Cirebon, JadiKabar.com – Di tengah geliat pembangunan kota-kota besar di Indonesia, dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi kota yang maju, nyaman, bersih, dan membanggakan. Letaknya yang strategis sebagai jalur penghubung antarwilayah serta pusat perdagangan dan jasa menjadikan kota ini memiliki potensi ekonomi dan sosial yang terus berkembang dari tahun ke tahun.
Namun di balik besarnya potensi tersebut, masyarakat berharap pembangunan tidak hanya berhenti pada wacana dan slogan semata. Warga menginginkan hadirnya kepemimpinan yang fokus bekerja demi kepentingan masyarakat luas, bukan terjebak dalam konflik politik, pencitraan, maupun kepentingan kelompok tertentu.
Ketua (AUDI) Cirebon Raya, , menilai Kota Cirebon memiliki sumber daya dan potensi besar untuk berkembang menjadi kota modern yang tetap nyaman bagi masyarakat.
“Cirebon ini kota yang punya potensi luar biasa. Tinggal bagaimana para pemimpinnya mampu fokus bekerja dan benar-benar hadir untuk masyarakat, bukan sibuk dengan kepentingan pribadi atau konflik yang tidak memberikan manfaat untuk rakyat,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat saat ini sudah semakin kritis dalam menilai kinerja pemerintah. Warga tidak lagi mudah puas hanya dengan janji atau pencitraan politik, melainkan menunggu bukti nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Rakyat ingin melihat hasil. Jalan yang bagus, pelayanan cepat, ekonomi bergerak, lapangan pekerjaan terbuka, itu yang dibutuhkan masyarakat hari ini,” katanya.
Sebagai kota yang memiliki sejarah panjang sejak era perdagangan pesisir utara Jawa, dikenal sebagai daerah dengan kekuatan budaya, pariwisata, kuliner, hingga sektor jasa dan perdagangan. Potensi tersebut dinilai dapat berkembang lebih maksimal apabila ditopang tata kelola pemerintahan yang profesional dan solid.
RD Otong Suherman juga menekankan pentingnya komunikasi yang sehat di lingkungan pemerintahan daerah. Menurutnya, pembangunan tidak akan berjalan maksimal apabila para pemangku kebijakan lebih banyak disibukkan konflik internal dibanding memikirkan solusi bagi masyarakat.
“Sudah waktunya semua pihak duduk bersama membangun komunikasi yang baik. Kalau pemerintah solid dan bekerja dengan hati, masyarakat juga akan bangga dengan pemimpinnya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa jabatan publik merupakan amanah yang harus digunakan untuk membangun kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar mempertahankan ego maupun kepentingan kelompok tertentu.
Selain itu, dirinya berharap pemerintah daerah lebih banyak mendengar suara masyarakat kecil seperti pedagang, buruh, pemuda, pelaku UMKM, hingga warga di lingkungan perkampungan yang selama ini merasakan langsung dampak kebijakan pemerintah.
“Masyarakat tidak membutuhkan drama politik berkepanjangan. Yang dibutuhkan itu kerja nyata dan perubahan nyata,” tambahnya.
Pengamat tata kota menilai, kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya anggaran, tetapi juga oleh komitmen pemimpin dalam menjalankan amanah secara konsisten dan berpihak pada kepentingan publik.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, masyarakat berharap mampu berkembang menjadi kota yang lebih tertata, bersih, nyaman, dan memberikan kesejahteraan yang merata bagi seluruh warganya.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya menilai pemimpin dari kepiawaiannya berbicara, tetapi dari seberapa besar dampak nyata yang benar-benar dirasakan rakyat. (Ryo)












