia suasana tempo dulu.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak hari pertama pelaksanaan. Ribuan pengunjung memadati area festival untuk menyaksikan berbagai pertunjukan sekaligus berburu aneka produk UMKM dan kuliner khas yang ditawarkan para pelaku usaha lokal.
Selain menjadi destinasi wisata budaya, Malang Djadoel 3 diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif melalui pemberdayaan seniman, komunitas budaya, dan pelaku UMKM. Penyelenggara pun berharap festival ini terus berkembang menjadi agenda budaya tahunan yang mampu memperkuat posisi Kota Malang sebagai salah satu pusat pelestarian budaya sekaligus destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia.
Menutup sambutannya, Sam Tito kembali mengingatkan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bekal bagi generasi mendatang.
“Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi bekal untuk masa depan. Mari kita jaga bersama agar tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan bangsa,” pungkasnya.












